"She didn't mean to make them feel sorry. But she really didn't want to go back and do something that made him even more regretful."
***
Mulanya Reysa pikir itu adalah orang lain yang iseng datang kepadanya. Tidak ia sangka, bahwa mereka adalah Dheni dan Rina. Rasa canggung masih menguasai diri Reysa untuk bertanya lebih dulu pada mereka. Ia juga tidak memiliki hak apapun untuk membuka suara lebih dulu.
Tadi saat ia tengah duduk di balkon kamarnya, Frans tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa orang tuanya datang. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, untuk apa mereka menemuinya?
Sepertinya masalah kemarin memang sudah mengakhiri hubungan antara dirinya. Kalau saja hal seperti kemarin tidak terjadi, mungkin ia masih bersikap tidak tahu diri pada mereka. Seharusnya sejak awal mereka jujur, agar ia bisa bersikap selayaknya dan tidak semena-mena pada mereka.
Reysa menunduk, sibuk memainkan jarinya sembari menunggu mereka berbicara lebih dulu. Ia tidak akan berbicara lebih dulu, karena menurutnya ia tidak memiliki hak untuk memulai sesuatu. Sampai dimana Dheni mengalah dan mulai membuka suara.
"Papa minta maaf, Rey."
Mengapa harus sesakit ini mendengar suara Dheni? Ia jadi ingat saat laki-laki itu menamparnya dengan keras, dan setelah itu mengatakan hal yang sesungguhnya.
Rasa sakitnya masih terus bersarang, walau ia mencoba untuk melupakannya. Untuk melupakan sepenuhnya rasanya sangat sulit dibandingkan apapun. Ketika ia mengetahui bahwa ia bukanlah anak kandung mereka, ketika ia—
"Papa minta maaf karena udah nampar kamu. Papa nggak bermaksud buat nampar kamu, saat itu papa kebawa suasana."
Alih-alih bilang semuanya baik-baik saja, Reysa hanya diam seraya terus menunduk dalam. Ia memang sudah memaafkan mereka, tetapi rasanya sulit untuk mengungkapkan bahwa ia sudah memaafkan keduanya.
"Papa mohon, kamu balik ke rumah, ya?"
Kini Reysa mengangkat wajahnya, menampakkan ekspresi setenang mungkin dan mencoba untuk tidak terbawa suasana. Gadis itu tersenyum tipis, memberi gelengan lemah yang membuat batin Dheni mencelos.
"Rey, papa mohon. Kemarin papa cuman kebawa suasana, dan kamu juga tetep anak kami. Rey, papa mohon, kamu mau ya?"
Reysa menggeleng, lalu menyahut, "Enggak, pa. Reysa nggak mau."
"Reysa, mama mohon sama kamu. Kembali ya ke rumah?"
Suara Rina bergetar, memandang teduh Reysa yang tetap teguh pada pendiriannya. Gadis itu bersandar, melemaskan otot-otot punggungnya yang mendadak terasa kaku.
Mau semenyedihkan apapun mereka saat membujuknya, ia tidak akan pernah goyah. Walaupun ia juga tidak enak dengan Frans karena sudah menumpang hidup, tapi tetap saja ia tidak akan mau kembali kepada mereka.
"Maaf ma, pa, Reysa nggak bisa. Reysa nggak pantes jadi bagian dari kalian."
Rina menggeleng lemah, raut wajahnya begitu teduh memandang Reysa yang menampakkan senyum begitu tipis. "Enggak, Reysa. Kamu pantes jadi bagian dari kami. Kami minta maaf sama kamu, jadi kamu mau ya kembali lagi ke keluarga kita. Nggak ada kamu, keluarga kita nggak akan utuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
DISPARAÎTRE [END]
Fiksi Remaja[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA, DAN JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENNYA!] NOTE : AWAS TYPO "Gue Renald. Kalo lo mau tau nama gue." "Gue nggak nanya. Gue juga nggak mau tau." *** Bertemu dengan laki-laki menjengkelkan sungguh sangat mengusik kehidupan damai...
![DISPARAÎTRE [END]](https://img.wattpad.com/cover/196446967-64-k20838.jpg)