[Follow dulu sebelum baca]
Belum revisi!!
Nikah?
Lewat perjodohan?
Itu yang harus mereka alami.
Ini cerita kehidupan pernikahan mereka.
Kata semua orang, cinta karena paksaan tak akan bertahan lama, cinta karena perjodohan itu rapuh, entah apakah it...
"Seluruh nya ayo berkumpul, abi bawa kabar gembira" ucap Danish siang itu
"Kabar apa bi?" ucap Dzaki yang baru saja pulang dari sekolah dan langsung berkumpul
Seluruh penghuni rumah berkumpul di satu tempat yang sama, mereka bingung dan bertanya tanya kabar apa yang akan di sampaikan Danish sore itu.
"Kabar baik apa?" ucap mereka semua
"Nanti dulu, abi masih menunggu Billal dulu" ucap Danish tersenyum tak karuan.
Tak lama kemudian Billal pulang dari restoran, dan memasuki rumah nya, ia sangat bingung kenapa semua orang berkerumun.
"Kalian kenapa?" ucap Billal dengan berjalan menghampiri mereka
"Abi ada kabar bahagia untuk kita semua" ucap Dzaki saat itu
"Kabar? Apa?" ucap Billal bingung
Semua orang memasang muka penasaran, dari anggota keluarga, sampai pembantu ikut penasaran saat itu.
"Anak dari teman abi sudah menerima perjodohan ini!!" ucap Danish dengan semangat
"Alhamdullilah!" ucap mereka semua dengan berjamaah dan serempak.
"Billal juga ikut bahagia" ucap Billal dan langsung mendapat pelukan dari seluruh anggota keluarga nya.
"Paman Billal, paman Billal" panggil anak kecil yang membuat semua orang menoleh
"Iya kenapa Alim?" ucap Billal dengan langsung berjongkok menyetarakan tinggi nya dengan anak kecil itu.
"Seperti apa bibi ku nanti?" ucap Alim yang mulai berangan angan.
"Dia seperti.." ucap Billal bingung, karena dia pun belum pernah bertemu dengan calon istri nya itu, dan bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan itu.
"Dia seperti bidadari?" ucap Alim seketika membuat semua orang tertawa.
"Iya, kau benar, ia seperti bidadari" ucap Billal dan langsung memeluk keponakan nya itu.
"Billal... Kamu akan menikah dengan nya seminggu lagi" ucap Danish menepuk pundak anak nya itu.
"Iya pa"
Semua tersenyum ke arah Billal, mereka tak menyangka bahwa anak kesayangan keluarga ini akan segera bertemu jodoh nya.
"Permisi ya keponakan paman, paman mau berganti pakaian dulu" Ucap Billal dan langsung pergi ke kamar nya di lantai dua.
****
[KediamanRezata]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Pa hati hati ya.." ucap Arumi memegang tangan Musab dengan erat saat memasuki rumah mereka.
Musab baru saja pulang dari rumah sakit, ia telah menelepon Danish tadi pagi, mereka sangat senang karena perjodohan ini berjalan lancar. Dan Arumi sendiri sudah mengetahui nya.
"Kak tolong bawa papa ke kamar ya" ucap Arumi dan langsung pergi ke kamar nya.
"Oke" ucap Afnan dan memegang erat tangan Musab.
Afnan segera membawa Musab ke kamar nya, Afnan membaringkan tubuh Musab ke tempat tidur dengan pelan, dan di tutup selimut sampai dada.
"Papa istirahat dulu ya, Afnan kembali ke kantor dulu" ucap Afnan
"Iya" hanya jawaban singkat itu yang bisa ia ucapkan.
Lalu Afnan langsung melesat pergi keluar kamar.
[KamarArumi]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamar yang di dominasi warna coklat, putih, dan abu abu itu di tinggali oleh Arumi seumur hidup nya, ini merupakan saksi bisu perasaan nya, saat ia sedih, senang, takut, gugup, dan beberapa hal. Namun ia tinggal di sini sudah tak lama lagi. Pernikahan nya sudah di tetapkan, minggu depan adalah pertunangan nya, dan setelah itu pernikahan.
"Halo Nasyifa angkat dong, Astaghfirullah ni bocah!!" ucap Arumi memegang ponsel nya
Sudah delapan kali berdering, Nasyifa atau yang biasa di panggil syifa mulai mengangkat.
"Iya sayang ku kenapa?" ucap sahabat nya itu saat mengangkat panggilan itu
"Lo ini, kok gak angkat angkat sih?" ucap Arumi kesal
"Gua tidur, soal nya tadi pagi baru pulang syuting" ucap syifa
"Syifa...gua di jodohin oleh orang tua gua.." rengek Arumi
"Selamat ya teman, siapa calon lo?" ucap syifa semangat
"Gua gak tau orang nya, papa gak ngasih tau apa apa, nama nya juga enggak" ucap Arumi
"Lah?! Gimana tu? Masa gak tau orang nya?" ucap syifa khawatir
"Gua juga gak terima sebenarnya kalau harus di jodoh jodoh in, tapi apa boleh buat, papa gua gunain kelemahan gua sih"
"Ooh kelemahan lu yang soal kematian itu?"
"Iya.."
"Udah deh terima aja, sapa tau jodoh loh bagus"
"Tapi kan syifa.."
"Bye Arumi, gua mau lanjut tidur"
Telepon itu seketika terputus, teman nya itu mungkin sangat kelelahan, jadi tak menghiraukan rengekan Arumi.
[KamarBillal]
Hal yang sama juga terjadi pada Billal, ia tak sanggup membayangkan bagaimana kehidupan nya nanti jika ada seorang istri. Setelah mendengar kabar dari Danish, ia langsung pergi ke kamar nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamar yang di dominasi warna abu abu dan putih itu rapi dan bersih, seperti kamar laki laki pada umun nya, tidak terlalu banyak barang barang, entah apa yang terjadi jika di tambah satu orang wanita di kamar itu, apakah masih akan serapi itu? hanya waktu yang bisa menjelaskan.
"Aku juga penasaran bagaimana wanita itu" ucap Billal dengan merebahkan diri nya di tempat tidur.
Billal sama penasaranya dengan keponakan nya tadi, ia tak tau bagaimana sosok wanita yang akan menjadi pendamping hidup nya itu.
"Sudahlah.. Tak perlu di pikirkan, ini adalah hal yang terbaik" ucap Billal dan langsung pergi mengganti pakaian nya.