"Hm— mungkin warna ini lebih cocok untukmu." Athanasia sejak tadi mencocokan setelan Haven menggunakan sihir sesuka hati.
"Aku tidak ingin menjadi pengawalmu." Tolak Haven dengan keras.
Athanasia tidak mempedulikannya dia tetap tersenyum lucu dan dengan sesuka hati mengubah pakaian Haven sesuai warna kesukaannya.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan di ibukota yang besar ini? kau kan sebatang kara." Tanya Athanasia.
"Apapun." Jawab Haven pelan. "Aku akan lakukan apapun."
"Jarang ada yang mau mempekerjakan seseorang yang buta sepertimu." Ceplos Athanasia. "Aku tertarik padamu sejak awal."
Haven terdiam sejenak, ternyata dia memang sangat polos dan tak tahu apa apa.
"Selesai, kau cocok dengan setelan ini." Ucap Athanasia menilai. "Lebih cocok jika kau bersamaku, jadi—"
"Lindungi aku."
Haven tertegun sejenak, Athanasia duduk disalah satu kursi empuk yang ada disitu. "Aku akan bertanya satu hal."
"Bertanya apa?"
"Kau bukan hanya tertarik pada wajahku bukan?" Tanya Haven serius. "Pendengaranku cukup baik."
"Ya." Jawab Athanasia cepat. "Ada beberapa hal yang bisa aku manfaatkan darimu."
Haven tak bisa berkata kata, sebenarnya sifat asli Athanasia itu yang mana? Baik atau jahat? Lucu atau seram? Bercanda atau serius? polos atau licik?
"Tapi sebagai balasannya aku menyiapkan tempat tinggal, uang, dan makanan enak setiap hari." Jawab Athanasia sedikit bersikap imut.
"Kau tahu benar aku tidak bisa melihat, kenapa kau bernada aneh begitu?" Tanya Haven aneh.
"Ish." Kesal Athanasia. "Cepatlah turun atau kakakku akan membidik kepalamu menggunakan panah."
Athanasia berjalan keluar dengan wajah kesalnya, Ethaniel yang melihatnya sejak tadi hanya berguman aneh.
Masih saja licik seperti dulu
-Ethaniel
"Oh? Kakak!" Tangan Athanasia melambai, kini wajah kesalnya hilang dengan sempurna. "Aku dengar kau ditolak dengan seorang wanita lagi?"
"Adik macam apa kau!"
"Hehe—"
Athanasia mendekati Ethaniel dan tersenyum seperti biasa. "Kita harus mengajar tuan putri bodoh itu lagi sekarang, apa aku harus bawa Haven?"
"Jangan memancing masalah." Tegas Ethaniel.
"Hei kalian gibahin siapa?" Teriak Dimitris didepan sana.
"Kau." Serempak mereka.
"Sopan gak tuh?"
.
.
.
.
.
"Huh saya rasa saya akan menyerah—" Ucap Jennette resah. "Hal yang sulit dan tidak saya mengerti malah semakin banyak."
Athanasia dan Ethaniel tidak merespon apa apa, Jennette malah terlihat semakin sedih, dia pikir dia sudah bisa akrab dengan kakak beradik itu tapi nyatanya hubungan mereka tak lebih dari seorang guru dan murid.
"Tuan putri besok adalah hari terakhir kami mengajari anda, setidaknya anda harus bisa mengerjakan hal ini." Tunjuk Athanasia pada tumpukan dokumen di atas meja. "Dengan begitu anda akan sedikit diakui."
"Kapan kalian akan pulang?" Tanya Jennette.
"Dalam beberapa hari kami akan pulang." Jawab Ethaniel.
ESTÁS LEYENDO
Different Fate For My Athanasia
FanfictionLee Jihye, wanita muda yang bereinkarnasi sebagai salah satu tokoh di novel yang dia baca sebelum tidur... Dari semua tokoh yang ada di novel itu kenapa malah jadi dirinya? 'Aku harus kabur' 'Mau kabur kemana kau tuan putri?' Kenapa kau... Just fanf...
