Derap langkah terdengar ramai menginjak kerikil dan rerumputan. Seorang pria bertubuh jangkung yang berjalan paling depan pun tiba-tiba berhenti.
Dia berdiri di tanah dengan rerumputan yang tumbuh pendek, menghadap ke dalam hutan belantara. Di belakangnya terdapat beberapa pria lain dengan setelan serba hitam, salah seorang dari mereka membawa busur beserta anak panah. Dan di sebelahnya, seorang pria lain tampak tengah menghisap rokok dengan tenang, namun beberapa detik kemudian dia menjatuhkan benda itu untuk di injak di bawah sol sepatunya.
"Jadi jalang itu lah yang berusaha menembakmu?" Tanya Reagan menoleh pada Nicholas yang tengah menatap lurus pada sebuah kotak besi. Dari dalam kotak itu terdengar jeritan wanita.
"Berkat ulah anak buah tololmu dia bisa lepas." Geram Nicholas.
Reagan pun tak habis pikir kenapa Claminte berkhianat. Ya, dia tak mengerti kenapa anak buahnya tak ada yang becus. Setelah Daniel, sekarang Claminte. Selanjutnya siapa? Lucas?
Sialan kalian.
"Kau yakin hutan ini tidak memiliki jalan keluar?"
"Ada pintu keluar di paling ujung."Jawab Reagan.
Rahang Nicholas menegang, kemudian bibirnya menyeringai."Dia tak punya waktu untuk sampai di sana bukan?"
"Tergantung kemampuan berlarinya. Lagipula pintu itu terkunci. Dan kuncinya ada padaku."
Nicholas menyesap rokoknya sambil terkekeh pelan. Sialan memang sahabatnya ini.
"Lets play."
Nicholas meletakkan tangannya di udara, meminta busur dan anak panah pada anak buahnya.
"Milikku mana?" Tanya Reagan pada anak buah lainnya.
"Ini Tuan."
Dua bos besar nan tampan itu pun bersiap dengan panah masing-masing, sungguh mereka tak sabar.
"Ini pertama kalinya aku bermain panah. Aku lebih sering main pisau." Kata Reagan."Kau harus mengajariku."
Nicholas tersenyum pelan."Tentu, kawan."
Pria itu pun berjalan lebih dekat ke dalam kotak besi itu, membuka gemboknya hingga cahaya bulan dapat menerangi isi di dalamnya.
Seorang wanita penuh keringat dan terengah-engah dengan pakaian compang camping dan beberapa luka di wajahnya pun menjadi objek pertama yang di lihat oleh Nicholas.
Wanita itu bukannya takut tapi malah menyeringai dan tertawa bak iblis.
"Ini akan menjadi tawa terakhirmu." Desis Nicholas sambil tersenyum miring dan menyeret perempuan itu keluar dari kotak, membantingnya di tanah.
Jessica menatap ke sekeliling, pada hutan belantara di malam yang gelap. Kemudian matanya mengarah pada busur panah yang ada di tangan Nicholas. Perempuan itu meneguk ludahnya, berusaha melepaskan tangannya dari lakban.
"Sebentar, biar aku bantu melepaskannya." Kata Nicholas lalu menarik lakban dari tangan Jessica dengan kasar.
"Mau apa kau?"
"Mau apa kau?" Ejek Nicholas."Masih berani bertanya hm?"
"Apakah kau marah, Nic?" Jessica maju selangkah, memamerkan senyum puasnya."Jangan marah sayang, kau yang meminta semua ini. Andai kau tak mengabaikan peringatanku waktu itu."
Nicholas terkekeh lucu."Aku akan mendengarkan semua omong kosongmu, tapi lakukan dengan cepat. Ini sudah pukul dua belas malam, Jess. Aku tak bermaksud membuatmu mati kedinginan."
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Roman d'amour[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
