Adalah sebuah ketidaksengajaan ketika suatu hari Euna Aona bertubrukan dengan seorang lelaki yang memakai seragam militer. Kopi yang ia beli tidak tumpah, hanya dompetnya yang jatuh ke lantai.
"Saya minta maaf." Sosok berseragam militer itu berucap...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aona bangun saat matahari belum menampakkan diri. Pinggangnya terasa berat karena tangan Janu yang melingkar disana, leher Aona menjadi tempat lelaki itu bernapas.
Aona bergerak sedikit supaya bisa melihat wajah suaminya. Janu tampak lelap, terlihat sangat kelelahan setelah apa yang dialaminya akhir-akhir ini.
Sebelah tangan perempuan itu terangkat hendak menyentuh wajah suaminya, tapi refleks Janu bergerak lebih cepat. Tangan Aona ditangkap, mata dingin Janu sempat terbuka sedikit sebelum lelaki itu menghela napas dan meletakkan tangan Aona di pipinya. Janu kembali menutup mata dengan tenang.
"Jam berapa kau sampai dirumah?" tanya Aona berbisik.
"Aku tidak melihat jam," jawab Janu. "Tidurlah lagi."
"Tadi siang aku ketiduran di perpustakaan dan bermimpi buruk." Bukannya mengikuti apa kata suaminya, Aona justru mengadu muram. "Aku bermimpi Andreas datang untuk membunuh kami. Tidak ada yang datang menyelematkan walaupun aku sudah berteriak memanggil seseorang, termasuk kau."
Selama beberapa saat Janu tidak merespon hingga Aona berpikir lelaki itu sudah kembali terlelap. Tapi ketika Aona bergerak sedikit menjauh, lengan Janu mencengkramnya lebih erat.
"Itu hanya mimpi," gumam lelaki itu sambil lalu. Kali ini giliran Aona yang terdiam sejenak sebelum mendengus dan mendorong lengan Janu yang melingkari pinggangnya.
Merasa Aona bangkit dari ranjang, mata Janu pun terbuka lebih lebar. "Aona?"
"Tidur saja sendiri," desis perempuan itu sebal. Dengan cepat tangan Janu meraih tangan isterinya, menghentikan langkah perempuan itu.
"Kau mau kemana?"
"Kurasa bukan urusanmu," gerutu Aona lirih.
Janu bangkit duduk, mengusap wajahnya dengan tangan yang bebas. "Aku lelah. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini. Bisakah kita membahas tentang mimpimu besok pagi?" ucap Janu membujuk.
"Aku tidak memintamu bangun!" sangkal Aona lebih keras.
"Kau tau aku tidak bisa tidur nyenyak tanpamu. Aku kurang tidur dan kelelahan, Aona. Sekarang kemari dan tidur!" balas Janu tegas. "Apa kau tidak kasihan padaku?" tambah lelaki itu saat isterinya tak bergeming.