Klotak-klotak...
"Duh, hari pertama kerja rasanya deg-deg an. Nggak biasanya harus pake sepatu high heels."kata Zahra menyusuri tempat kerjanya.
"Alhamdulillah, bisa kerja di sini." Ia tersenyum penuh semangat, hari di mana Zahra akan berjuang penuh untuk menjadi seorang penerjemah bahasa, khususnya bahasa Arab ke bahasa Indonesia.
Klekk, brugh Zahra terjatuh kali pertama memakai sepatu high heels nya dalam hidupnya.
"Astagfirullahal'adzim, duh..."Zahra memandangi kakinya yang sedikit lecet lalu beralih ke sepatunya, penopang sepatunya patah padahal ia sudah memakainya dengan hati-hati.
"Apaan coba nggak seperti novel maupun drama, dimana jika ada seorang perempuan yang jatuh akan ada pangeran yang siap menopang. Realita tak seindah ekspetasi, emang bener."omel Zahra sendiri dan berusaha bangkit.
"Butuh bantuan?."sebuah tangan menjulur di depan Zahra.
Zahra menelan ludah, apakah ini nyata?Zahra mengangkat wajahnya, kenapa harus dia?Zahra buru-buru bangkit sendiri.
"Tidak, terima kasih."kata Zahra gelagepan.
"Apa kabar Ra?."
"Alhamdulillah baik kok, kakak sendiri?.
"Alhamdulillah baik juga, kerja di sini?."katanya mengangkat alis.
Zahra mengangguk, "hari pertama masuk."
"Oh, eh kakimu gimana?."
"Ah nggak apa-apa kok, cuma lecet sedikit. Kak Irfan juga kerja di sini?."
"Nggak, cuma mau ketemu sama saudara. Tunggu sebentar ya."katanya seraya mengeluarkan ponsel.
"Assalamu'alaikum bang, oh ya bang. Ini ada karyawan baru tadi jatuh. Sorry bang gara-gara aku."
"Eh, enggak..."Zahra berusaha bersuara, tapi tak dihiraukan.
"Aku bakal tanggung jawab kok. Dia akan telat, nggak apa-apa kan?, Siyap bang."kata Irfan menutup ponselnya.
"Eh kak, kalo mau bantu nggak gitu juga kan? Gimana nanti sama respon atasan?."kata Zahra sedikit kesal.
"Udah tenang aja, udah saya urus. Ayo ikut saya."
"Maaf, saya nggak mau telat."kata Zahra membalikkan badan pergi.
"Ini juga udah telat, kamu mau ke sana dengan sepatu pincang. Apa nggak sopan?."kata Irfan senyum penuh kemenangan.
"Huuuh, baiklah sekali ini saja."Zahra kembali, mengikuti Irfan masuk mobil.
"Kita mau kemana?."
"Kita? Kamu aja kali..."
"Ya udah, saya mau turun."
"Cuma becanda kok. Gitu aja ngambek."katanya sambil menyodorkan handsaplast.
"Makasih."
Mobil melaju searah jalan dengan suasana sedikit hening.
"Kenapa ke toko sepatu?."
"Mau beli obeng, ya beli sepatu lah."katanya setelah sampai.
"Kak Irfan mau ikutan masuk toko juga?"
"Kalau itu yang kamu mau, ayo."
"Eh maksud aq..."
Zahra belum selesai ngomong, Irfan sudah beranjak masuk duluan. Zahra pun mengikutinya dari belakang.
))
Zahra memakai sepatu sendal, sehingga mudah untuk berjalan seperti berlari, ia tak peduli banyak orang yang menatapnya. Jangan sampai ia kena omel atasannya.
Ia berhenti di depan ruangan yang tertulis head office.
"Assalamu'alaikum."Zahra mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam, masuk."kata seseorang dari dalam.
"Maaf pak, saya telat. Saya benar-benar minta maaf."kata Zahra sambil menunduk.
"Saya sebenarnya marah, bagaimana bisa di hari pertama kerja malah telat. Itu menunjukkan bahwa kamu tidak disiplin."katanya membalikkan kursi yang didudukinya, ia sengaja meluncurkan kata seperti panah yang siap menusuk ke sasaran yang tepat.
"Maaf pak, saya tidak akan mengulanginya lagi."balas Zahra yang masih menunduk.
Ia tak berani memandang wajahnya, ia tak bisa membayangkan bagaimana raut wajah seorang atasan ketika bawahannya membuat kesalahan. Zahra berkeringat dingin.
"Apa kabar Zahra?."
Zahra mengangkat wajahnya kaget.
))))
Jangan lupa kasih voment nya yah😚
Semoga terhibur🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Why? (TAMAT)
Teen FictionZahra hanya diam mematung,ia akan bergerak jika ada seseorang yang akan menyemangatinya. Ia berharap seseorang akan datang melakukan itu. Tapi.... Mengapa harus dia? Mengapa? Why? Hai temen-temen...penasaran dengan kisah Zahra??? Baca dan nantikan t...
