Aku balik lagi.
Jangan lupa vote comment and share ya. WAJIB!!
Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Makasih yang udah vote dan comment.
Happy reading! 📖
🍁🍁🍁
”Close your ears. Show them if you are not as bad as they think.“
- From Alga to Alivia-
••••
"Kamu yakin mau sekolah?"
Alivia mendesah pelan. Padahal ia sudah berada di sekolah, tapi kenapa Papanya terus bertanya seperti itu?
"Yakin, Pa."
"Maafkan Papa, nggak bisa ada di deket kamu."
Alivia mengulas senyum. "Iya, Pa. Lily ngerti."
Ya, saat ini Adi tengah berada di luar negeri untuk mengurus bisnis yang ada di sana. Dan Alivia, sangat memahami itu.
"Jaga diri kamu di sana, Papa tutup dulu telponnya. Bentar lagi meeting soalnya."
"Iya."
Setelah percakapan singkat antara Alivia dan Adi melalui sambungan telepon, Alivia segera memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Lalu mematikan kran air dan keluar dari bilik toilet. Sengaja Alivia menyalakan kran air agar pembicaraannya dengan sang Papa tidak terdengar hingga di luar.
Gadis itu mencuci tangannya di wastafel yang ada di dalam toilet. Lalu mengeringkan tangannya dengan tissue. Ia juga menatap pantulan wajahnya di cermin. Mengambil tissue lagi dan membersihkan wajahnya yang tampak lelah.
Mengambil tas miliknya yang menggantung di paku lalu keluar dari toilet dan menuju kelas. Pagi-pagi, ia langsung mendapat telpon dari Papanya. Untuk itu, Alivia tidak langsung ke kelas, gadis itu terlebih dahulu ke toilet.
Siswa-siswi yang ia lewati menatapnya dengan intens, Alivia mengedikkan bahu berusaha untuk tidak memperdulikan itu.
Sesampainya ia di kelas, teman sekelasnya menatapnya semua. Termasuk Viona, Melly dan Karina. Alivia langsung duduk di kursinya. Lalu ketiga temannya itu menatap padanya.
"Nggak buka group WhatsApp angkatan?" tanya Melly.
Alivia menggeleng, Karina menunjukkan room chat dari group WhatsApp pada Alivia. Di group itu dibahas jika Alivia melakukan penyogokan pada pihak sekolah sehingga bisa langsung kelas XI, padahal menurut umur dan kelulusan SMP, seharusnya Alivia masih kelas X. Jadi, bisa dibilang jika Alivia tidak melewati kelas X lebih dulu.
Alivia sebenarnya tidak terlalu mempedulikan jika nama baiknya tercemar. Toh, kalau mereka semua tau apa yang terjadi akan malu sendiri.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, sementara ketiga temannya menunggu apa yang akan Alivia lakukan.
"Perlu gue—"
Alivia mengangkat tangannya. "Nggak perlu, gue bisa sendiri." ujarnya dengan nada dingin.
Karina menghela napas, jika Alivia sudah berkata demikian. Entahlah, apa yang akan terjadi pada mereka yang telah menyebarkan berita ini.
"Al, tangan lo? Itu kenapa?" tanya Viona menyadari akan hal itu.
"Nggak apa." jawab Alivia cepat.
Alivia mengambil ponselnya, mencari kontak seseorang lalu menghubunginya. Sebelumnya ia menatap Karina.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZIDANE [END]
Teen Fiction[FOLLOW sebelum BACA] [Terbit di Glorious Publisher] [Crudeltà Story #1] [Adiyasa Story#1] Cover by Riska graphic (BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN) Zidan, ketua geng motor dengan segala ketampanannya dan pesonanya membuat banyak kaum hawa terpikat. Na...
![ZIDANE [END]](https://img.wattpad.com/cover/235985954-64-k865553.jpg)