The devil and The angel

11.6K 1.9K 214
                                        

Sekar merasa kepalanya seperti mau meledak. Ia terbangun dengan rasa berat yang sangat menganggu. Selalu seperti ini jika malam harinya ia menangis sepertinya tadi malam. Ia bahkan sudah tau bagaimana bentuk wajahnya pagi ini. Pasti lebih mengerikan dari monster. 


Sekar melihat handphonenya yang ia non aktifkan tadi malam. Samar ia mulai mengurutkan semua kejadian yang terjadi semalam tapi belum sempat ia selesai mengurutkan semuanya, sebuah ketukan pintu yang lebih mirip dobrakan tidak jelas terdengar di luar. 



"SEKAR! BANGUN ATAU GUE DOBRAK KAMAR LO!" 


Ardan.


Sekar menghembuskan nafas lelahnya dan menebak-nebak kesalahan apa yang ia lakukan sampai membuat Ardan semarah ini di pagi hari ini. Tapi apapun alasannya, yang sekar harus persiapkan hanya mental. Karena sedikit atau banyak, ia akan mendapatkan "ganjaran" dari Ardan. 

Sekar harus siap dengan semuanya. Dan iapun sudah terbiasa. Entah sudah berapa banyak luka lebam di sekujur tubuhnya. Entah sudah berapa kali ia harus ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan dokter dengan mengarang cerita bahwa dirinya hanya jatuh--bukannya dipukul atau dianiaya

Sekar terlampau lelah untuk meminta bantuan karena tidak ada orang yang benar-benar peduli. Mereka hanya ingin tau tapi kemudian saat mereka sudah tau, mereka hanya akan meminta Sekar memutuskan Ardan. 


Mereka kira sesimple itu.


Andai. Andai semudah itu.



Sekar turun dari tempat tidurnya dan menuju pintu kamarnya yang memang ia kunci semalam. Mungkin tempat paling aman di apartemennya ini memang hanya pintu kamarnya karena pintunya memang sengaja Sekar design agar tidak mudah di dobrak.


Belum sempat Sekar melihat wajah Ardan, wajahnya sudah tertutup sesuatu. 

"JAKET SIAPA?! ITU JELAS BUKAN JAKET GUE!"


Sekar menatap jaket Aksa yang semalam ia jemur di beranda luar. Ia lupa bahwa hari ini ia akan bertemu dengan Ardan karena laki-laki ini ingin mengajak bertemu dengan orang tuanya. Sekar berusaha bersikap normal. Ia tidak ingin Ardan tau ketakutan dari dirinya. 

Alih-alih menjawab, Sekar berlalu menuju pantry untuk mengambil air minum. Tindakan yang jelas membuat Ardan makin tersulut emosi sehingga dengan sengaja menarik tangan Sekar agar berhadapan dengan dirinya. "Gue ngomong sama lo!"

Sekar memejamkan matanya singkat dan kemudian dengan keberaniannya, ia menatap mata mengerikan milik Ardan. "what do you want? slap me? punch me? for your reminder that today, we are going to meet your parents"


kemudian Sekar berusaha melapaskan cengkraman tangan Ardan untuk mengambil air minum. Sekar baru meneguk satu kali tegukan saat Ardan merebut mug Sekar dan melemparnya ke lantai dengan keras. Sekar otomatis menutup telinganya. Ia bisa merasakan kakinya tergores serpihan mug dan sekarang sudah pasti kakinya berdarah. Telinganya berdengung tapi Sekar menolak melemah. Ia, dengan beraninya, melewati pecahan beling dengan kaki telanjang menuju kamar mandi untuk membilas lukanya.


"LO GILA?! KAKI LO BERDARAH!" Ardan kembali berteriak yang membuat Sekar tersenyum ironis tanpa Ardan tau.

FriendmatesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang