1. Setitik cahaya

8K 639 278
                                    

Pertemuan singkat, namun mampu membuatku terpikat.Ervin Satya Wijaya

Happy Reading!

...........

"Enghh ...." Erangan meluncur dari bibir tipisnya. Sesekali ia juga menguap, matanya berkedip menyesuaikan cahaya yang masuk menembus retinanya.

Diliriknya jam weker yang tepat berada di meja samping kasurnya. Jam menunjukan pukul empat pagi, gadis itu segera bergegas ke kamar mandi guna membersihkan diri.

Selepas dari kamar mandi dirinya tak lupa untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Setelahnya ia bersiap-siap memakai seragam sekolah.

Gadis yang cantik juga memiliki otak yang jenius itu menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menghela nafas berat.

"Semangat untuk hari ini," ujarnya sambil tersenyum simpul.

Kemudian, gadis itu melangkahkan kakinya menuju meja makan. Untuk sesaat ia berhenti di tangga atas, melihat interaksi kedua orang tuanya serta Abangnya yang begitu terlihat harmonis, tanpa dirinya.

Ia tersenyum sendu. Hatinya berdenyut nyeri melihat pemandangan yang sudah sepeti makanan sehari-harinya sejak beberapa tahun silam.

Kadang ia sering bertanya pada dirinya sendiri. Kapan ia bisa ikut bergabung bersama keluarganya lagi?

"Bahagia aku terletak pada kalian dan lukaku pun tercipta karena kalian. Kalau boleh jujur, aku iri sama Abang. Dia bisa sedeket itu sama kalian."

Selalu saja seperti ini. Saat dirinya ikut bergabung, pasti suasana yang tadinya ramai oleh candaan kini hening tak terelakkan. Semua menatapnya sinis.

"Pagi Bu, Yah, Abang," sapanya ramah.

Bahkan sapaannya saja mereka abaikan. Seolah tadi hanya angin lewat. Sungguh miris.

Dirinya sudah terbiasa dengan sikap keluarganya sekarang. Tidak, mungkin lebih tepatnya terpaksa untuk terbiasa.

Acara sarapan hanya diselimuti hening. Hingga suara Dodi, Ayahnya memecah keheningan yang tiba-tiba tercipta.

"Bu, Ayah berangkat ke kantor dulu. Sudah siang nanti terlambat." Dodi bangkit diikuti Istrinya dan juga Anak pertamanya. Tyllo mencium tangan Dodi sopan.

"Kalau begitu Tyllo juga mau berangkat ke kampus dulu. Tyllo ada jadwal pagi ini. Tyllo duluan ya. Ayah, Ibu."

Tyllo Saputra, atau biasa dipanggil Tyllo itu adalah Abangnya. Ia selisih 3 tahun dengannya. Sekarang Tyllo berkuliah di Universitas Jakarta. Semester 4 dan mengambil jurusan kepolisian.

Selepas kepergian Abangnya, ia juga langsung mencium tangan Dodi bermaksud untuk pamit pergi sekolah. Ia sedikit tersentak ketika dengan kasarnya Dodi menepis tangannya.

Ia tersenyum tipis. Sudah biasa, namun apa salahnya ia ingin mencoba lagi bukan?

"Ayah hati-hati ya," ucapnya meskipun tahu tidak akan ada balasan.

Sakit, rasanya sakit, dirinya berusaha mati-matian menahan gejolak rasa sesak di dadanya. Ayahnya tidak peduli, Ibunya pun tidak peduli, Abangnya juga sama.

Tidak akan ada yang peduli sesakit apa dirinya saat diabaikan mereka. Semuanya terlalu menyakitkan untuknya.

Senyumnya kembali mengembang. "Ibu, Ayah. Aku berangkat sekolah dulu ya, Assalamualaikum."

Dirinya berlari kecil keluar rumah sambil menahan cairan bening yang siap lolos dari pelupuk matanya.

Kenapa?! Kenapa harus dirinya yang merasakan semua ini?

Story StelaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang