23. LOST

415 50 3
                                        

"Not satisfied with breathing free air, there are already problems that have stopped by."

***

Beberapa hal yang harus ia lakukan kali ini adalah menemui Reysa. Bertanya pada gadis itu tentang apa yang tengah terjadi. Meminta kejelasan dari Reysa tentang semua yang terjadi.

Sedari kemarin ia selalu melihat Reysa bersama dengan Veran, teman sekelasnya. Murid baru itu tampak akrab dengan Reysa. Karena hal itu, perasaannya tidak karuan seperti ini.

Atau mungkin gadis itu selingkuh dengan Veran. Murid baru yang baru dua hari masuk kelas setelah mengurus surat-surat.

Ah iya, Renald ingat. Ada satu laki-laki lagi yang pernah bersama Reysa saat gadis itu menampar Zeva waktu di kantin. Seperti tidak asing wajah laki-laki itu.

Ia bersandar pada dinding. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Apa Reysa memang serendah itu sebagai perempuan?

"Lepasin, ah! Sakit tau nggak sih?!"

Untuk kali ketiganya ia melihat Reysa bersama orang lain. Sepertinya ia belum pernah melihat orang itu. Tetapi siapa? Mengapa tidak memakai seragam?

Renald mencari tempat terdekat untuk mendengarkan percakapan mereka. Ia bersembunyi dibalik tong sampah yang berada dibelakang sekolah. Ia menajamkan pendengarannya.

"Lo ngapain sih kesini? Nggak punya malu banget!"

Dari raut wajah Reysa, sepertinya gadis itu sangat membenci laki-laki di depannya. Ia mengepalkan tangannya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Siapa dia?

Laki-laki itu tampak terkekeh geli dengan ucapan ketus dari Reysa. "Mau ketemu sama lo, lah. Ngapain lagi?"

Reysa mengusap wajahnya kasar. Gadis itu mendengus geli menatap wajah laki-laki di depannya. Ia menghela napas sebelum membalas. "Gini ya, Bim." gadis itu memberi jeda. "Kita nggak ada urusan apa-apa. Ngapain lo nemuin gue? Urat malunya udah putus, jadi lo seberani ini?"

"Gue kangen sama lo."

Omong kosong apa ini? Apa mereka sangat mengenal? Renald semakin bingung dengan yang ia lihat sekarang.

Reysa menghela napas. Kenapa harus saat ia di sekolah Bimo menemuinya? Kalau ada orang yang melihat mereka, pasti akan ada gosip baru yang akan menggemparkan seluruh murid sekolah ini.

"Kenapa lo nggak mati aja sih? Biar gue nggak usah liat lo?!" harusnya saat ia melempar vas pada laki-laki itu, Bimo langsung tidak bernyawa. Pasti hidupnya akan jauh lebih tenang. Dan pastinya, akan mendekam lama di dalam jeruji besi.

Tapi mungkin itu lebih baik, dari pada ia harus melihat Bimo berkeliaran di sekitarnya.

Bimo tertawa. Ia mengusap surai gadis itu, namun segera ditepis oleh Reysa. "Lo pikir gue selemah itu? Mati cuman gara-gara vas kecil yang lo lempar?"

Vas yang dilempar Reysa?

Reysa mengacak rambutnya. Ia pasti akan gila jika terus berlama-lama dengan Bimo. Bahkan otaknya tidak bisa berpikir apapun sekarang ini.

Ia menatap sebentar, lalu membawa langkahnya pergi dari sana. Namun, Bimo menahan lengannya. "Gue belum selesai ngomong. Ngapain lo pergi?!"

DISPARAÎTRE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang