[Follow dulu sebelum baca]
Belum revisi!!
Nikah?
Lewat perjodohan?
Itu yang harus mereka alami.
Ini cerita kehidupan pernikahan mereka.
Kata semua orang, cinta karena paksaan tak akan bertahan lama, cinta karena perjodohan itu rapuh, entah apakah it...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Billal memarkirkan mobil nya di depan sebuah vila minimalis, yang semua bagian vila itu adalah kayu jati, memiliki pemandangan indah yang di kelilingi hutan, dan jika berjalan ke arah timur, kita akan di beri pemandangan hamparan kebun teh yang sangat luas.
"Rum.. Kita udah sampai" ucap Billal membangunkan Arumi yang masih tertidur pulas
"Hoaahhg!" Arumi mengup, ia membuka mata nya
"Yuk masuk, lo bisa lanjutin istirahat di dalam" ucap Billal dengan memegang tangan kanan Arumi
Mereka melangkah menuju rumah itu, namun pintu nya masih terkunci.
"Lah kok ter kunci? Lo gak salah alamat kan?" ucap Arumi menatap Billal di samping nya
"Kita ke rumah pak Guntur dulu" ucap Billal berjalan menuju sebuah rumah yang tak terlalu jauh dari sini
"Pak Guntur?" ucap Arumi
"Yang selama ini jaga vila ini" jelas Billal
"Eeh nak Billal" ucap seseorang dari belakang, membuat mereka terkejut
"Astaghfirullah!!" ucap mereka terkejut dan langsung menoleh
"Maaf nak Billal, saya tidak bermaksud untuk mengejutkan kalian" ucap laki laki parubaya itu
"Eeh pak Guntur, gak apa apa pak" ucap Billal menatap wajah laki laki itu
"Maaf ya, tadi bapak lagi bersih bersih halaman belakang karena tau dari bapak kalian akan datang ke sini, jadi tidak melihat nak Billal datang" jelas pak Guntur
"Iya pak" ucap Billal dengan di sertai anggukan dari Arumi
Mereka berjalan menuju vila, Arumi hanya mendengar percakapan mereka.
"Sihlakan masuk, kalau ada apa apa panggil saya aja ya nak Billal, saya ada di halaman belakang" ucap pak Guntur membukan pintu dan langsung melesat undur diri menuju halaman belakang.
"Bill, kenapa bapak itu gak pakai bahasa sunda? Biasa nya ya orang sini bahasa sunda nya kental banget" ucap Arumi bingung
"Dia bukan orang asli sini" jelas Billal dengan mengangkat koper mereka ke kamar atas.
"Oohh.. Gitu" ucap Arumi mengikuti langkah kaki Billal menaiki tangga
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka masuk ke kamar yang memiliki nuansa alam yang asri, sejuk di pandang mata, kamar yang memiliki jendela lumayan besar agar cahaya matahari langsung masuk saat pagi tiba.
"Yeeeh!!!" teriak Arumi langsung menghempaskan tubuh nya ke tempat tidur
"Damai nya!" ucap Arumi memejamkan mata, dengan merentangkan kedua tangan nya.
"Heii bagi dua tu kasur! Jangan rakus" ucap Billal menyindir Arumi yang tidur membuat tak ada celah untuk satu orang lagi.
"Kamar nya kan ada 3 lagi, jadi lo tidur di kamar yang lain aja" ucap Arumi
"Nak Billal, semua bahan bahan makanan sudah saya simpan di dalam kulkas" ucap pak Guntur mengetok pintu
"Iya pak" ucap Billal dan pergi keluar kamar
Billal dan pak Guntur mengobrol di ruang keluarga vila ini. Mereka duduk sofa berwarna hijau botol itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Pak Guntur mau bilang apa?" ucap Billal
"Rumah ini sering mati lampu secara tiba tiba, jadi kalau butuh lilin ambil saja di laci nakas itu" ucap pak guntur menunjuk nakas yang ada di dekat dapur.
"Ooh iya pak" ucap Billal dengan tersenyum
"Dan satu lagi, maaf sebelum nya nak Billal, saya tadi menguping sedikit pembicaraan kalian, saya sarankan nak Billal dan non Arumi jangan tidur sendirian, tidur satu kamar saja, karena warga desa di sini sedang heboh dengan sosok kuntilanak yang berkeliaran setiap malam, dan kalau ada seseorang yang mengetok pintu malam malam jangan di buka, itu bukan saya, saya pun tak berani keluar malam malam, dan jangan lupa mengunci pintu" ucap pak Guntur
Arumi yang sedari tadi sudah berdiri di ujung tangga dan mendengar semua perkataan pak Guntur, ia merasa takut, ia terdiam dan sedang berfikir.
Pak Guntur sudah pergi dari vila, ia pulang ke rumah nya. Billal melangkahkan kaki nya menuju kamar.
"Billal lo boleh tidur sekamar sama gua" ucap Arumi memegang tangan Billal
"Kenapa Tiba tiba lo berubah pikiran?" ucap Billal yang sedang menarik koper nya menuju kamar sebelah
"Gua denger kata pak Guntur, gua takut kalau tidur sendirian, lagi pula kalau kuntilanak itu nempel di kaca jendela ini gimana? Nanti dia ngetok ngetok gimana? Seram tau!!" ucap Arumi menunjuk nunjuk jendela di hadapan nya.
"Dia takut sama lo" ucap Billal yang setengah keluar dari kamar
"Enggak, mana mungkin dia takut sama gua? Malah gua yang takut" ucap Arumi menyusul Billal keluar kamar.
"Oke, gua sekamar sama lo" ucap Billal kembali masuk ke kamar dan meletakan koper di tempat semula
"Arumi.. Arumi lo itu terlalu polos yee, pak Guntur dan gua cuman ngarang cerita" ucap Billal tersenyum lebar
Flashback on
Saat Billal dan pak Guntur duduk di sofa ruang keluarga, Billal sebelum itu sudah membicarakan rencana ini sebelum nya, agar Arumi mengajak Billal satu kamar lagi. Ada cermin kecil yang terpajang di dinding dekat pintu sebelah kiri ruangan itu. Sehingga Billal bisa memulai rekayasa nya ketika melihat Arumi turun dari lantai atas untuk memasak.
"Sudah tau kan pak rencana nya?" ucap Billal duduk di sofa saat itu
"Tau dong nak Billal, kita buat non Arumi takut!" seru pak Guntur dengan berbisik
"Arumi datang" ucap Billal menyenggol tangan pak Guntur, saat melihat pantulan Arumi yang mulai menuruni tangga