7. Mipa

360 89 81
                                        

Pagi ini, seluruh siswa kelas X SMA Tarumanegara dihebohkan dengan hasil pembagian jurusan yang baru saja keluar. Mereka berbondong-bondong menyerbu mading sekolah untuk mengetahui hasil pengumuman sekaligus bersiap-siap pindah ke kelas baru.

Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Isyana Sarasvati. Gadis berkucir kuda itu tetap berjalan gontai tanpa terpengaruh dengan kasak-kusuk di sepanjang koridor.

Sesampainya di mading, murid-murid yang sedari tadi mengerubungi lantas memberikan jalan kepada Isyana.  Mereka menatapnya intens dengan sorot yang sulit diartikan.

Isyana menaikkan sebelah alisnya. Merasa ganjil. Tetapi, ia terus melanjutkan langkah hingga berada persis di depan papan bertuliskan Hasil Pembagian Jurusan SMA Tarumanegara Tahun Ajaran 2017-2018. Kedua matanya sontak menyelisik ratusan nama siswa yang tertera. Mula-mula, ia mencari namanya terlebih dahulu di jurusan IPS. Isyana yakin, sewaktu mengerjakan tes pembagian jurusan, dirinya tidak terlalu serius dan cenderung meremehkan soal. Kekecewaan akibat gagal ke SMAN 8 DKI Jakarta serta seleksi beasiswa Andalas High School membuat ambisi serta mimpi-mimpinya meredup.

Namun, betapa terkejutnya ia ketika tidak menemukan nama Isyana Sarasvati di tiga kelas jurusan IPS.

Lah, masuk IPA gue? Dengan cara ngerjain tes seleksi yang santuy kayak di pantuy? Batin gadis tersebut kepada dirinya sendiri.

Lalu, ekor matanya kembali menekuni kertas-kertas hasil pembagian jurusan. Mencari di kelas X IPA 4, tidak ada. Di kelas X IPA 3, nihil. Kelas X IPA 2, tak jauh berbeda. Tinggal X IPA 1 yang belum ia periksa.

"Serius gue masuk ke kelas X IPA 1? Kelas unggulannya SMA Tarumanegara?" gumam Isyana sangsi kepada diri sendiri.

Tak menunggu waktu lama, Isyana segera mengamati sederet nama yang berhasil lolos ke kelas XI IPA 1. Untuk berhasil masuk ke kelas tersebut, minimal harus meraih skor seleksi 36,00. Jadi, bisa dibilang kelas ini merupakan kelas terbaik di antara kebobrokan siswa SMA Tarumanegara.

Alih-alih, menemukan namanya sendiri, Isyana justru menemukan nama Inggita Liana berada di kelas X IPA 1 urutan 24 dengan skor seleksi 36,10. Rata-rata sembilan untuk empat mapel ujian. Tanpa sadar, Isyana berdecak kagum.

Lalu, ia kembali menelusuri sederet nama di kelas unggulan tersebut. Hingga akhrnya, atensi gadis itu tersita pada sebaris kalimat dalam kolom bertuliskan:

1. Nama      : Isyana Sarasvati                  
Hasil skor  : 39,00
Asal gugus: Gugus Indonesia Raya

Isyana sontak membungkam mulutnya sendiri. Kedua matanya terbelalak tidak menyangka. Hasil skor yang nyaris sempurna membawa gadis berkucir kuda tersebut berada di kelas unggulan X IPA 1 serta memperoleh skor tertinggi se-angkatan.

Apakah semesta sedang mengajaknya becanda?

Mendapatkan skor 39,00 padahal ia mengerjakannya sambil tidur-tiduran? Tidak serius sama sekali? Bahkan, malam hari menjelang ujian seleksi saja gadis itu justru marathon film series Thailand My Dear Loser.

Pantas saja. Sekarang Isyana mengetahui alasan siswa-siswa tadi memberinya jalan dan kasak-kusuk yang terlontar di sepanjang koridor ketika ia melintas.

"Too easy," gumam Isyana, angkuh. Begitu mudah ia mendapatkan nilai sempurna di SMA Tarumanegara.

Coba saja SMP-nya yang dulu. Nilai 100 seakan tak bermakna luar biasa karena ada lebih banyak siswa yang memperoleh nilai serupa. Jadi, ketika di SMP, Isyana cenderung biasa-biasa aja. Tidak menonjol karena banyak siswa yang jauh lebih pintar di atasnya.

Namun, di SMA Tarumanegara ia tak memperlukan pengorbanan besar untuk bisa mendapat ranking satu se-pararel.

Dia menonjol. Terkenal satu angkatan berkat nilai seleksi nyaris sempurna.

All the Bad ThingsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang