Jam istirahat awan sudah menyandarkan tubuhnya di bawah pohon. Baru saja mata nya terlelap tiba-tiba disa datang menghampiri nya.
"Awan... " Pekiknya.
"Hn... Apaan sih? " Awan memicingkan matanya.
"Gimana kemarin belajar nya? " Tanya disa sambil menyesap es boba.
"Biasa aja. " Jawab nya malas.
"Gimana Arini? " Tanya nya lagi penasaran.
"Gimana apa nya? " Awan merebut minuman di tangan disa dan menyesap nya.
"Dia gak ngomong Apa-apa? "
"Ngomong apa sih? Gw gak ngerti maksud lu? " Awan mengedikan bahunya.
"Jadi beneran dia gak ngomong Apa-apa? " Disa mulai serius bertanya.
"Udah deh gak usah main Teka-teki sama gw. " Awan menatap dingin ke arah disa.
"Arini suka sama lu. " Disa membalas tatapan awan dengan wajah datar.
"Tau dari mana lu? " Kini tatapan awan semakin menusuk mata disa.
"Dia ngomong sama gw pas kita pulang bareng. " Disa menceritakan pertemuan nya dengan Arini saat pulang bersama.
"Kenapa lu, selalu kayak gini sih? " Awan berdiri.
"Kayak gini gimana maksud lu? " Disa merasa heran.
"Lu, selalu melakukan hal bodoh. Gw tau lu sengaja ngajak Arini pulang bareng supaya lu tau kan dia suka sama gw apa gak? Terus begitu lu tau lu mau jodohin gw sama dia. Ya kan? " Cercah awan.
"Hiks... Maafin gw. Wan. " Air mata disa meluruh dia tidak percaya awan akan semarah itu padanya.
"Gw sayang sama lu, gw gak mau ada yang ganggu hubungan kita. Dan lu selalu menyembunyikan hubungan kita karena lu gak mau jennie tau tentang hubungan kita. Apalagi lu udah mengkhianati persahabatan lu sama jennie sebelum dia jadi pacar gw. " Awan menumpahkan seluruh kekesalannya. Ia merasa disa mempermainkan dirinya.
"Gw gak mau nasib Arini sama kayak jennie. Status nya jadi pacar gw supaya bisa menutupi hubungan kita. " Lanjut nya.
Seorang perempuan berlari kearah mereka dengan tatapan nanar dan isakan tangis yang tak bisa terbendung lagi. Air mata nya sudah membasahi pipinya. Matanya merah.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi awan. Jennie menangis menatap mereka. Rupanya sedari tadi jennie berada disana ia tak sengaja mendengar semua percakapan mereka.
"Aku gak nyangka kamu bakal se jahat ini sama aku wan. Aku sayang sama kamu tulus wan. Kenapa kamu gak tolak saja semua perasaanku daripada aku harus mendengar langsung tentang semua kebohongan ini dari kamu sendiri. " Jennie menunjuk wajah awan.
"Maaf... " Awan pergi tanpa menatap disa pandangan nya kosong pikiran nya kacau. Otaknya tak mampu berpikir jernih.
"Jen... " Panggil disa saat jennie berlalu tanpa menatap disa.
"Cukup dis, Gw gak mau kenal lu lagi. " Sungut jennie membelakangi disa.
LlLlLl
Para siswa berhamburan keluar saat melihat seorang siswa terkapar dengan wajah penuh luka tersungkur di tanah.
"Wah, itu kan Rendi anak kelas 10 yang katanya paling di takuti di kelas 10 siapa yang bikin dia babak belur? " Ujar salah satu siswa yang sedang melihat Rendy di papah oleh Teman-teman nya.
"Katanya dia dihajar sama awan? " Jawab temannya.
"Awan anak yang paling di takuti di kelas 12 ? Kok bisa? " Tanya nya lagi.
"Gak tau gimana kejadiannya tiba-tiba dia udah tersungkur aja di depan kelasnya. " Jawab nya sambil mengangkat bahunya.
Flashback on
Awan sedang melangkahkan malas kakinya setelah di tampar jennie. Masih terlihat jelas kekesalan dalam raut wajahnya hatinya terasa panas. Matanya memandang nanar lorong kelas yang penuh dengan para siswa yang sedang menunggu jam istirahat selesai.
"Rendi, balikin uang teman gw. Kalau gak gw aduin lu sama guru BK. " Ancam Siska melihat Rendi sedang memalak teman sekelas nya.
"Ah, banyak omong lu. Sayang aja lu cewek kalau cowok udah gw pukul lu. " Hardik Rendi.
Plak...
Tamparan keras mendarat di pipi Rendi. Siska mendelik seolah menantang Rendi.
"Pukul aja kalau lu berani. " Tantang Siska.
Mereka bertengkar di depan kelas Siska mereka menghalangi jalan awan. Yang sedang lewat dan dengan santainya ia memisahkan Rendi dan Siska yang berdiri berhadapan dengan kedua tangan nya. Hingga tubuh Siska tersentak punggung nya menabrak pintu. Sedangkan Rendi terjatuh menabrak tiang penyangga atap kelas.
"Woi, anjing kurang ajar lu. Mata lu buta. Hah? " Umpat Rendi sukses menarik perhatian awan.
Ia menghentikan langkah nya dan menoleh kearah Rendi dengan tatapan membunuh. Siska menutup mulutnya dengan punggung tangan nya. Karena ia tahu yang sedang dihadapi Rendi adalah awan. Lelaki yang waktu itu berkelahi di kantin. Awan kembali berjalan.
"Dasar banci lu, heh takut lu sama gw? " Rendi menunjuk wajah awan dan menarik kerah nya dan menyentak nya ke tembok.
"Kita selesaikan di belakang perpus di sini banyak anak cewek. " Seringai awan.
Mereka berjalan kebelakang perpus disana memang sangat sepi tempat nya. Beberapa siswa laki-laki sebagian mengikuti mereka kebanyakan adalah siswa kelas 10 teman Rendi.
Sesampainya disana Rendi langsung memukul awan dari belakang. Tubuh Awan terhuyung ke depan dan dengan cepat ia menoleh ke belakang. Rendi melayang kan tendangan namum awan berhasil menghindar. Dan dengan sekuat tenaga ia menghantam dagu Rendi hingga tubuh nya gontai dan tanpa memberi celah awan kembali menarik kerah Rendi dan menghujam perut nya dengan lutut.
Rendi mengerang kesakitan awan tak memberi belas kasihan kepada musuhnya. Ia menghantam wajahnya berkali-kali hingga babak belur. Rendi sudah tak mampu lagi bangkit.
"Terima kasih udah menghibur gw. " Awan menepuk-nepuk pipi Rendi sebelum pergi meninggalkan Rendi yang sudah tak berdaya.
Flashback off
"Siapa nama lu? " Awan kini ada di hadapan Siska wajahnya tampak datar menatap Siska. Tapi tak seseram tadi.
"Siska kak. " Jawab nya dengan Ragu-ragu dan terlihat ketakutan di wajahnya.
"Hn... Gw minta maaf yah atas sikap gw tadi. Lu gapapa kan apa ada yang sakit? " Mata awan menjelajahi punggung Siska.
"Gapapa kok kak.. Gak ada yang sakit cuma kaget aja. " Jawab nya membuang wajah tak berani menatap wajah awan.
"Gak sopan tau kalau ngomong sama orang gak melihat mata nya. " Celetuk awan sukses membuat jantung Siska berdetak lebih kencang dari tadi dan keringat dingin menetes dari pelipis nya.
Bagaimana tidak? awan mengungkung dirinya di depan pintu kelas kedua tangan awan mengurung tubuh Siska.
"Maaf kak... " Siska menatap kearah awan.
"Hehehe... Bercanda jangan terlalu serius. " Awan menarik kedua tangannya.
"Nih buat lu sebagai permintaan maaf gw ke lu. " Awan menyerah sebatang coklat kepada Siska. Dan berlalu pergi dari hadapan nya.
Lutut Siska seketika lemas ia tak mampu berdiri bahkan hampir terduduk bila ia tak segera meraih gagang pintu. Lalu seketika tersenyum tipis memandangi coklat pemberian awan.
Jangan lupa vote
Dan komentar nya.
Dipublikasikan
06 Oktober 2020
Pukul 17.40 wib
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosa Disa (End)
Novela JuvenilWarning banyak adegan 🔞 Disa gadis impian para pria hidupnya Tenang-tenang saja sebelum bertemu dengan murid pindahan yang mulai mengubah dirinya untuk mengikuti nya.selalu memberi kejutan dalam setiap langkah nya selalu ada perhatian buat nya dan...
