"It hurts so much when you get pain like this. Though he never did much to bring it down."
***
Jalanan yang awalnya sangat sepi, kini dipenuhi oleh banyak insan yang memang penasaran dengan berita tiba-tiba ini. Apalagi yang ditantang itu adalah Reysa, salah satu siswa SMA Lawrence yang selama ini menjadi pusat perhatian karena masalah yang selalu datang pada gadis itu.
Reysa sudah sampai sedari tadi, bersama teman-temannya yang tengah memandang ke arah Bimo. Mereka merasa kalau ini adalah sebuah pertandingan yang tidak seperti biasanya. Bahkan, ini terlalu mendadak jika dipikirkan.
Ini sudah larut malam, bahkan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas . Tinggal beberapa menit lagi untuk Reysa balapan melawan Bimo sang penantangnya.
"Gue pikir, lo nggak usah balapan deh, Cha. Lo kaya nggak tau Bimo aja, dia itu nggak ada kerjaan, makanya ngajakin lo duel."
Devan cukup tahu dengan kelicikan yang dimiliki oleh Bimo. Apalagi sedari dulu laki-laki itu selalu saja mencari masalah dengan teman-temannya.
"Lagian mereka nggak akan bebas setelah laporan yang kita tunjukin ke kepolisian, dianggap bener sama mereka. Gue juga udah kasih buktinya, tinggal penyelidikan."
Waktu itu, Bara memang diam-diam memberikan laporan tentang bar milik Bimo yang digunakan untuk tempat berjudi. Selain itu, tempat itu juga digunakan untuk transaksi narkoba dengan banyak orang.
"Serius deh, Cha. Lo nggak perlu nerima tantangan dari si bangsat." sahut Galang yang sedari tadi diam. Matanya terus mengamati gerak-gerik Bimo yang tengah berdiri bersama dengan teman laki-laki itu.
"Sayang tenaga lo, Cha." Gevan mengulurkan satu buah botol air mineral dingin yang baru saja laki-laki itu beli dari warung dekat tepat ini pada Reysa. Gadis itu menerimanya dengan senang hati.
"Lo juga nggak akan bayar denda apapun, Cha."
Semua orang mencoba membujuk gadis itu agar tidak menerima tantangan dari Bimo Mereka memiliki firasat yang tidak enak mengenai balapan malam ini. Ini terlalu mendadak. Mengapa tidak memberi tantangan jauh-jauh hari agar Reysa bisa mempersiapkannya lebih dulu?
"Entar gue beliin permen, deh. Tapi lo nggak usah nerima tantangan ini."
Veran memang sosok laki-laki menyebalkan. Tetapi jika berhubungan dengan masalah seperti ini, laki-laki itu pasti akan memberi banyak nasihat agar Reysa tidak menerima tantangan apapun.
Semua orang mencoba membujuk, sampai Renald dan Reno datang dari arah berlawanan. Laki-laki turun dari motornya, dan langsung menarik Reysa begitu saja, membawa gadis itu ke tempat yang tidak bisa di jangkau mereka lagi.
"Malam ini aja, Rey, lo dengerin ucapan gue."
Pandangan keduanya saling bertemu. Raut khawatir milik Renald begitu sangat kentara. Tangannya dingin dan berkeringat, antara takut terjadi apa-apa dengan Reysa, dan kehilangan apa yang belum boleh hilang untuk saat ini.
Perasaannya benar-benar tak enak. Tapi Renald sendiri tidak tahu ini perasaan apa. Ia hanya merasakan sesuatu yang begitu mengganjal dan sepertinya tidak lama lagi ia akan merasa menyesal seperti Mamanya.
Reysa menarik tangannya dari genggaman Renald, namun dicegah oleh laki-laki itu. Kali ini Renald tidak peduli kalau Reysa marah, yang penting kali ini adalah semuanya baik-baik saja.
Ia hanya merasa tak tenang ketika mendengar berita itu. Sampai saat ini, ia juga tidak paham mengapa jantungnya terus berdebar ketika memikirkan tentang Reysa.
KAMU SEDANG MEMBACA
DISPARAÎTRE [END]
Jugendliteratur[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA, DAN JANGAN LUPA VOTE DAN KOMENNYA!] NOTE : AWAS TYPO "Gue Renald. Kalo lo mau tau nama gue." "Gue nggak nanya. Gue juga nggak mau tau." *** Bertemu dengan laki-laki menjengkelkan sungguh sangat mengusik kehidupan damai...
![DISPARAÎTRE [END]](https://img.wattpad.com/cover/196446967-64-k20838.jpg)