Dua minggu setelah wisuda, Ryan belum kunjung mendapat kepastian tentang hubungannya dengan Freya. Padahal jika dihitung, sudah 3x lebih Ryan mengungkapkan perasaannya tapi Freya masih tetap dengan "pura-pura lupa"nya.
Pertama kali Ryan mengungkapkan perasaannya pada Freya saat Nayla berangkat ke Ohio dan Ryan menjadi lebih protektif ke Freya. Sayangnya, Freya hanya menganggap sikap Ryan hanya sebagai seseorang yang dititipi pesan untuk menjaga dirinya oleh kakak kandungnya.
Kedua kalinya saat Ryan dan Freya sedang sama-sama rindu satu sama lain karena KKN berbeda pulau. Ryan kembali mengungkapkan perasaannya lewat mid-night talk yang mereka lakukan via telepon. Sayangnya, keesokan harinya Freya menganggap pernyataan rasa dari Ryan malam sebelumnya hanya terbawa suasana. Bukan perasaan sebenarnya.
Anehnya, Saat ini Ryan tidak merasa harus memaksa gadis didepannya--yang sekarang duduk dan sedang harap-harap cemas membuka email di notebook berstiker banyak band kpop kesukaannya--untuk segera meresmikan hubungan mereka.
Toh Ryan sebenarnya tau Freya menyukai dirinya.
Keduanya sedang berada disalah satu kedai kopi hits. Mereka duduk dipojokan. Freya hanya memesan air putih karena memang gadis itu tidak suka kopi sama sekali. Sementara Ryan sesekali meminum ice americano miliknya.
"please.. please..." Freya menyatukan kedua tangannya dan merapalkan doa didepan notebooknya "gue deg-deg-an banget dooong!"
"Lebay lo" Ryan menanggapi santai
Freya memincingkan matanya, "Ini itu penting banget. Gue udah pengen masuk perusahaan telekomunikasi itu"
"harus banget perusahaan itu?"
"Harus lah!" Freya menjawab nyolot
"Eh.. eh.. Kok error?" Freya mendadak panik saat dilihatnya kursor notebooknya tidak bisa digerakkan. "yah jangan error dulu dong. Penting banget nih. Lo errornya kalo gue nonton drama korea aja nggak papa. Jangan sekarang" Freya mendumel pada notebook miliknya.
Ryan menggeleng dan berdecak kemudian berpindah tempat duduk di samping Freya untuk melihat keadaan notebook milik Freya. "Gini caranya Re" Ryan menekan beberapa tombol "kan udah gue ajarin caranya. Lupa mulu lo"
Freya hanya tersenyum dan kembali meminta notebooknya. "Laptop ini kalo gue pake fangirling-an itu nggak ada masalah. Kalo gue pake ngerjain tugas, malah ngambek."
"Sesuai sama yang punya" Sindir Ryan yang diacuhkan oleh Freya yang sekarang kembali berkonsentrasi dan berdoa.
Sebuah email masuk. Ryan mendengar Freya berteriak kecil tapi belum sempat Ryan melihat isi email Freya, dalam hitungan detik tubuhnya sudah ditarik oleh Freya.
Freya memeluknya erat. Sangat erat hingga Ryan bisa mencium bau shampoo gadis ini.
"GUE KETERIMA, RY!" Ucap Freya masih dengan posisi memeluk Ryan.
Ryan hampir tersedak air liurnya sendiri dengan pelukan dadakan dari Freya kali ini. Dia bahkan bisa merasakan wajahnya memerah.
"I..i..iya.. lepasin dulu. Gue bisa mati kehabisan nafas" Ryan memberikan alasan karena tidak tau harus melakukan apa. Ia bisa saja memeluk kembali Freya tapi dia merasa,urusan peluk dan cium hanya untuk dua orang yang punya "ikatan" yang jelas. Dan itu berarti bukan sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendmates
Ficção Geral[Selesai - Sudah Terbit] Friendmates; stories of four best friends and their complicated-yet-struggling ways to get their soulmates. Ryan harus sekuat tenaga mengejar gadis yang serupa alpha woman. Aksa dengan predikat brengseknya, ternyata tidak bi...
