Part 34

578 29 0
                                    

Ara, Bisma, dan Fikri sudah berkeliling mencari Nisha dimana-mana. Mereka terus merasa khawatir akan keadaan sahabatnya saat ini.

Fikri terus saja memaki-maki akan keluarnya berita tersebut.

"Fik bisa fokus nyetir dulu gak sih!" Sahut Ara yang duduk di belakang. Meskipun mereka harus segara menemukan Nisha tetapi mereka juga harus berhati-hati dalam berkendara.

"Tau nih!" Ucap Bisma.

Ara terus berusaha menelfon nomor Nisha tapi usahanya percuma karena Nisha mengabaikan panggilan telfonnya.

"Ya allah Niss angkat sekali aja pliss...." lirih Ara karena sangat merasa ketakutan akan hal yang mengerikan.

"Jangan berpikiran negatif dulu Nisha gak mungkin ngelakuin hal yang merugikan dia" ucap Bisma.

"DI ANGKAT!" Seru Ara yang sangat senang.

"Niss lo dimana?"

"Lo gak apa-apakan?"

"Jawab Nis kita semua khawatir sama lo"

"Gu...gue hiks hiks ada di..... ap..aper...temen hiks hiks" terdengar balasan dari seberang sana dengan suara yang sesegukkan.

"Ya udah lo tunggu di situ jangan kemana-kemana gue bakalan nyusul sama yang lain"

"Ka..kalau bonyok hiks hiks gu..gue nelf..nelfon jangan di...angkat"

"Oke-oke gue janji gak bakalan angkat sampai lo sendiri yang ngizinin"

Tut tut tut

Panggilan berakhir, Ara merasa sedikit lega mengetahui Nisha yang ternyata berada di apartemen. Beberapa hari lalu memang mereka berempat memutuskan untuk membeli apartemen milik keluarga Fikri agar bisa lebih dekat menuju ke kampus mereka.

Sampainya di apartemen Fikri menitip mobilnya kepada salah satu satpam lalu mereka bertiga lari masuk ke dalam menyelonong orang-orang. Kata maaf yang paling sering keluar dari bibir mereka bertiga kala menyenggol orang lain.

Saat sudah berada di depan pintu kamar Nisha, Ara mulai memencet kata sandi yang memang dia juga tahu. Pintu kamar terbuka dan menampak Nisha yang sudah lesuh. Pakaiannya masih sama dengan dress biru tadi, hijabnya juga masih terpasang. Bedanya make up yang tadinya sangat cantik kini menjadi sedikit tak karuhan. Bekas tisu juga sangat banyak di melingkari Nisha.

Ara berjalan lebih dulu dengan perlahan, di belakangnya terdapat Bisma dan juga Fikri yang menutup pintu kamar dengan perlahan.

"Niss lo gak apa-apa kan?" Ara tahu Nisha sedang tidak apa-apa pertanyaan tadi hanya sekedar basa-basi.

Nisha menggeleng lalu memajukan badannya memeluk Ara, Ara yang juga tak kuasa menahan tangisnya melihat sahabatnya yang sedang kesedihan juga ikut menangis.

Nisha kembali menangis sesegukkan, sunggu awal malam yang menyenangkan di akhiri dengan menyedihkan.

Bisma dan Fikri hanya bisa diam dan menahan amarah, mereka berdua tertunduk, baru kali ini mereka berdua melihat Nisha yang menangis separah ini.

Ara menarik nafas dan menghembuskan kembali dengan perlahan, dia tidak boleh ikut menangis terlalu lama jika dia menangis lalu siapa yang akan menenagkan Nisha?

"Niss udah ya jangan nangis terus kasihan air mata lo jatuh percuma" ujar Ara sambil mengelus punggung Nisha.

"Jangan nangisin orang kek dia Niss gak guna!" Sahut Fikri yang sejak tadi sudah merasa kesal.

"Setuju!" Timpal Bisma.

Nisha melepas pelukannya lalu mengambil tisu sebelum akhirnya ia berbicara

Superstar (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang