"Dulu kita sempat mengerti ketidaktahuan,"
👟👟👟
Hari ini kelas Devan sudah selesai. Lelaki itu sudah tak sabar untuk menemui pujaan hatinya. Ia memilih untuk bertemu di markas rahasia mereka, atap gedung fakultas seni.
Langkah Devan semakin terburu ketika ia mendapat pesan dari Alysa jika gadis itu sudah berada di atas sana.
"Lisa!" panggil Devan, setelah ia membuka pintu berbahan besi itu. Alysa hanya bisa menoleh dan tersenyum ke arahnya.
"Dari kapan?" tanya Devan sembari menempatkan dirinya di samping Alysa.
"Belum lama. Kamu baru selesai?" tanya Alysa.
"Iya. Lumayan repot, sih tadi. Tapi gara-gara mau ketemu kamu, aku percepat, deh," candanya.
"Eh? Maaf, ya kalau gitu," ujar Alysa yang merasa tak enak hati.
"Bukan gitu maksud aku. Aku cuma bercanda. Udah jangan bahas lagi, mending bahas yang lain aja, gimana?" tanyanya sambil menaik-turunkan alisnya.
"Yaudah, tapi sebenarnya aku ke sini juga mau minta maaf soal waktu itu. Maaf bikin kamu lupa waktu dan nggak jemput adik kamu. Aku tahu kamu pasti kena marah, 'kan?" tanya Alysa guna meyakinkan ucapannya.
"Nggak apa-apa, kok. Lagian udah biasa kalau papa suka marah-marah. Kita cuma salah paham doang, kok. Nggak usah diambil hati," ujar Devan.
Alysa hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Sungguh walaupun Devan mengatakan hal itu, tetap saja dirinya masih dirundung rasa bersalah. Karena dia, lelaki yang selama ini tak mengacuhkan adiknya itu, kini sudah lupa.
"Van? Aku seneng kita bisa kaya gini, tapi kayaknya papa kamu emang nggak suka sama aku, deh. Aku rela kok kita udahan," ujar Alysa sambil menggoyangkan kedua kakinya.
"Nggak! Aku nggak bisa! Aku masih mampu menghadapi itu semua, kok. Aku mau memperjuangkan cinta kita. Aku sayang sama kamu dan selamanya akan seperti itu," ujar Devan sembari menggenggam tangan Alysa.
"Kalau berat kamu ngomong aja. Aku nggak mau maksa kamu, Van. Kamu layak dapat yang lebih dari aku," ujar Alysa dengan kepala yang sudah menunduk.
"Udahlah, Lis. Kita lanjut jualan aja. Aku nggak mau bahas ini lagi," ujar Devan dengan muka yang masam. Tujuannya menemui Alysa bukan untuk ini, jujur ia kecewa.
"Maaf bikin kamu marah," ujar Alysa lagi.
"Aku nggak marah, cuma aku kecewa aja. Ayo!" ajak Devan dengan kedua tangan yang sudah menenteng keranjang kue Alysa. Sebenarnya gadis itu punya kedai, tapi sudah hancur karena ulah ayah Alysa sendiri.
Alysa menghela napasnya, ia mengikuti langkah Devan yang berada di depannya. Jika saja ia tak terlalu merepotkan Devan, ia mungkin masih mau menjalin hubungan dengan lelaki itu.
👟
A
lysa langsung menjatuhkan keranjang bawaannya. Gadis itu memilih untuk memejamkan mata dan menutup telinganya rapat-rapat. Devan yang melihat dari belakang langsung mendekapnya. Ingin rasanya ia masuk dan ikut campur urusan ini. Namun, ia tak ada hak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rentang Waktu [END]
عاطفية[ABIMANYU'S SERIES BOOK II] -Rentang Waktu- Mengisahkan tentang penyesalan seorang Devan selama 7 tahun lamanya karena memiliki keterikatan janji bodoh dengan Ayahnya. Lelaki pengecut yang mencampakkan gadis 7 tahun tercintanya hanya karena mimpi me...
![Rentang Waktu [END]](https://img.wattpad.com/cover/181513465-64-k595577.jpg)