Bukan Saya

10 1 0
                                        

"Hemm...aku baru ingat."kata Zahra beranjak langsung ke kamarnya mengecek sesuatu setelah pulang dari acara tadi pagi.

"Bener...ini foto sama kayak yang Indri punya."katanya heboh sendiri.

Zahra memang belum sempat mengembalikan foto itu, lebih tepatnya lupa mengembalikannya.

"Kak Irfan sama Indri sama-sama memiliki foto ini. Kemarin waktu aku diajak ketemuan kak Irfan ke taman hiburan, dia seperti mengenang masa kecilnya. Dan aku sama sekali belum pernah ke sana."

"Apa kak Irfan mengira gadis kecil itu aku?kalau memang aku, nggak mungkin dong aku lupa. Tapi, masa kak Irfan nggak ingat siapa gadis kecil itu?."

"Dan mungkin emang gadis kecil itu Indri. Tapi, kenapa juga Indri tidak mengakuinya kalau itu kak Irfan?."

"Apa aku tanyakan langsung pada kak Irfan saja?,Duh kenapa aku pusing sendiri..."

Zahra keluar kamar menuruni anak tangga untuk menemui bundanya.

"Bun, lagi masak apa bun?."

"Sayur kangkung..."jawab Bunda Ica menyiapkan menu sore hari.

"Wah sedap kayaknya..."

"Iya dong, siapa dulu yang masak?."

"Bundaku..."kata Zahra memeluknya.

Bundanya tersenyum, anaknya masih juga manja padahal udah beranjak dewasa. Anak perempuan memang begitu.

"Eh Bun, mau nanya nih. Aku sama kak Irfan waktu kecil pernah ketemu nggak?."

"Kak Irfan anaknya umi Farah? Yang dulu pernah nganter kamu malam-malam?."

"Iya itu..."

"Pernah, waktu kamu masih bayi."

"Masih bayi?...kalau pas waktu aku masih umuran 9 tahunan ketemu lagi nggak Bun?."

"Pas masih kecil cuma sekali itu aja. Sampai kamu masuk SMK baru ketemu lagi sama nak Irfan. Dan waktu itu, bunda pangling kan ternyata udah gedhe."ujar bunda memberi keterangan.

"Oke, berarti ini fix bukan aku."lirih Zahra.

))

"Sebenernya perasaanku sama kak Irfan gimana sih?."tanya Zahra pada diri sendiri untuk memastikan perasaannya agar tidak ada yang dirugikan maupun dikecewakan.

"Dia emang baik, perhatian, jujur, plus Gus lagi. Sedangkan aku cuma anak biasa-biasa aja. Kenapa kak Irfan bisa suka ya sama aku sampai mau ngelamar segala..."

"Ya jujur sih, aku juga seneng waktu dia ngungkapin perasaannya. Tapi, di sisi lain yang baru aku ketahui sekarang, Indri sepertinya menyukainya."

"Tapi, kalau aku menerimanya. Aku bakal melukai Indri dan kehilangan sosok sahabat. Kalau tidak, kak Irfan yang bakal terluka dan aku bakal kehilangan sosok kakak yang baik."pikir Zahra menimbang-nimbang konsekuensinya.

Zahra baru kali ini berbicara sendiri seperti orang gila saja.

Dan sekarang ia tahu apa yang harus Zahra lakukan. Ia membuat janjian untuk ketemuan lagi besok setelah pulang Zahra pulang kerja.

))

"Sorry kak telat. Udah nunggu dari tadi ya kak..."kata Zahra langsung duduk di tempat yang ia janjikan.

"Nggak kok, cuma beberapa menit saja."timpal Irfan sambil senyum.

"Oh ya kak, ini foto punya kakak kan?kemarin jatuh pas kita di taman hiburan. Maaf baru sekarang ngembaliinnya."

"Makasih, untung yang nemuin kamu. Kalau bukan nggak bakal balik nih foto."

"Jadi gimana?."tanya Irfan mengalihkan pembicaraan dan langsung to the point.

"Emm bentar kak, saya boleh nanya-nanya dulu nggak?."tanya Zahra hati-hati.

"Silahkan..."

"Gadis kecil yang difoto itu siapa kak?."

"Oh itu temen kakak waktu kecil. Dan sekarang gadis kecil itu ada di depan aku."

"Kakak amnesia ya?."kata Zahra seraya menggerak-gerakkan telapak tangannya di depannya.

Irfan terkejut dengan balasan Zahra, padahal dirinya sedang menjawab dengan serius.

"Nih ya kak, kakak tuh salah orang. Itu bukan saya. Saya tuh ini..."kata Zahra seraya memperlihatkan foto kecilnya.

"Iya beda...terus ini siapa dong?."

"Kenapa tanya saya, saya mana tahu kak."kata Zahra pura-pura.

"Jadi, sebenarnya yang kakak cintai itu gadis kecil itu kan?Apa kakak merasa kecewa kalau gadis kecil itu bukan saya?."tanya Zahra menyelidik.

)))

Ingin tahu keseruannya?
Lanjut kuy🏃🚶

Jangan lupa tinggalkan jejak yah, biar semangat bikin ceritanya❣️.

Why? (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang