"gin apa kamu sudah siap nak?" Tanya galih dari luar kamar gina.
Gina yang mendengar itu semakin menumpahkan tangisnya, apa hari ini ia benar-benar akan di nikahkan? Bahkan calon nya saja ia belum lihat seperti apa. Ia masih tidak menyangka, jalan hidupnya akan seperti ini.
"Mbak, apa gina terlihat menyedihkan?" Tanya gina pada perias yang meriasi dirinya saat ini.
Mbak Sinta tersenyum simpul, ia memaklumi keadaan gina yang saat ini sedang sedih. Mbak Sinta pun tidak marah seberapa banyak gina membasahi riasan yang sudah rapi, mbak Sinta sendiri mengulang terus riasan yang sempat berantakan karena air mata gina.
"Kamu gak salah gin, memang begini jalan hidup kamu. Ada kalanya kamu tersenyum atas hikmah dari hidup kamu ini. Jangan terlalu lama bersedih, jemput kebahagian mu dari pernikahan ini. Mbak yakin, kamu akan bahagia" mbak sinta memberikan semangat untuk gina, ia sendiri tidak tega melihat gadis itu menangis sedari tadi.
"Sudah sudah, sekarang kamu hapus air mata kamu. Gak kasihan ya sama mbak yang dari tadi benerin make up kamu" tanya nya beriringan tawa. Ia sendiri hanya bercanda.
"Iya mbak, maaf ya" ucap gina merasa bersalah, karena telah membuat orang lain kesusahan.
"Bukan masalah"
Mbak sinta kembali merias ulang wajah gina yang sempat berantakan karena air mata gina. Kali ini gina sudah berhenti menangis, hal itu membuat mbak Sinta tidak kesulitan dalam merapikan make up hingga akhirnya gina terlihat sempurna karena maku up nya. "Sudah cantik, sekarang kamu keluar. Ayah ibu kamu sudah menunggu" titah mbak Sinta. Gina hanya melihat wajahnya sendiri di hadapan cermin, ia masih tidak menyangka akan begini hidupnya.
"Bismillah gina, kamu pasti kuat. Jangan lemah di hadapan orang tuamu! Kamu pasti bisa" batin gina menguatkan hatinya sendiri. Ia pun bangun dari duduk nya lalu tersenyum ke arah mbak Sinta
"Makasih ya mbak, gina keluar dulu" ucap gina kepada mbak Sinta. Mbak Sinta menggangguk mengiyakan "iya gin, jangan nangis lagi ya. Disana gak ada yang akan benerin riasan kamu soalnya"
"Iya mbak, mbak tenang aja"
Gina pun keluar kamar, ia memantapkan hatinya bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia sudah siap dengan kenyataan ini.
Ita dan galih yang melihat putri nya sudah cantik menggunakan gaun pengantin putih di sertakan riasan yang cukup indah membuat nya terlihat semakin anggun mampu membuat kedua orang tuanya terpukau. Gina terlihat sangat cantik hari ini.
"Yaallah gina, kamu cantik sekali" puji Ita pada gina, ia memandang takjub anak semata wayang nya itu.
"Iya benar, kamu cantik sekali nak" galih pun sama, cukup bangga melihat anaknya yang cantik hari ini.
"Sekarang kita berangkat ! Yuk. Mobil pribadi keluarga Aziz sudah menunggu kita di depan"
"Keluarga Aziz?" Tanya gina keheranan.
"Iya sayang, Aziz. Calon papah mertua mu", terang galih pada anaknya itu. Maklum, ia belum sempat memberitahu keluarga calon nya. Gina yang di beritahu hanya ber oh saja, tidak terlalu kepo juga dengan keluarga calon nya.
"Ayok! Nanti kelamaan lagi"
Mereka bertiga pun keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Gina berjalan di bantu oleh ibunya. Memang gaun nya sedikit ribet digunakan, jadi harus ada yang memegang belakangnya.
"Jadi gina di nikahin di rumah sakit yah?" Tanya gina saat galih menceritakan bahwa ia akan di nikahkan di rumah sakit, saat ini ia sedang berada di dalam mobil.
"Iya sayang, kamu gak masalah kan akad disitu?" Galih bertanya balik pada anaknya itu.
"Gapapa kok yah, gimana baik nya aja. Tapi" gina menggantungkan ucapannya, ia sendiri malu menanya ini"
"Tapi apa? Kamu kalau mau nanya, nanya saja" jawab galih, ia sudah hafal anaknya seperti apa, gina bukan orang yang blak-blakan dalam bertanya.
"Calon suami gina, dia orangnya gimana?", Tanya gina pelan, ia sendiri malu mengucapkan itu.
Galih tersenyum, ia pun belum tau betul anak Aziz seperti apa. Ia hanya mendengar melalui cerita aziz, belum melihat secara nyata. "Dia baik, kamu gak perlu khawatir dia jahat sama kamu".
"Eeumm, iya yah"
***
Sudah berapa puluh kali lutfan mondar mandir tidak jelas, hingga bi Marni yang melihat pemandangan itu menjadi ikut pusing, karena lutfan tidak berhenti mondar mandir sambil menggigiti kukunya.
Bu Marni sudah tidak kuat lagi melihat pemandangan itu, ia pun memberanikan diri bertanya pada majikan mudanya itu. "Den, Aden ngapain dari tadi. Bibi liatnya pusing tau"
Lutfan yang menyadari seseorang sedang mengajaknya bicara berhenti mondar-mandir, ia mencari asal suara itu. Ternyata bibi nya yang mengajaknya bicara "oh bibi. Iya nih, lutfan lagi bingung"
"Loh, bingung kenapa den. Cerita sama bibi" ucap Hinata Marni menawarkan.
"Bi, kalau bibi jadi lutfan. Apa yang bakal Bibi lakuin?"
"Maksudnya den?" Bu Marni bukan orang bodoh, namun jika di tanya seperti itu ia pun bingung, dimana komplikasi yang terjadi.
"Kalau bibi di paksa nikah muda, bibi mau ga?" Tanya lutfan to the point. Ia cukup malas menceritakan kejadian dari awal.
"Ohh nikah mudah. Atuh bibimah mau banget den ah si Aden mah. Liat nih, bibi aja nikah muda, ya sekitaran umur 17an lah bibi nikah" jawab bi Marni dengan sumringah, tanpa tau jawaban nya berlawanan dari keinginan lutfan.
"Ish si bibi mah, lutfan sedih tau" ucap lutfan terang-terangan. Ia memang terbiasa curhat kepada pembantunya, jika orang tuanya tidak bisa mendengarkan keluh kesah nya.
"Sedih kenapa den. Memangnya den lutfan mau di nikahkan? Ahahahahahaha" bi Marni menanggapi dengan candaan, membuat lutfan mendengus sebal pada bibinya itu. Ia pun duduk di kursi sambil melipat tangan.
"Iya bi, lutfan itu di paksa nikah sama papah, dan sekarang bibi harus bantuin lutfan gimana caranya pernikahan ini batal"
"Haaa? Apa? Aden mau di nikahin sama tuan?" Tanya bi Marni dengan syok, ia baru sadar jika majikan nya itu sedang tidak bercanda.
Lutfan hanya menggangguk lesu di bangku,
"Serius den, Aden mau dinikahin? Sekarang gitu den? Hari ini banget den?" Tanya bi Marni berangsur-angsur.
Lutfan yang di tanya seperti itu lagi-lagi menggangguk lesu. Malas menjawab pertanyaan Bu Marni. Telat, ia kepalang malas dengan pembantunya itu
Rasanya bi Marni ingin teriak, tapi ia takut mengganggu majikannya. Namun rasanya dirinya tidak kuat, ingin berteriak saat itu juga "aaaahhhhhhhhh" teriak bisa Marni tanpa tau malu membuat kuping lutfan panas seketika.
Tiba-tiba tangan lutfan di tarik oleh pembantu nya itu. Lutfan yang tidak siap seketika terhuyung dan hampir jatuh. Apa-apaan pembantunya ini, untung orang tua.
Stop! Sudah lebih dari 1000 kata. Lanjut di chapter selanjutnya.
Votment dong ya sebelum lanjut, terimakasih

KAMU SEDANG MEMBACA
you are everything
Teen FictionIni rumit,tidak mudah memperjuangkan cinta seorang diri, apalagi aku wanita. bagaimana jika kamu jadi aku? di jadikan layaknya pembantu dirumah, dijadikan pelampiasan dirinya atas kebenciannya pada keluargaku. aku paham hadirku bencana bagi hidupmu...