Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Gara gara air putih...

940 112 7
                                        

Setelah waktu kurungan Duo Alger bersaudara berakhir mereka hanya berdiam diri di mansion tanpa melakukan apapun.

Menahan godaan hawa nafsu mereka untuk pergi ke ibukota.

Mengapa??

Karena uang jajan mereka sudah sangat menipis dan semakin menipis, mau tidak mau mereka harus menunggu sampai akhir bulan untuk menambah uang jajan mereka yang juga sudah terpotong.

Dan disinilah mereka berdua, sebuah ruangan besar penuh dengan tumpukan buku tebal, Mereka disuruh untuk belajar karena nilai mereka yang cukup*—

Anjlok...

Terutama nilai sejarah mereka, duo Alger bersaudara itu sebenarnya sangat cerdas hanya saja mereka tidak ada niatan untuk mengembangkan otak mereka.

Dan sikap mereka yang sangat luar biasa tidak bermoral, bukan berarti Anastasius selaku ayah tidak pernah menegur atau membawakan guru tata krama untuk mereka berdua.

Emang dasar merekanya yang kurang ajar sejak lahir, setiap guru yang didatangkan untuk mengajar mereka berdua pasti akan mengundurkan diri kurang dari seminggu.

Jadi Anastasius hanya membiarkan mereka berdua bersikap sesuka hati, asal tidak terlalu kelewatan Anastasius tidak akan menghukum mereka.

"Haah aku rasa aku akan mati untuk kedua kalinya."

Athanasia melempar beberapa kertas penuh soal sejarah itu ke sembarang arah, ekspresi jenuhnya sudah tak bisa disembunyikan.

"Ya benar, mana mungkin manusia normal bisa menjawab pertanyaan ini!"

Ethaniel seperti akan mematahkan pena bulu miliknya, matanya sudah muak memandang tulisan keriting sejak tiga jam lalu, menurut Ethaniel dirinya bisa memakai kacamata di usia muda jika terus melihat tulisan seperti itu.

"Untuk apa kita belajar masa lalu?"

"Entahlah."

"Agar kalian tidak salah mengambil keputusan dimasa depan."

Bukan Athanasia maupun Ethaniel melainkan Anastasius yang menjawab, manusia satu itu masuk keruangan dengan tersenyum penuh selidik.

"Kalian sudah selesai mengerjakan soal itu?"

"Belum dan tidak akan!" Serentak Athanasia dan Ethaniel.

"Manusia macam apa yang merancang pertanyaan semacam ini?" Ethaniel menyodorkan soal soal yang penuh dengan cerita itu pada ayahnya.

"Aku berani bertaruh bahkan akademi di Arlanta tidak sekejam ini dalam membuat pertanyaan!" Athanasia mencak mencak marah.

"Tapi kalian berdua bukan pelajar dari Arlanta, bukan kah pertanyaan ini di ambil dari bab 2? Kalian bukannya sudah sampai bab 6?"

"Harap maklumi saja ayah, kami berdua bahkan tidak tau satu pun materi dari pelajaran membosankan itu, kami kan jarang masuk." Ujar Ethaniel tak berdosa.

Athanasia dan Anastasius melotot tidak percaya, jika Anastasius melotot karena kenyataan tentang anak anak nya yang sering bolos kelas sejarah, maka Athanasia melotot karena Ethaniel membongkar kartu joker mereka berdua.

Athanasia pov:

Si gila ini benar benar!

Jika hal ini berimbas pada uang saku ku lagi maka aku sendiri yang akan menghabisinya, sudahlah sekarang aku seperti mayat hidup karena kekurangan uang jajan.

Aku kira perkataan bahwa bangsawan juga bisa miskin itu hanya mitos, ternyata itu benar adanya.

Ya aku sudah berfikir untuk meminjam sedikit uang dari Alisha nanti tapi bagaimana dengan kakak biadap ku ini? Tak mungkin ku biarkan si aneh ini mati kemiskinan nanti.

Different Fate For My AthanasiaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora