10. I Want To Do Better

3.5K 581 172
                                        

Seperti yang sudah Janu katakan, lelaki itu akan fokus pada pencarian para pemberontak yang telah menyebarkan virus penyebab wabah penyakit. Dihari yang sama pula, tanggung jawab seluruh pekerjaan di laboratorium Janu berada di tangan menteri kesehatan, Giana.

Kesan pertama saat bekerja bersama Gia adalah, bahwa perempuan itu sangat teliti. Aona dipanggil beberapa kali karena melewatkan sesuatu dari hasil pengamatannya.

"Bekerja lah lebih cepat dan untuk kedepannya." Gia memijit pangkal hidungnya yang terasa pening. Seharian berada di laboratorium dan membaca berbagai informasi terbaru tentu membuatnya lelah.

"Baik. Akan saya laksanakan." Aona kemudian pamit keluar.

"Dokter Aona." Gia memanggil sebelum perempuan itu keluar dari ruangannya.

"Ya?"

"Kata Janu barak penampungan sudah penuh. Aku telah mengeceknya kembali. Masih ada beberapa ruangan kosong yang bisa kau pakai. Mungkin, jika kau banyak mengobrol dengan rekan-rekanmu, kau akan berkembang lebih baik lagi," katanya.

Aona sempat diam tidak mengerti. Apakah baru saja Gia memintanya pindah ke barak penampungan?

"Mm, baiklah."

Sejujurnya, Aona tidak masalah dengan itu. Dia justru heran mengapa Janu membuatnya tinggal dirumah sementara pekerja lain tidur di barak penampungan?

Vivian menoleh saat sadar Aona sudah kembali dari ruangan Gia. Perempuan berkulit seputih salju itu cemberut.

"Tidakkah anda merasa dia seperti penyihir atau semacamnya? Saya kira dia orang baik, tapi dia malah membuat kita melewatkan jam makan siang begini," ucap Vivian mengeluh kecil. Aona jadi tersenyum.

"Bertahanlah sedikit lagi. Setelah kau selesai dengan mikroskopmu, kau boleh makan siang," kata Aona menyahuti.

"Anda baik-baik saja dengan itu? Bagaimana kalau di marahi?" Vivian mengerutkan keningnya was-was.

"Tidak mungkin dia memarahiku hanya karena aku mengijinkanmu makan siang, Vivian," balas Aona lagi.

"Anda sungguh baik," gumam Vivian sebelum kembali menempelkan matanya ke lensa mikroskop.

"Vivian, apakah masih banyak tempat kosong di barak?" Aona bertanya dengan nada tidak yakin. Dia sebenarnya masih bingung tentang siapa yang harus dia percayai. Apakah Janu? Atau Giana yang diperkuat ucapan Johan kemarin?

"Ya. Kalau tidak salah masih ada lima ruangan kosong yang tersisa. Mengapa anda menanyakan itu?" jawab Vivian tanpa menoleh ke arah si penanya.

"Aku akan pindah ke sana. Haruskah aku merapikannya dulu atau langsung ditempat saja?" Vivian langsung menoleh cepat dengan mata membelalak ngeri.

"Anda mau pindah dari rumah nyaman milik jenderal Janu ke barak penampungan?" pekiknya tidak percaya. "Ke-Na-Pa?"

Reaksi berlebihan Vivian membuat Aona tertawa lebar. Ekspresi perempuan itu benar-benar sangat lucu.

"Aku hanya perlu lebih dekat dengan kalian, jadi kita bisa saling tukar pikiran. Apa ada yang salah dengan itu?" balas Aona masih tersenyum geli.

Vivian masih tampak bingung. Sangat aneh baginya karena Aona tiba-tiba ingin pindah. Selama ini, Aona selalu tinggal di rumah Janu walau dia tau kalau di sana ada barak bagi pekerja. Vivian juga sadar kalau atasannya tersebut telah menjalin hubungan dengan si jenderal besar.

"Apakah jenderal Janu setuju dengan ide itu?" tanya Vivian, bergidik ngeri membayangkan Janu marah karena tau Aona tinggal di tempat yang kurang pantas.

Marry The GeneralCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang