(√6)²

1.1K 52 5
                                        

Kucing.

Pict Raynia Zalsava (@ray_zal)

👟👟👟

Gadis itu menggerutu dengan segala berkas yang harus diurusnya. Bukan masalah jika banyak berkas itu dikerjakan sendiri, tapi ini beda, sangat membuatnya gugup.

Alysa mendesah kesal.

"Kenapa, sih, Pak!?" gertak Alysa.

"Kenapa itu kenapa? Saya nggak ngapa-ngapain. Toh, saya cuma duduk, 'kan?" belanya tanpa rasa bersalah.

"Iya, nggak salah. Cuma Bapak itu ngapain pake di sini. Bapak pulang sana!" suruh Alysa dengan kesal.

"Pulang? Aneh kamu, ini kantor saya, terserah saya mau pulang atau nggak. Kalo pun pulang, sih, bisa. Cuma nanti kamu di sini sendiri, apalagi kata Papa di sini angker kalo malem." Devan mengelus lengannya merinding.

"Ih! Bapak jangan bikin saya takut, dong! Yaudah, Bapak pulangnya nanti aja." Alysa pasrah, ia tak bisa membantah lagi.

"Yaudah, deh! Kalau begitu saya mau buat kopi dulu," ujar Devan sebelum meninggalkan ruangan milik Alysa.

Sepeninggalan Devan, gadis itu terus terbayang dengan ucapan bos besarnya.

"Sial!" umpat Alysa sebal.

Setelah kata umpatan itu, tiba-tiba saja listrik padam. Alysa berteriak sekeras mungkin. Devan yang mendengar langsung berlari, meninggalkan kopi yang mungkin sudah tumpah.

"Sa!! Alysa!" panggil Devan dalam kegelapan.

Alysa mendengarnya, gadis itu langsung bangkit dari duduknya guna meraih tubuh kokoh Devan. Ya, lelaki itu memanfaatkan blitz smartphone miliknya untuk menerangi.

Terkejut, kata yang dapat menggambarkan Devan saat ini. Sebuah pelukan hangat dan isakan yang membuatnya kembali ke tujuh tahun lalu.

"Devan, aku takut! Aku takut gelap, Van. Aku takut ayah ke sini! Hiks," ujar Alysa dengan isakannya.

Hati Devan tersentuh, ia tahu kata 'ayah' yang disebutkan Alysa. Seseorang yang sebenarnya tak pantas disebut ayah. Devan tahu segalanya.

"Udah, jangan nangis! Ada aku di sini," ujar Devan guna menenangkan Alysa. Lelaki itu membalas erat pelukan Alysa.

1...2...3...

Cahaya langsung berpijar, menusuk indera pengelihatan kedua insan itu. Alysa sadar, ia mendorong tubuh Devan dan sedikit menjauh.

"Maaf, Pak," ucap Alysa dengan kepala yang tertunduk.

"Pulang!" ujar Devan. Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Devan.

"Maksudnya?"

"Ayo pulang! Saya antar," jelas lelaki jakung nan tampan itu.

"Tapi itu pekerjaannya belum selesai, Pak. Besok, kan, Bapak pakai it-," ujar Alysa terpotong.

"Besok. Sekarang pulang!" keukeuh lelaki itu.

Rentang Waktu [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang