Kami makan malam bersama di sebuah restoran tak jauh dari rumah orang tua Faza. Restoran ini memang tidak besar dan juga tidak mewah, tapi suasananya cukup untuk mempererat ikatan antar anak dan orang tua. Hangat sekali. Kalau aku tidak menahan diri, pasti aku sudah menangis sekarang.
Duduk disini bersama Faza dan juga orang tuanya, membuatku teringat masa lalu, ketika ayah dan ibu masih ada, ketika aku dan Kak Raina masih saling berebut perhatian dan membuat keributan. Tanganku bergetar tak kuasa menyuapkan sesendok makanan pun ke mulutku.
Perasaan ini, seharusnya aku senang bisa duduk dengan papa dan mamanya Faza, tapi tidak seperti yang kurasakan sekarang. Aku sangat berterimakasih kepada Faza, dialah pencair suasana, menyamarkan kesedihanku dari orangtuannya.
"Kamu boleh sedih sesukamu Alam, tapi jangan pernah sekali-kali lupa untuk bahagia, kamu bisa menganggap papa dan mama sebagai orang tua sendiri." Tampaknya Papa Faza memperhatikan kegelisahanku dari tadi. Lihatlah mereka, begitu tulus tersenyum kepadaku, seakan aku anggota keluarga mereka.
"Mengerti pa!" Aku mengangkat kepalaku dan mulai menyendok makanan masuk ke mulut, selera makanku kembali bagus. "Jangan salah arti yaa!" Faza di sudut meja lainnya mulai menggoda. "Bukannya kamu yang berpikir demikian." Aku pun hanya meliriknya, sambil tersenyum simpul, balas menggodanya.
Makan malam yang menyenangkan. Meskipun bukan bersama keluargaku yang sesungguhnya, tapi itu sudah cukup untuk mengobati rindu pada ayah dan ibu. Sementara Faza dan mamanya membongkar oleh oleh di dalam, aku dan Papa Faza duduk diteras, ditemani teh hangat.
"Papa tidak pernah melihat Faza seceria tadi, dia benar benar bahagia." Inilah yang aku takutkan, cepat atau lambat, topik pembicaraan ini akan datang dari Papa Faza. "Faza memang anak yang ceria pa, dia yang banyak membuatku tertawa."
Papa Faza juga tampak bahagia, meski sudah berumur, gurat tegas di mukanya tidak pernah hilang. "Papa sudah pensiun nak, semua tugasku sudah ku tuntaskan, tinggal satu lagi, semoga Tuhan memberikan panjang umur." Aku mencoba bersikap sewajarnya, tak bisa dipungkiri aku bingung menjawab yang satu ini.
"Kamu telah menepati janjimu nak, kamu telah menjadi hebat, lalu datang kepada Faza dengan gagah. Kamu sudah jauh melampaui aku. Papa bukan tipe orang yang suka bertanya Alam, lebih suka mencari tahu sendiri. Ketika Faza menceritakan tentang anak yang suka ribut dengannya, papa menjadi tertarik, baru kali itu dia bercerita tentang teman laki lakinya. Papa mencari tahu sendiri, benarkah segala kehebatan yang diceritakan Faza tentangmu?" Papa Faza menarik napas sejenak.
"Kini jawaban itu muncul, tak terbantahkan. Aku sebagai Papa Faza, meridhoi dunia akhirat hubungan kalian." Mendengar itu membuat dadaku sesak. Apa yang harus ku katakan. "Terimakasih pa." Tak kusangka hanya itu yang keluar dari mulutku, begitu bodohnya aku, begitu pengecutnya aku, tidak berani berterus terang.
Beliau kemudian menghabiskan tehnya, membawa gelas kosong masuk ke dalam dan berkata bahwa beliau sudah mengantuk dan ingin tidur. Aku masih terpaku dikursi ini, tak bergerak sedikitpun, memikirkan banyak hal. Bagaimana sedihnya Faza jika tahu dan bagaimana kecewanya orangtuanya terutama papa Faza jika tahu. Inilah kenapa kita tidak boleh melibatkan perasaan dalam misi, perasaan hanya akan menghambat langkah, membuat rasa ragu.
Tak lama Faza pun datang lalu ikut duduk di sampingku. "Apa yang kamu bicarakan sama papa?" Wajah itu begitu penasaran. Tak tega aku menyakiti wajah yang sudah menghiasi hatiku selama ini. "Papa kamu merestui hubungan kita lahir batin." Aku menoleh kepadanya, mencoba tersenyum se-natural mungkin, semoga dia tidak menyadari ada sesuatu yang ku sembunyikan.
Dia menutup wajah dengan kedua tangannya, wajahnya memerah lalu mengalihkan pandangan seolah olah malu kepadaku. Tiba tiba dia menatapku serius "Apa benar begitu?" Lucu sekali ekspresinya. Aku tersenyum dan mengangguk, dia kembali malu malu menutup wajah dengan tangan, dasar aneh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Danau Yang Menyimpan Kenangan
AksiyonKetika seseorang telah menempuh perjalanan yang sangat panjang, melelahkan, dan menyakitkan. Orang itu akan mulai mempertanyakan apa arti dari kehidupan ini, apa gunanya dia berjuang sampai sejauh ini dan apa yang dia perjuangkan benar benar sebandi...
