Awan

228 6 0
                                        

Tiga hari kemudian awan melangkah ragu memasuki kelas. Tanpa banyak berkata ia menaruh kartu undangan ultahnya di atas meja satu persatu. Sontak pemandangan ini membuat teman-temannya mengernyitkan kening melihat tingkah aneh awan.

"Bro, apaan nih? Siapa yang ultah? " Seru kevin teman sekelas nya.

"Gw, kalo lu mau dateng silahkan kalo gak juga gapapa. " Jawab nya datar.

Seisi ruangan tertawa tak tahan melihat ekspresi wajah awan yang bersemu merah menahan malu. "Udah gede masih di rayain kayak bocah TK aja lu? " Celutuk indra. Membuat seisi kelas bergemuruh. "Terserah lu aja lah pada. " Awan menggaruk kepala yang tidak gatal.

Jam istirahat ini awan menghampiri jennie di kantin. Ia lalu duduk di depan jennie dan disa. "Tumben lu ke kantin? " Celutuk disa. "Gw mau ngasih ini buat jennie dan lu. " Sahutnya dengan wajah malas menyerah kan dua kartu undangan kepada mereka berdua.

"Kamu masih di rayain ultah nya? " Jennie penasaran menunggu jawaban kekasih nya itu. "Nyokap sama bokap gw yang maksa. " Gerutunya.

"Hahaha... Jagoan ultah masih aja di rayain? " Ejek disa. "Disa... " Jennie mencubit lengan disa. "Ya.. Ya.. Sorry. " Disa langsung menundukkan kepala nya.

"Kalo kalian gak mau datang juga gapapa kok gw malah seneng. Jadi gw gak malu.. " Ucap nya malas.

"Kita pasti datang kok.. " Jawab disa.

"Lu, bisa bayangin gak jen.. Cowok lu pas di acara ultahnya pake tuxedo terus dasi kupu-kupu dan di Kepala pake topi caping yang menjulang ke atas...hahaha hahaha. " Disa menggoda jennie.

"Dis, udah ah jangan godain awan terus, udah yuk masuk bentar lagi bel masuk. " Ajak jennie.

Di dalam kelas 11 IPS 2 pak sutomo guru matematika sedang mengajar dan memberikan penjelasan ia menghentikan ucapannya dan mata nya berhenti tepat ke arah awan yang duduk di bangku paling pojok. "Awan... Awan... Awaaannn... " Pekik nya. Sontak saja membuat awan membulatkan mata nya yang sedari tadi tertidur. "Ya.. Pak.. " Jawab nya.

"Keluar kamu sampai jam pelajaran bapak selesai. " Seru nya.

Awan keluar dan segera bergegas ke toilet untuk cuci muka. Langkah nya terhenti ketika ia keluar toilet dan mendengar suara-suara mencurigakan di belakang toilet. Ia memutuskan untuk mengintip dari balik tembok toilet.

"Woi.. Ngapain lu? " Pekik alex menarik kerah seragam awan dari belakang. Hingga awan terjatuh terpental ke belakang.

"Oh, lu lagi ngintip gw sama Anak-anak yang pada ngerokok ya? " Selidik nya.

"Sini lu... " Alex menarik paksa kerah awan hingga ia mengikutinya.

"Woi... Bro nih bocah lagi ngintip kita nih gw takut dia ngoceh lagi sama guru BK." Seru alex sambil menghempaskan tubuh awan ke arah teman-temanya.

"Kita apain nih bos enaknya biar kagak buka mulut? " Ucap salah satu anak buah Alex.

"Kita bikin dia kapok aja berurusan dengan kita biar dia gak selalu ikut campur. " Jawab Alex.

"Hajar... " Perintah Alex.

Langsung saja tanpa menunggu perintah dua kali mereka langsung melancarkan bogem mentah secara bersamaan ke arah awan tanpa memberi kesempatan awan untuk bergerak.

"Alex... Cukup... Atau gw aduin lu ke guru BK? " Pekik disa.

Serentak mereka berhenti mengeroyok awan. Disa melihat awan sedang terbatuk-batuk menahan sakit. Terlihat darah segar mengalir di bibir dan pelipisnya.

"Banci lu semua beraninya keroyokan. " Hardik nya lagi.

"Aghh... Kenapa sih lu selalu belain dia terus? Apa jangan-jangan lu suka lagi sama dia? " Pekik awan.

"Jangan ngomong sembarangan lu?" Disa menunjuk wajah Alex.

"Ngaku aja deh, lu sadar dis, dia kan cowok temen lu masa mau lu embat juga sih? "

Plak

Sebuah tamparan mendarat di pipi Alex. Disa sudah pada batas kesabaran nya. Alex mendelik marah ke arah disa ia sudah di kuasai emosi dan tiba-tiba ia mendorong tubuh disa hingga terjatuh. Dan seraya berkata. "Jangan pernah gampar gw di depan teman gw. " Teriak nya.

Disa duduk bersimpuh dan menangis merasakan sakit di tubuh nya. Awan bergegas berlari ke arah disa.

"Lo, gapapa dis? Maafin gw ya gara-gara gw lu jadi kayak gini. " Awan menyeka air mata disa.

Alex dan The gank pergi meninggalkan mereka.

"Woi... Banci berani nya lu sama perempuan doang lu. " Teriak awan.

Alex segera menoleh dan ke arah awan. "Apa lu bilang, lu mau mati. Eh? " Seru nya.

Awan berdiri dan saat ia hendak melangkah disa meraih tangan awan. "Gw mohon jangan wan, nanti luka lu tambah parah. " Cegah disa.

"Gapapa dis, biar mereka kenal siapa gw. " Ucap nya percaya diri.

Alex menghampiri awan di ikuti teman-temanya. Awan berlari ke arah Alex ia langsung melompat dan menendang dada Alex hingga terjungkal. Ia menendang wajah Alex hingga darah segar mengalir dari mulut Alex. Mata nya mengedar ke arah teman-temanya. Ia menghindari pukulan yang mengarah ke wajah nya ia berkelit ke arah kanan. Tangan kiri nya menghujam di perut dan tangan kanan nya mengarah ke wajah nya. Satu musuh tersungkur ia melayang kan tendangan ke perut musuh berikutnya lalu  tangan kiri nya menghantam dagunya hingga kepala nya mendongak dan terpental ke belakang.

Awan sempat limbung saat sebuah tendangan menghantam punggung nya. Namun ia segera menyeimbangkan tubuh nya dan membalikkan tubuh nya dan melayang kan bogem mentah tepat ke arah rahang musuhnya hingga ia tersungkur Ke tanah.

Alex mencoba bangkit dan awan segera menarik kerah Alex dan langsung meninju perut Alex berkali-kali hingga kakinya terangkat mengambang di atas tanah. Dan tangan kanannya melayangkan pukulan telak ke rahang Alex hingga akhirnya ia tersungkur lagi ke tanah.

"Awan cukup... " Disa memeluk tubuh awan dari belakang untuk menghentikan awan. Perlahan mata awan yang sedari tadi tampak seperti hewan buas sekarang kembali menjadi hangat dalam dekapan disa.

Dosa Disa (End) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang