"Terima kasih ya kak... " Ujar Lintang membuka Shitbel mobil awan.
"Ya... Sama-sama. " Awan tersenyum getir menahan rasa sakit di sudut bibir nya yang biru.
"Hmm... Bibir kakak masih sakit yach? Sini aku obati. " Lintang mencari kotak p3k di dashboard mobil awan.
"Gapapa kok nanti juga sembuh. " Awan mencoba menenangkan gadis cantik yang kini sibuk membongkar isi kotak p3k.
"Ihh... Kakak entar infeksi kalo gak segera di bersihin. " Lintang menuang alkohol di permukaan kapas dan Mengoleskan di sudut bibir awan yang biru. Ia mengoleskan dengan Hati-hati.
Mata indah Lintang bertatapan dengan mata tajam awan. Mereka masih menikmati suasana itu. Wajah Lintang dahulu yang maju tangan nya mengelus pipi awan dan bibirnya semakin maju. Ia mengecup sudut bibir awan yang luka. Lalu tersipu malu saat awan tersenyum ke arah nya.
"Hati-hati ya kak... " Lintang bergegas keluar dari mobil awan tangan nya melambai ke arah awan. Mobil awan telah tak terlihat lagi.
Pagi ini cuaca terlihat mendung sinar mentari enggan nampak walaupun hanya secercah cahaya. Mobil awan terparkir di bawah pohon yang cukup rindang. Dialasi dedaunan yang mengering mobil itu terparkir rapi di samping mobil Alex.
"Lex, sini lu... " Awan memanggil Alex yang baru saja turun dari mobilnya.
"Ada urusan apa lu? " Ketus Alex membulatkan mata nya.
"Lu, kenal anak yang kemaren? " Awan menatap tajam mata bulat Alex.
"Ooohhh... Bima maksud lu? Dia anak kelas 10 pindahan dari sekolahan lu yang dulu. " Alex menyeringai sinis ke arah awan yang tak melepaskan pandangan nya dari mata Alex.
"Lu, Hati-hati sama dia bro gw dengar-dengar kai aja kalah duel satu lawan satu sama dia dan satu lagi lu jauhi Lintang karena Bima suka sama dia. " Alex memperingatkan rival nya itu.
Jam istirahat ketenangan awan terganggu saat Bima menghampiri nya dan menantang nya untuk berduel.
"Udah, gw bilang sama lu jauhi Lintang. " Bima menarik kerah seragam awan dan melayang kan pukulan yang ketiga nya ke wajah awan hingga bibir awan mengeluarkan darah segar.
"Bim, lu yakin nih orang yang di bilang sama kai? " Celetuk salah satu teman Bima.
"Kalo di liat dari cerita kai kayak nya kita salah orang. Mana mungkin pecundang kayak dia bisa ngalahin kai. Hahaha. " Mereka semua terkekeh mendengar ejekan Bima.
"Hahaha... Udah puas belum lu mukulin gw? Kalo udah puas gw mau ke UKS nih. " Awan terkekeh mendengar ucapan Bima.
"Heh, anjing jangan banyak bacot lu... "
"Berhenti atau gw laporin guru BK lu semua. " Teriak disa menghentikan kepalan tangan Bima yang mengarah ke wajah awan.
"Cabut... " Bima memberikan instruksi meninggalkan awan.
"Lu, gapapa wan? " Disa memegangi dagu awan untuk melihat luka nya.
"Gapapa sayang... " Awan mencoba menggoda disa dengan senyum getirnya.
"Ihh... Gak lucu tau. Ayo ke UKS. " Disa menarik tangan pria imut itu ke UKS.
Disa dengan telaten mengoleskan obat merah di sudut bibir awan yang terluka. Walaupun bibir nya terluka namun awan terus saja menggoda disa. Yang fokus dengan luka awan.
"Kenapa gak diajak ke toilet cewek aja sih? " Awan meringis kesakitan kala disa menekan luka nya dengan jari telunjuk nya.
"Ihh... Awan ngomong mulu... " Disa protes saat obat merah itu meluncur ke bawah.
Awan tersenyum melihat disa cemberut awan menarik lengan disa dan memeluk erat pinggang nya. "Apa perlu gw lakuin di sini. " Awan menempelkan dahi nya ke dahi disa.
"Dasar mesum gak tau tempat. " Umpat disa mencoba berontak dari pelukan awan. "Tapi lu suka kan... " Awan semakin senang menggoda disa.
"Hah... Wan lepasin ah, entar ada yang liat tau. " Disa merengek manja.
"Ya udah cium dulu sini bibir lu. " Awan mengerat kan pelukan nya hingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa centimeter saja.
"Ihhh... Gak mau. Lepasin gak kalo gak gw teriak nih. " Ancam disa.
"Teriak aja emang gw takut sama ancaman lu, biarin aja Orang-orang pada tau kalo lu Diam-diam sayang sama gw ya kan? "
"Iihhh... Ngeselin banget... " Disa semakin cemberut dan memalingkan wajah nya.
Tanpa persetujuan wajah disa di hadapkan ke wajah nya dan langsung di lumat bibir ranum itu tanpa bertanya lagi. Mata disa melotot awan semakin dalam menyesap bibir itu lidahnya membuka bibir disa yang mulai menganga lidah mereka pun saling bertautan saling menyapu di dalam rongga.
Kini sudah tidak ada perlawanan lagi dari disa tangan nya di lingkarkan di leher awan. Wajah mereka saling memutar berlawanan.
Awan berjalan menuju pelataran parkir Lintang menghampiri nya. Ia merasa khawatir setelah mendengar Bima menghajar awan kembali.
"Kakak gapapa? " Lintang memperhatikan wajah awan dengan seksama. Ia menolehkan wajah itu ke kiri dan ke kanan. Namun tiba-tiba tangan awan menyelipkan rambut Lintang yang terjuntai ke daun telinga.
Brukk..
Bima melayang kan tinju nya dari belakang hingga awan terjungkal. Rupanya awan sudah menyadari kehadiran Bima dan ia sengaja buat Bima cemburu dan menghajar nya kembali.
"Mau lu apa sih sebenernya? Hah. " Hardik Bima kearah wajah awan.
"Kakak gapapa? " Lintang memegangi bahu awan. "Bima, lu Apa-apaan sih? Lu ada masalah apa sih sama kak awan? " Umpat Lintang.
"Gw gak suka liat dia Deket-deket lu. " Mata Bima membelalak.
"Emang lu siapa sih bim? Pacar gw bukan tapi kenapa lu ngelarang gw deket sama kak awan. "
"Ya... Karena gw sayang sama lu dan gw suka sama lu. Tapi kenapa lu pilih berandalan itu. Hah? "
"Terserah gw. Kalo gw suka nya sama kak awan. Lu mau apa? Hah. " Lintang menegaskan perasaan nya kepada awan.
Arrrggghhh...
Bima menyerang awan dengan melayang kan pukulan. Namun lintang coba menghalangi Bima namun Bima tak bisa menghentikan pergerakannya hingga akhirnya pukulan nya mengenai wajah lintang hingga ia tersungkur kesakitan. Lintang menangis kesakitan sudut bibir nya biru dan darah segar mengalir dari bibir nya.
"Lu, gapapa lin? " Awan memapah tubuh lintang masuk ke dalam mobilnya.
Bima masih berdiri menatap tak percaya dengan yang di lakukan nya. Mata awan menyalak ke arah Bima tatapan nya tajam seperti saat ia menghajar Alex dan kawan-kawan nya. Ia berjalan cepat tanpa sedikit pun melepaskan pandangannya sosok lelaki yang baru saja melukai wanita nya. Bima berlari dengan tangan terkepal dan wajah yang garang seperti hewan buas yang akan menerkam mangsanya. Menantang sombong awan yang bahkan belum pernah menyentuhnya dengan pukulan.
Bersambung...
Jangan lupa vote
Dan komentar nya.
Dipublikasikan
02 September 2020
Pukul 18.30 wib
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosa Disa (End)
Ficção AdolescenteWarning banyak adegan 🔞 Disa gadis impian para pria hidupnya Tenang-tenang saja sebelum bertemu dengan murid pindahan yang mulai mengubah dirinya untuk mengikuti nya.selalu memberi kejutan dalam setiap langkah nya selalu ada perhatian buat nya dan...
