Ryan dan Naren sampai di rumah Argi mendekati maghrib. Tadinya mereka akan bergegas makan malam dengan makanan yang sudah budhe Inah buatkan tapi Ryan berhasil menarik ketiga sahabatnya untuk sholat berjamaah terlebih dahulu di mushola dekat kolam renang Argi sebelum menyentuh meja makan.
"Sholat dulu. Lo nggak tau kapan malaikat penjemput nyawa nyabut nyawa lo." Titah Ryan sambil menyeret Lengan Aksa dan Naren yang memandangi Ryan dengan datar. Tapi ketiganya tidak protes.
Ustad Ryan dan segala sabdanya kadang memang harus dituruti karena sebenarnya ajakan Ryan tidak ada yang salah
Sayangnya, Ryan menjadi lurus hanya saat menjelang sholat. Saat selesai sholat, dia yang paling awal sampai di meja makan dengan menyendok penuh nasi ke mulutnya.
"Bismillah jangan lupa" Argi mengingatkan.
"Ow-i-yah. Luw-pa" ucap Ryan dengan mulut yang sudah penuh nasi.
"Bismillahi fi awalihi wa aakhiru. aamiin"
Naren dan Aksa hanya menggeleng takjub. Setelahnya mereka makan dalam diam karena makanan budhe inah memang sangat enak.
"Asli masakan tante Shinta aja nggak seenak ini kan gi?" Ryan berucap disela makannya.
Argi mengangguk. "kan nyokap gue emang nggak bisa masak. nggak jago. bisa masak tapi ya itu - itu aja"
"makanya nyokap lo selalu seneng kalo dimasakin nyokapnya ryan sama nayla" Naren menambahkan yang membuat Argi mengulum senyum.
Senyum imaginatif yang tertangkap oleh mata Ryan.
"Nggak usah berkhayal bakalan nikahin kakak gue cepet-cepet. bangun lo" Ucap Ryan salty yang membuat lamunan Argi buyar.
"Rese lo. Masih nggak ngerestuin gue sama Nayla juga? Gue sahabat lo dari lo orok, nyet" Cerca Argi kesal.
Ryan menggeleng. "Gue belum sampe kepikiran Nayla bakalan nikah sama cowok. Siapapun itu. Gue belum bisa"
"Kak Nay udah 23 tahun, Ry" Aksa memotong. "dua tahun lagi pas waktunya buat nikah"
Argi mengangguk semangat. "Dengerin, nyet"
"Tapi kalo beneran akhirnya Nayla sama lo, lo masih 23 tahun lebih dikit pas itu" Ryan menyergah cepat menghancurkan imaginasi Argi.
Kali ini Argi meletakkan sendoknya dan menekuk kedua tangannya di depan dada. "wah gue nggak suka nih kalo mulai bawa-bawa umur" ucap Argi kesal.
Ryan meminum air putih dari gelasnya sebelum menunjuk Aksa dengan sendoknya. "Kan Aksa yang bawa-bawa umur dulu. kampret lo ah. udah jangan ngebahas kakak gue. bahas sekar tuh"
Argi akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Ardan dan Sekar hari ini. Ryan juga menceritakan tentang Freya dan Nayla yang cenderung mempunyai empati berlebih pada korban self-harm seperti Sekar.
"masalahnya, kakak gue maupun Rere bukan manusia yang gampang dibilangin soal ginian. Mereka pasti ngotot bantuin Sekar. whatever the ways are. Apalagi si rere. kalo ada apa - apa sama Sekar, dia mungkin bakalan ikut down banget. Dan gue nggak bisa ngebayangin hal itu. Jadi mau nggak mau, gue bakalan jadi back up dua cewek itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendmates
Fiksi Umum[Selesai - Sudah Terbit] Friendmates; stories of four best friends and their complicated-yet-struggling ways to get their soulmates. Ryan harus sekuat tenaga mengejar gadis yang serupa alpha woman. Aksa dengan predikat brengseknya, ternyata tidak bi...
