"Saya tidak akan ikut campur kalau anak tante tidak terlibat"
"Maksud kamu apa" tanya Amira semakin garang.
Akbar mengeluarkan amplop putih dari saku hoodie yang dikenakannya. Cowok itu menodongkannya pada Amira. Setelah Amira menerimanya Akbar langsung beranjak pergi.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Amira perlahan membuka amplop yang baru saja di terimanya. Dahinya mengernyit melihat foto-foto dirinya dan juga putri kesayangannya yang selalu ia bangga-banggakan.
"Apa yang kamu lakuin?" tanya Amira menatap Amel garang.
"Kamu ngapain ikut campur urusan papah kamu?" ucap Amira dengan suara lantang.
Amel paham dengan situasi saat ini. "Papah tertekan Mah... Papah butuh bantuin butuh dukungan dari kita. Mamah selalu aja gengsi buat ngakuin kalau keluarga kita udah bangkrut"
"Bukan urusan Mamah" jawab Amira ketus. Wanita itu memalingkan wajahnya masih dengan raut emosinya.
"Bukan urusan Mamah? kalau seandainya Papah belum meninggal apa Mamah bakal nuntut Papah untuk cerai?"
"Kamu jangan berprasangka seperti itu Amel. Kamu anak Mamah, seharusnya kamu juga dukung Mamah. Mamah setia sama Papah kamu, ngga mungkin ninggalin Papah kamu cuma karena bangkrut. Mamah ngga ngakuin keluarga kita bangkrut itu demi kamu. Buat kamu Amel"
"Buat apa Mah... ?"
"Bahagia?. Coba kalau Mamah bilang sama temen-temen Mamah kalau Papah kamu bangkrut, berita itu akan menyebar luas sampe sekolah kamu. Kamu mau dibully? kehilangan temen-temen kamu?"
"Tapi ngga gini Mah... "
"Ngga gini gimana maksud---"
"Sampe Papah stroke, sampe Papah meninggal"
"Kamu nyalahin Mamah? kalau Mamah ini matre? cuma mau harta Papah kamu aja. Seharusnya Mamah yang tanya ke kamu, apa yang kamu lakuin?"
"A--Am--Amel ngga nglakuin ap-- apa--apa"
"Jangan bohong. Bodoh kamu, emang udah bener mereka ngga temenan sama anak kriminal, tapi Mamah sayang anak kriminal itu"
"Em--Mah... tapi Amel nglakuin ini buat Papah"
"Mamah pernah nasehatin kamu jangan pernah ikutan urusan orang dewasa. Kamu ngerti apa?, untung saja keluarga Mayra ngga nuntut kamu. Besok kamu pindah sekolah"
"Ngga perlu"
"Keputusan Mamah sudah bulat" Amira hanya membalas datar. Perasaan kecewanya sudah terlalu tinggi.
"Tem---"
"Masih punya temen kamu? kamu pindah sekolah karna kita juga ngga bakalan tinggal disini lagi. Biar kamu ada temen baru yang ngga tau kelakuan kamu disini"
****
Mayra berakhir di restoran yang juga merupakan milik keluarga Erikson. Awalnya Mayra juga ingin langsung pulang dan setelahnya rebahan sampe besok pagi. Tapi Adit dengan sifat pemaksanya, memaksanya untuk makan di restoran ini. Yang katanya lebih sehat, cowok itu juga sudah hafal betul sesampainya Mayra di rumah nanti pasti cewek itu tidak akan langsung makan dan malah mengurung diri di kamar.
"Makan" sambil menggenggam ponselnya Adit berusaha berbicara sabar. Bukannya dimakan Mayra malah mengacak acak makanan yang tersedia di piring itu.
"Kode buat di suapin?" tanya Adit dengan senyum jahilnya.
Mayra langsung mendongak kemudian kembali menunduk. Mulai menyendok makanannya dan memasukannya ke dalam mulut.
"Kamu makan sampe abis. Aku mau ke ruang manager sebentar" ucap Adit yang kemudian melangkah pergi.
Mayra yang memang sedang tidak mood untuk berbicara, cewek itu hanya mengangguk anggukkan kepala sebagai jawaban. Cewek itu kembali menyendokkan makanannya dengan lemas.
Sudah sekitar lima menit Adit tak kunjung balik. Mayra menatap lorong cafe menuju ruangan manager terus menerus. Makanan yang dipesan Adit tidak ia habiskan.
"Hai"
Mayra mendongak seraya mengernyit heran.
"H--hai?" jawab Mayra ragu.
"Boleh duduk disini?" tanya perempuan yang baru saja menyapa Mayra.
Mayra yang keheranan hanya menatap wajah perempuan itu dengan cengo. Mengangguk anggukkan kepala sebagai jawaban. Mayra seperti pernah melihat perempuan di depannya ini. Tapi entah dimana.
"Oh. Kenalin nama aku Yoora. Masih inget?" ucap perempuan itu.
Otak Mayra masih memutar memori beberapa minggu lalu. Dia perempuan yang dibicarakan Oma Adit ketika dirinya di Seoul. Juga, perempuan yang pernah datang ke rumah Adit. Benar, ada berapa perempuan lagi yang pernah mampir di kehidupan cowok itu?.
"Mayra kan? akhirnya aku bisa ketemu sama kamu, kenalan langsung"
Mayra hanya membalas dengan senyum kikuknya. Toh, perempuan didepannya sudah tahu namanya kan?.
"Aku bukan siapa-siapanya Adit kok"
"Hah?" Mayra menatap Yoora heran. Siapa yang akan bertanya status perempuan itu dengan Adit.
"Iya. Aku bukan mantannya Adit yang tiba-tiba dateng buat ngajak balikan atau apalah aku ngga tau"
Mayra mengangguk anggukan kepalanya. Mengerti, perempuan di depannya ini mengira Mayra akan mencurigainya?
"Seperti Clara mungkin?"
Mayra kembali mengangguk, dirinya juga bingung akan merespon seperti apa.
"Kesini sendiri?"
Mayra menggeleng. "Enggak" jawabnya seraya tersenyum simpul.
Yoora cukup mengerti untuk menebak dengan siapa Mayra datang dan keberadaan Mayra di restoran ini sudah menjawab unek-uneknya.
"Sebenernya waktu kalian baru balik dari Korea aku belum pulang dari sini. Mamah aku orang sini tapi udah cerai, jadi niatnya aku mau ngikut Mamah aku. Kamu jangan salah paham yah"
"Maaf. Aku bukan anak kecil yah" Mayra kembali fokus pada makanannya yang sudah habis. Jelas saja dirinya kesal, siapa juga yang bertanya tentangnya.
"Oh. Maaf, tapi aku mau jelasin sama kamu---"
"Hmm" Mayra hanya berdehem mengiyakan ocehan Yoora.
"Jadi aku itu cuma tetangga Adit aja, mungkin karna aku cerewet jadi Adit terpaksa ladenin aku. Kalau Clara, aku kenal dia pas waktu liburan disini dan kebetulan Clara ternyata pacarnya Adit jadi kita deket"
Mayra kembali mengangguk tapi wajahnya hanya fokus pada piring putih di depannya. Belum ada yang menarik.
"Katanya Adit sih kenapa dia tertarik sama Clara karna dia cantik, entahlah mungkin cinta monyet?"
"Hmm"
"Terus kalau masalah dia putus sama Clara karna Clara ternyata selingkuh sama musuhnya Adit sendiri, musuh pas di sekolah dulu. Jadi dia putusin Clara abis itu aku kena getahnya, di benci sama Adit katanya aku udah tau soal selingkuhannya Clara tapi aku malah diem. Tapi engga kok, pas masalah itu belum kelar aku harus ke pengadilan nemenin orang tua aku di persidangan cerainya. Adit ngira aku sama aja sama Clara, cuma ada pas senengnya aja. Tapi enggak, setelah sidang itu orang tua rebutan hak asuh aku---"
"Stopp. Lo ngga pesen minum atau makan?" tanya Mayra yang mulai malas mendengar ocehan masalah keluarga Yoora.
****
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boyfriend (New Version)
Teen Fiction[CERITA PERTAMA PUEBI MASIH BERANTAKAN] Ganti judul,,, judul awal my possessive boyfriend Follow akun penulis sebelum membaca Rank #1 in possessive [24-11-20] ~o0o~ Pacaran sama Aditya Erikson tuh beda. Rada-rada posesif dan ngelakuin sesukanya sen...
