Saat Nicholas bergerak di atas Zoia, gadis itu hanya meracau sesekali. Dia masih tak sadarkan diri. Gila memang Nicholas tak membuang kesempatannya sama sekali. Dipandanginya gadis di bawahnya yang tertidur lelap sementara dirinya merasakan getaran gairah yang menggila. Dia merasa dirinya bagai meniduri mayat! Astaga. Dia benci dirinya sendiri. Tapi... ini kesempatan satu-satunya yang dia miliki. Kapan lagi kalau bukan sekarang?
Persetan.
Nicholas mengerang sebelum mencapai pelepasannya yang kali ini benar-benar di tembakkan langsung ke dalam rahim Zoia.
"Nicholas...?"
Nicholas mengusap rambut Zoia naik turun, membelai wajahnya dan tersenyum sebelum dia mengecup bibir gadis itu penuh cinta. Kemudian dia sendiri pun terlelap di sebelah Zoia sambil memeluknya erat.
Sebelah tangannya mengelus perut Zoia.
Awas saja kalau kau tak tumbuh menjadi janin! Bantulah aku merebut ibumu ini dari kekasihnya yang sok hebat itu!
Pagi datang membawa cahaya matahari yang menyilaukan lewat tirai jendela. Zoia mengerjapkan matanya sebelum dirinya tersadar sepenuhnya. Hal pertama yang dia lihat adalah suasana kamar yang berbeda. Dan dia familier dengan kamar ini—bukankah dia pernah berada di kamar— Nicholas sebelumnya?
Kini gadis itu melirik dirinya sendiri. Pada tubuhnya yang dibalut dengan selimut satin hitam, mengintip ke dalam dan membelalak.
Dia hanya memakai pakaian dalam.
Zoia bangkit duduk, menekan selimut di dadanya untuk melihat ke sekeliling. Kepalanya masih terasa berat efek dari minuman keras yang dia minum semalam. Dia sendirian di kamar itu. Dan pakaiannya teronggok berantakan di lantai, bergabung dengan pakaian milik Nicholas.
Tak lama, pelaku itu pun keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar rendah di pinggangnya, sebelah tangannya mengacak rambutnya yang basah.
Pria itu tersenyum tipis. Sungguh... mempesona.
"Selamat pagi, Sayang."
Zoia tak punya waktu untuk bertanya tentang kejadian semalam. Sekarang, yang paling penting adalah dia harus menemukan ponselnya.
Dan dia menepuk kepalanya saat melihat ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Ataric.
Dengan panik gadis itu pun memakai pakaiannya segera mungkin. Memasukkan kakinya ke dalam hot pantsnya, mencari sepatu converse dan memakainya dengan cepat.
"Kau mau kemana?"
"Aku buru-buru." Kata Zoia sembari keluar dari kamar Nicholas setengah berlari menuju pintu utama.
Dia terlambat bekerja tentunya. Hari ini dia punya penerbangan ke Palermo di jam sebelas siang dan sekarang sudah jam 10.05.
Dengan cepat gadis itu bersiap-siap di apartemennya sendiri, memakai seragam pramugarinya dan berlari mencari taxi.
Zoia memejamkan matanya. Perasaannya campur aduk. Kapan permainan ini berakhir? Zoia sungguh pusing! Kehadiran Nicholas membuat secercah keraguan hinggap dalam hubungannya dengan Ataric.
"Bisakah kau lebih cepat?" Kata Zoia pada supir taxi.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Roman d'amour[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
