Mayra mulai mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk dari celah celah ruangan serba putih, tempat dimana dirinya di rawat. Namun ia sadar sebelah matanya tertutup oleh perban putih tak hanya sebelah mata saja bahkan perban putih itu sampai menutupi bagian pipi dan dahinya. Walaupun hanya sebelah Mayra tetap risih dengan kondisinya saat ini.
Semua orang yang berada diruangan itu menatap Mayra dengan tatapan sendu. Walaupun diruangan itu hanya ada Willi, Ana, dan Marchel---- yang baru pulang tiga hari yang lalu, tepat dimana pada saat itu Mayra dikabarkan koma dan ada luka permanen yang serius dengannya.
Tangan Mayra terulur memegang balutan perban di sebelah wajahnya dan itu membuat tatapan mereka bertambah redup. Bertambah redup kembali saat Mayra mengetahui kondisinya saat ini.
"Ayah panggilin dokter dulu yah" ucap Willi dan melenggang pergi yang sebelumnya mengusap puncak kepala putrinya.
"Kenapa muka Mayra diperban Bun?" tanyanya sedikit kecewa dengan kondisinya saat ini.
Mayra dapat melihat dengan jelas Bundanya menghembuskan nafas berat sebelum menjawab pertanyaannya "Ngga ada apa apa" jawab Bundanya.
"Ngga ada yang perlu dikhawatirkan prinses" ucap Marchel membuka suara dengan maksud memberi ketenangan pada adik satu satunya.
"Beneran kan Mayra ngga kenapa napa?" hatinya tak yakin dengan semua ucapan orang orang. Namun ia harus yakin tidak mungkin kan keluarganya membohonginya?.
Marchel hanya mengangguk begitu juga dengan Ana.
****
Seminggu kemudian...
Sambil dipapah Mayra berjalan dengan pelan memasuki rumahnya setelah seminggu ia dirawat dirumah sakit. Langkahnya terhenti saat Bundanya menyambut kedatangannya sebelum menaiki tangga menuju kamar.
"Udah boleh pulang? Baru aja bunda mau kesana" ucap Ana dengan tangannya yang masih menenteng bekal.
Mayra hanya tersenyum "Mayra mau ke kamar dulu Bun. Cape"
Mayra hanya duduk didepan cermin meja riasnya sambil tangannya terulur mengusap sebagian wajahnya yang berbalut perban. Kata orang, ia tidak kenapa napa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi kenapa hatinya tak percaya dengan kondisinya yang katanya baik baik saja.
Suara knop pintu terbuka membuat pandangan Mayra yang semula ke cermin menoleh menatap orang yang baru saja masuk ke kamarnya.
Dengan membawa nampan yang berisi makanan lengkap dengan air minum berjalan mendekat kearah meja dan meletakkannya.
"Biar aku suapin" ucap Adit.
"Muka aku sebenernya kenapa Dit?" tanya Mayra yang merasa goyah dengan tanggapan orang orang yang katanya baik baik saja.
"Ngga ada apa apa. Sekarang kamu makan" ucap Adit. Sebenarnya ia sedih melihat kondisi Mayra yang rapuh jika gadis itu mengetahui kondisi sebenarnya.
"Kalau ngga ada apa apa kenapa aku ngga boleh buka perbannya" ucapnya dengan nada sendu.
"Itu karena luka kamu belum sembuh" bukan Adit yang menjawab tapi Marchel dengan tubuh kekar nya yang disandarkan ke pintu.
"Aku ngga terlalu bodoh kapan luka itu sembuh" ucap Mayra kekeh ingin melepaskan perbannya.
"Sekali aja May jangan keras kepala" ucap Adit memohon. Ia tak mau jika Mayra sampai sedih melihat kondisinya saat ini, tak tega melihatnya menangis menyesali takdir.
"Kalian nyembunyiin sesuatu kan?" tanya Mayra menatap curiga pada kedua lelaki yang menjadi lawan bicaranya.
"Apa yang disembunyiin? hilangkan sifat keras kepala kamu" ucap Marchel datar. Sebagai pribadinya menjadi seorang kakak yang tegas, dingin, namun perhatian dan sayang pada adik dan juga keluarganya.
"Kalau emang ngga ada yang disembunyiin kenapa aku ngga boleh buka perban ini hah?" ucap Mayra dengan suara lantang.
Tangannya terkepal dan sudah bersiap di ujung pengikat perbannya. Tanpa memperdulikan ucapan yang tertahan dari lelaki yang sedang bersamanya, tangan Mayra tetap berada di wajahnya dan tanpa menunggu waktu tangannya sudah bersiap untuk merobek perban yang menutupi wajahnya.
Betapa terkejutnya saat perban sudah jatuh ke lantai sentuhan tangan diwajahnya tidak halus seperti ada kerikil yang menempel di sebagian wajahnya dari dahi hingga sebagian pipinya. Wajahnya ia dekatkan pada cermin dan air mata langsung mencelus keluar dari kelopak matanya. Sedih rasanya saat mengetahui wajahnya kita sudah buruk rupa.
Tangannya terkepal dan mulutnya membisu tak bisa memprotes takdir yang membuat wajahnya rusak. Buruk rupa. Otaknya mulai memutar kejadian yang akan datang jika saja semua orang mengetahui wajahnya yang sudah buruk rupa. Pasti dan itu memang iya pasti dirinya akan dibully. Dengan emosinya yang sudah memuncak Mayra menghempaskan seluruh benda yang berada disekitarnya tanpa terkecuali kaca yang ada didepannya, tangannya memegang ponselnya yang semula tergeletak di atas meja dan melemparkannya ke cermin yang selalu ia gunakan untuk merias diri. Dan kini cermin itu pecah tak berutuh.
Dua lelaki itu ingin mencegah namun Mayra menahan "Pergi... pergi dari sini... " ucapnya dengan raut wajah rapuh.
"May, ngga ada yang perlu kamu khawatirkan" ucap Adit memohon. Dugaannya benar, cepat atau lambat Mayra juga akan mengetahui kondisinya sendiri. Benar dugaannya Mayra pasti akan mengurung diri setelah ini.
"Keluar Dit" ucap Marchel. Paham dengan kondisi Mayra yang memang ingin menyendiri.
Mayra menutup pintu dan menguncinya, kuncinya ia buang kesembarang arah. Mayra merasa dirinya sudah seperti sampah, sekarang ia tak cantik dan sebutan buruk rupa sepertinya memang cocok.
Tubuhnya ia rebahkan ke kasur queen sizenya, dengan posisi tengkurap sambil memeluk bonekanya Mayra menangis merutuki takdir. Otaknya selalu berfikir bagaimana dengan keadaan esok. Bagaimana jika sahabat sahabatnya mungkin sampai satu sekolah membecinya karena wajahnya yang sudah tak cantik lagi. Dan... bagaimana jika Adit meninggalkannya. Ia sudah tak cantik.
****
"Mas... gimana? kasihan Mayra" ucap Ana terlihat sekali raut wajah kekhawatirannya.
"Mayra akan baik baik saja" jawab Willi dengan wajah tenang yang ia usahakan.
Terdengar suara derap langkah menuruni tangga dan dua orang yang sedang berada di meja makan menoleh dan kemudian fokus kembali dengan kegiatannya masing masing.
"Gimana Dit? Mayra mau makan?" tanya Ana terdengar sendu.
"Mayra udah tau wajahnya" ucap Marchel dan Adit hanya diam tak sanggup melihat kondisi Mayra yang sebenarnya.
Ana terkejut, dugaan yang sama dengan Adit sekarang terwujud.
"Katanya ada yang nyabotase mobil Mayra. Benar?" tanya Marchel yang memang sudah mengetahui rumor itu.
"Ayah sudah tanya ke Keira. Bengkelnya ada di samping Cafe dekat sekolah" jawab Willi.
"Kita kesana Yah" ucap Marchel tersulut emosi.
"Ayah sudah kesana. Katanya ada seorang perempuan yang datang menyabotase mobil Mayra" ucap Willi menjelaskan.
"Siapa?" Tanya Marchel cepat.
"Clara"
Deg
Adit membelalakkan matanya terkejut dengan jawaban yang dilontarkan Willi. Clara adalah mantan kekasihnya, jika Clara pelakunya berarti Adit penyebab permusuhan diantara mereka. Rasa bersalah muncul dibenaknya, jika saja masa lalunya bukan bersama Clara, jika saja dulu ia tidak terpikat pada topeng yang Clara kenakan. Berandai andai saja tidak akan membuat wajah Mayra kembali seperti semula.
"Adit pamit pulang" ucapnya dan segera melenggang pergi tanpa memperdulikan tatapan bertanya orang orang.
"Pikirkan kondisi Mayra dulu. Jangan pikirkan orang lain" ucap Willi yang tahu apa yang akan Marchel lakukan setelah ini.
Marchel menetralkan emosinya dan menghembuskan nafasnya lelah.
****
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boyfriend (New Version)
Teen Fiction[CERITA PERTAMA PUEBI MASIH BERANTAKAN] Ganti judul,,, judul awal my possessive boyfriend Follow akun penulis sebelum membaca Rank #1 in possessive [24-11-20] ~o0o~ Pacaran sama Aditya Erikson tuh beda. Rada-rada posesif dan ngelakuin sesukanya sen...
