kai pemimpin baru

270 6 0
                                        

Jennie hanya bisa menangisi kepergian kekasih nya itu. Tubuhnya masih bersandar lemah di pelukan disa.

Sementara itu awan masih melangkah cepat menuju gerbang Sekolah. "Woi.. Lepasin, bangsat... " Awan berteriak ke arah musuh nya yang sedang memukuli Alex. Semua mata sontak menatapnya dan seseorang yang di panggil bos oleh teman-temannya menoleh ke arah awan. "Hahaha... Keluar juga lu akhirnya. " Seringai nya menatap awan.

"Terus mau lu apa sekarang? Mau satu lawan satu apa langsung semuanya? " Tantang awan seraya menunjuk mereka semua. "Serannggg.... " Pekik seseorang di seberang awan memberi komando kepada teman-temannya untuk menyerang awan.

Wooossss...

Awan berlari ke arah kerumunan lawan nya ia melompat mengarahkan kakinya ke sembarang lawan dengan sekali tendangan saja dua orang terjatuh karna tak bisa menghindari serangan awan yang begitu cepat. Kepalan tangan kanannya menghantam rahang satu orang di depan nya dan tangan kiri nya mengarah ke perut musuh yang satunya. Namun tiba-tiba dari arah belakang musuhnya menghantam kepala belakang awan hingga ia limbung dan hampir jatuh namun ia masih bisa mengontrol tubuh nya dan ia berbalik secepat kilat dan segera melayang kan kakinya ke arah perut musuh nya.

Jennie yang melihat itu semakin larut dalam tangisan nya tak Kuasa melihat kekasih nya di keroyok. Hingga akhirnya ia limbung dan terjatuh untung saja disa sigap menangkap tubuh jennie yang sudah lemah tak sadarkan diri. "Jennie.." Pekik disa dan murid-murid yang lain segera memapah nya ke UKS.

Disisi lain awan yang mendengar teriakan disa sempat menoleh ke arah jennie dan kesempatan ini tak di sia-siakan oleh kai seseorang yang di panggil bos oleh mereka. Ia langsung menedang bahu awan hingga ia terjatuh. Dua orang musuh nya yang melihat awan terjatuh segera memegangi kedua tangan awan dan dengan cepat sebuah pukulan mendarat di rahang nya membuat wajahnya berpaling dan sebuah pukulan telak di pipi atas nya membuat darah segar mengalir dari mulut nya.

Alex n the gank hanya bisa melihat itu karena ia tak berani melawan mereka. "Bos... Awan berani juga ya dia gak takut lawan orang segitu banyak nya. " Puji salah satu anak buah Alex. "Diem lu..." Bentak Alex.

Suasana semakin kacau manakala disa yang berlari ke tengah perkelahian mencoba melerai. Disa memang di kenal pemberani dan tak takut kepada siapapun termasuk kepada laki-laki. Ia berlari dan menarik salah satu musuh yang memegangi lengan awan hingga cengkraman nya mengendur namun ia menepis dengan enteng tangan disa hingga ia terjatuh dan kesempatan ini di manfaatkan awan untuk melepaskan genggaman tangan musuh yang satunya. "Disaaa... " Pekik awan menghampiri disa dan langsung memeluk tubuh nya memberi perlindungan dari laki-laki yang akan menendangnya.

Hampir lima orang menendang tubuh awan secara bersama-sama demi melindungi disa ia rela menerima semua itu. Alex hanya bisa melihat saja karena ia tak punya keberanian untuk melakukan perlawanan lagi setelah tadi ia babak belur hadir bulan-bulanan.

Tubuh awan mulai melemah seperti sudah tak sanggup menahan serangan itu. "Cabut-cabut... Ada polisi.. " Teriak kai dan bersamaan dengan itu mereka pergi meninggalkan awan yang sudah tak berdaya. Ia terjatuh tepat di pelukan disa dan hingga akhirnya ia di papah oleh gerry dan kawan-kawan ke UKS.

Polisi masih berjaga di luar gerbang sekolah karena takut ada serangan susulan. Orang tua jennie datang ke sekolahan untuk menjemput nya. Sementara disa masih mengobati awan yang tak kunjung siuman ia membersihkan luka di wajah awan dengan alkohol dan mengolesi obat merah.

Beberapa saat kemudian tangan awan menyingkirkan tangan disa yang berada di hidungnya memegang minyak angin. Ia memicingkan matanya perlahan ia membuka lebar matanya. Disa adalah sosok pertama yang ia lihat.

"Hmm... Benerkan lu pasti ngobatin saat gw terluka. " Awan meringis menahan sakit di bibirnya. Dan duduk di pinggir ranjang UKS."Udah jangan banyak omong dulu.. Luka lu masih belum kering tuh. " Jawab disa ketus menunjuk bibir awan.

"Makasih ya udah selamatin gw lagi. " Awan tersenyum tipis. "Lu kali yang selamatin gw. Kenapa lu sampe rela kayak gini sih demi gw? " Tanya disa. "Nah, lu sendiri kenapa tiba-tiba nolongin gw pas lagi di keroyok? " Awan bertanya balik. "Gw gak tau tiba-tiba aja tubuh gw mendadak berlari sendiri buat nolongin lu gw juga merasa heran. " Disa menjelaskan tentang keanehan yang terjadi pada diri nya.

"Dis.. Itu yang namanya cinta, karna cinta akan saling melindungi satu dengan yang lainnya walaupun nyawa taruhannya. " Awan menggenggam tangan nya. Disa hanya menunduk terdiam tak berani menatap mata awan ia takut tiba-tiba awan mencium bibir nya.

"Dis... Lu takut gw cium ya? " Goda awan memegang dagu disa dan mengangkat nya ke atas hingga wajah disa kini mereka saling beradu pandang.

"Apaan sih? Gak lucu ah.. " Disa mencoba menepiskan tangan awan dari dagunya namun belum sempat tangan nya menyentuh tangan kanan awan langsung menggenggam tangan disa dan ia mengarahkan tangan itu ke pipi nya ia mendengus manja di tangan disa. Tanpa sadar tangan disa pun membelai pipi awan dan awan menciumi punggung tangan disa.

Tampak jelas senyuman terulas di bibir disa ia nampak menikmati cumbuan lembut bibir awan di tangan nya. Namun tak berlangsung lama hingga akhirnya awan menghentikan cumbuan itu. "Jennie kemana dis? " Tanya awan memecah kesunyian UKS. "Dia di jemput sama orang tuanya. " Jawab disa.

"Gw harus kesana gw harus minta maaf sama dia karena gara-gara gw dia jadi pingsan. " Awan bangkit dari ranjang nya. "Menurut gw sih lu jangan kesana dulu deh karena yang ada lu malah di marahin ortunya kan gara-gara lu jennie pingsan." Cegah disa. "Lebih baik lu minta maaf lewat HP aja dulu baru besok lu minta maaf langsung sama dia. " Lanjut nya.

Dosa Disa (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang