[Don't forget to follow]
(Mau ngasih tau dulu biar ga bingung)
Guys, Abidzar itu kalo ngomong sama (Namakamu) emang suka ganti-ganti kadang lo-gue kadang
aku-kamu gitu.
🦋
"Jadi, keluarga gue dan keluarga (namakamu) itu bisa dibilang deket banget karena keluarga kita berdua sering makan bareng atau dinner bareng kalo emang bokap nyokap gue sama (namakamu) di indo dan waktu itu, waktu kita masih SD. Gue sama (Namakamu) makan bareng keluarga, dan kita berdua lagi main lari-lari. Disitu posisinya gue kesandung mainan yang lagi kita berdua mainin, dan pas gue mau jatoh. Gue gak sengaja ngedorong (namakam) yang ngebuat dia jatoh sampe kebentur meja. Disitu dahinya (namakamu) berdarah banyak banget, disitu juga posisinya kita belum tau (namakamu) punya kendala kaya gitu." tiba-tiba saja sebulir air mata jatuh dari mata Arkan.
"Sorry, lanjut. Saat itu akhirnya kita baru panggil dokter ke rumah, Om Zade. Dia yang nanganin (Namakamu) waktu itu, Pas dia ngecheck kondisi (Namakamu) yang udah kekurangan darah. Om Zade langsung telphone ambulance dan kita semua kerumah sakit ini. Saat itu, saat itu (namakamu) hampir kehilangan nyawanya karena darahnya yang terus keluar ga berhenti. Di check apa dia punya penyakit khusus, Om Zade bilang, Gak ada penyakit khusus apapun. Dan untungnya disitu (namakamu) bisa diselamatin walaupun dia sempet koma hampir satu bulan," ucap Arkan.
"Bang, kenapa bang arkan cerita hal itu? Abang kan udah janji gak bakalan cerita itu ke siapa pun," ucap lirih perempuan yang sedang berbaring diranjang rumah sakit dengan nada kecewanya. Saat perempuan itu tersadar, ia mendengar Arkan menceritakan kejadian masa kecil buruknya.
Arkan berdiri dibarengi ketiga sahabat (Namakamu) untuk menghampiri (Namakamu).
"Gak gitu maksud gue," ucap Arkan.
"Abang udah janji gak bakal ceritain hal itu kesiapapun kan?" tekan (namakamu), "aku gak suka semua orang jadi terlalu khawatir sama aku," ucap (namakamu) yang kini sudah menangis.
"Justru kalo Arkan ga cerita sama kita, kita makin khawatir (Nam)." ucap Zidny lembut mencoba memberi pengertian kepada (naamakmu).
(Namakamu) hanya diam dengan air mata yang masih mengalir.
"Maafin gue, gue ngerasa mereka sayang banget sama lo. Gue percaya temen-temen lo gak ada yang bakal ngehianatin lo, itu kenapa gue berani ceritain hal itu ke temen-temen lo. Maafin gue ya." Arkan menggenggam tangan adiknya.
(Namakamu) mengangguk. "Iya maafin aku juga ya bang," ucap gadis itu merentangkan tangannya agar Arkan memeluknya. Laki-laki itu yang mengerti lantas memeluk adik tersayangnya ini.
"Udah ah malu tuh ada temen lo," ucap Arkan, (namakamu) nyengir walaupun masih ada sisa air mata di pipinya. Pelukan keduanya terlepas.
"Makasih ya udah mau nganterin aku," ucap (Namakamu) kepada Zidny, Steffi dan Salsha.
"Yaallah kaya sama siapa aja sampe bilang makasih," ucap Salsha membuat manusi-manusia yang ada diruangan itu tertawa.
"(Nam), siapa yang lakuin ini sama kamu?" tanya Arkan membuat (namakamu) menegang.
5 menit berlalu dengan terdiamnya (namakamu).
"Kasih tau gue, atau gue cari tau sendiri!" tekan Arkan.
"Kejadiannya sama kaya waktu itu, aku ke dorong orang bang. Aku juga gak tau dia siapa, muka nya aja udah lupa sekarang." (Namakamu) menahan agar tidak gugup.
"Kelas berapa?" tanya Arkan.
"Gak tau bang gak liat," ucap (Namakamu), sedangkan ketiga teman (namakamu) hanya diam tidak berani ikut campur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cold Boy
FanfictionJangan pernah lupa kalau manusia punya batas lelah dan sabar
