Setelah perdebatan panjang yang tidak bermanfaat antara Anastasius dan Athanasia, mereka sampai di kediaman Anastasius dengan selamat.
"Kau bilang rumah sederhana? Ini bahkan lebih besar dari istana ruby!!"
Athanasia mengomel panjang, setelah sepakat untuk ikut, mereka membicarakan tentang tempat tinggal, kebutuhan, dan lainnya.
"Haaah... Harus nya kau bersyukur! Jika kau berhasil kabur tadi, kau hanya akan menjadi anak yatim piatu yang tinggal di gubuk kecil jauh dari kerajaan."
"Cih seharusnya paman juga bersyukur, jika aku tidak menceritakan isi novel itu, paman tidak akan ada di dunia ini lagi sekarang."
"Kau!"
Anastasius menghela nafas seperti apa pendidikan nya? Putranya saja Ethaniel De Alger Obelia walau nakal tidak separah ini, anak ini benar benar luar biasa mengagumkan.
Saat pintu depan dibuka mereka di sambut oleh pelayan dan maid yang berjejer rapi.
"Aayyaaaahhh.." Teriakkan menggema di kediaman Anastasius.
Seorang anak laki laki berambut pirang emas dengan mata permata menuruni tangga lalu melompat ke arah Anastasius.
"Wah kau semakin besar semenjak terakhir kali aku melihatmu."
"Ayah itu baru seminggu yang lalu, bagaimana ayah tahu kalau aku semakin besar?"
"Heee kau selalu tumbuh setiap saat bocah."
"Berhenti memanggilku bocah ayah! Aku sudah enam tahun!"
"Tidak kau masih bocah bagiku..."
"Ehemn gue merasa terkucilkan disini."
Athanasia menggunakan kata 'Gue' nya untuk menyela pembicaraan antara ayah dan anak itu.
Ayolah jangan kan digendong seperti itu bertemu dengan ayahnya saja Athanasia tidak pernah.
Kalau pun bertemu itu pasti akan menjadi malapetaka terbesar dalam hidupnya.
"Ah ini putraku yang akan menjadi kakak mu, Ethaniel De Alger Obelia."
"Ayah..dia siapa?"
"Oh dia adik sepupumu, namanya?? Bentar ayah lupa menanyakannya, namamu siapa tuan putri?"
"Markonah!"
"Owh namamu Markonah, nah dengarkan dia Ethan, namanya Markonah De Alger Obelia."
Athanasia yang mendengarnya semakin kesal, ayolah sudah di asinkan dijemur lagi kurang apa coba?
"Eh paman kau itu gila apa gimana sih! Nama ku itu Athanasia De Alger Obelia!! A-Te-Ha-A-En-A-Es-I-A Athanasia!! Emosi ni!"
"Kau sendiri yang mengatakan namamu Markonah kan tadi."
"Yang benar sajaaaaaa!!?!"
Athanasia semakin kesal, dia melompat lompat tidak jelas sambil menyumpah serapahkan Anastasius.
Kelakuan Athanasia ini mengundang gelak tawa dari para perkerja dan maid yang berbaris di setiap sisi pintu.
"Jadi kau Athanasia? Kenapa kau ada disini?"
Ethan bertanya dengan nada aneh, dia bingung mengapa ayah nya membawa pulang adik sepupu yang tak pernah dia kenal?
"Paman mengundangku untuk melakukan pesta piyama denganmu."
Athanasia tersenyum penuh arti sambil menatap Ethan dan Anastasius.
"Pfftts...aku tidak tau kalau ayah suka hal semacam itu? Kupikir itu hanya untuk para wanita." Ethan mengeluarkan ekspresi bengong nya.
"Apa? Aku membawanya kesini bukan untuk hal itu! tapi karena dia baru saja membuat masalah di kediamannya!!"
"Tunggu kapan aku membuat masalah?" Tanya Athanasia tak terima.
"Sejak kita bertemu kau sudah membuat masalah!"
"Apa?!"
"Ya sudah lah kita akhiri ini, aku juga banyak kerjaan, dan kalian yang akrab! Jangan menambah perkerjaan!"
Anastasius berjalan ke ruang kerja miliknya, meninggalkan Athanasia dan Ethan di ruang masuk bersama para pelayan, dia harus segera mengerjakan data data untuk Athanasia, belum lagi masalah perkerjaan nya yang lain.
"Hoy Ethan, aku haus!"
"Kasar sekali kau! Aku ini lebih tua darimu panggil aku kakak."
"Ya..ya, Kakak Ethan adik sepupu lucu dan imutmu ini sedang kehausan? Bisakah kau mengambilkan nya untukku?"
"Cih.."
"Padahal aku kira kau anak yang sopan."
"Memangnya kau sopan?"
"Gak sih."
Ethan menghela nafas, Dia memerintahkan salah satu dari kakak pelayan untuk menyiapkan minuman hangat untuk Athanasia, dan memerintahkan yang lain untuk membersihkan Athanasia.
"Akan ku pinjamkan baju tidurku."
"Ya makasih."
"Dari mana kau belajar tata krama?"
"My a*s."
"Hah?"
"Nggak."
Athanasia segera mengikuti para maid yang Ethan suruh tadi, dia baru sadar jika terlalu lama di dekat Ethan maka dia akan mengajarkan bahasa bahasa kasar ala dunia nya.
Aku baru saja mendidik anak umur 6 tahun menjadi pria tak bermoral.
Setelah selesai bersih bersih dan memakan beberapa cemilan malam Athanasia pun beristirahat dikamar Ethan.
Ya tidur bersama...
masih anak anak, masih berhubungan darah, masih keluarga.
So far? Fine fine aja...
Waktu bersamaan di Istana Ruby:
"hiks hiks Tuan putri... hiks hiks." Lili menangis tersedu sedu didalam kamar milik Athanasia.
"Kau harus tegar Lilian aku yakin tuan putri akan baik baik saja." Seth meyakinkan Lili bahwa Athanasia pasti aman, Seth sudah mengajukan permintaan pencaharian untuk Athanasia ke Istana raja.
"Bagaimana hiks kau bisa setenang ini, Seth? Hiks hiks tuan putri menghilang!! Hiks hiks.." Hannah bersuara serak, dia mulai memikirkan hal hal aneh yang akan terjadi pada tuan putri.
"Tuan putri dimana engkau?" Ucap Seth bersedih.
Seluruh Istana Ruby gempar saat putri menghilang, mereka berfikir putri masih berada disekitar istana, mereka mencari keliling liling dan dibantu oleh beberapa kesatria yang berjaga di sekitar.
Dengan peristiwa hilangnya putri, hal ini membuktikan bahwa raja memang tidak peduli dengan putri pertama, bahkan dia tak perlu repot repot untuk mengirimkan kesatria atau memperluaskan pencaharian.
Dia hanya menutupi kasus hilangnya putri pertama.
Berhari hari, berbulan bulan hingga bertahun tahun pun berlalu, dan Tuan putri pun tak pernah ditemukan.
Hingga suatu hari ditemukan bangkai mayat yang sudah membusuk sejak lama namun memiliki ciri ciri yang mirip dengan putri pertama.
Dan akhirnya kerajaan resmi menyatakan bahwa putri Athanasia yang menghilang itu tewas saat penculikkan.
Bersambung...
ESTÁS LEYENDO
Different Fate For My Athanasia
FanfictionLee Jihye, wanita muda yang bereinkarnasi sebagai salah satu tokoh di novel yang dia baca sebelum tidur... Dari semua tokoh yang ada di novel itu kenapa malah jadi dirinya? 'Aku harus kabur' 'Mau kabur kemana kau tuan putri?' Kenapa kau... Just fanf...
