6. Insiden di kantin

7.4K 309 10
                                        


Publis awal: 3 November 2020
Revisi: 15 Januari 2022

-Revisi tanda baca dan typo. Selebihnya tidak ada yang berubah-

****

Aku benci orang yang sok jago. Menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Lebih singkatnya aku tidak suka Gildan Ragasa. Dia telah memperlihatkan secara langsung, bahwa dia adalah singa yang menyeramkan.

Gildan bertengkar di kantin. Membuat kantin jadi begitu padat, sesak, dan engap karena banyaknya orang yang menontoni perkelahian antara Gildan dan Dandi.

Aku datang, ternyata Gildan sudah memukul Dandi dengan bruntal. Bahkan dia tidak perduli kalau dia masih berada di lingkungan sekolah.

Dari banyaknya orang yang menyaksikan pergulatan ini, tidak ada satupun yang berani misahin. Atau mereka memang sengaja ingin menjadikan pergulatan ini sebagai tontonan gratis.

"BANGSAT! COWOK BANCI!"

Gildan memukul rahang tegas milik Dandi, sangat keras sehingga menimbulkan suara yang keras juga. Dandi meringis pelan, membuat seruan penontonya mendadak hening dan ikut terkejut melihatnya.

"Cowok banci kaya lo gak pantes lawan gue! Paham lo?" Gildan menarik kerah seragam Dandi. Kemudian mendorong Dandi hingga tersungkur di lantai.

Aku terkejut menyaksikannya. Gildan benar-benar memukulnya dengan bruntal. Cowok itu sangat marah, ekspresinya menunjukan bahwa dia benar-benar ingin menghabisi musuhnya.

Gildan terlihat seperti Gildan yang aku kenal dari gosip yang beredar. Gildan si anak nakal yang suka berantem. Hari ini dia membuktikan bahwa gosip itu adalah fakta yang tertunda.

"Disa," panggilan dari Bulan membuatku sadar dari lamunan.

Aku menoleh. Bulan mengode agar aku melihat ke depan.

Tepat di depan tempatku berdiri. Gildan menatapku dengan napas yang masih berderu kencang, dengan seragam yang sudah persis seperti brandal pasar.

Aku mengabaikan Gildan. Lalu melangkah pergi dari kantin. Namun, tangan kekar Gildan menghentikan langkahku.

"Lepas," Aku menatapnya serius.

"Gue bisa jelasin, Sa."

"Lepasin tangan kotor kamu," ujarku, tidak perduli dengan apapun yang dia katakan.

"Tangan kamu itu gak ada bedanya sama tangan-tangan preman yang suka mukulin orang, Dan," tambahku, lalu menepis tanganku dari tangan Gildan, pergi keluar dari kantin.

Aku memilih untuk tidak ikut campur dalam hal ini. Biarlah ini menjadi urusanya sendiri. Aku tidak mau terseret dalam masalah Gildan.

Aku tidak suka melihat orang  bertengkar. Jika ada masalah kenapa tidak dibicarakan baik-baik? Kenapa cowok lebih suka menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalahnya? Bukankah itu malah menimbulkan masalah baru? Bukanya keluar dari masalah, tapi masuk ke dalam masalah baru.

"Disa."

Gildan manggil.

Namun, aku tidak peduli. Aku tetap melanjutkan langkahku, menghiraukan panggilan Gildan.

"Disa," panggilnya lebih keras.

"Disa Arine," Gildan menghalangi jalanku.

Aku menatap sinis wajah Gildan. Diam diam mengamati, masih ada luka di sudut bibirnya, darah segar masih terpampang nyata di sana. Walaupun sedikit, tapi aku yakin itu sangat perih.

"Gue gak akan mukul duluan kalo dia gak mulai, Sa," ujarnya berusaha menjelaskan.

(Dipikir aku peduli gitu? Gak sama sekali!)

Posesif Gildan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang