"Pergilah Nicholas." Kata Zoia berdecak saat melihat Nicholas duduk di sebelahnya di sebuah bangku taman.
"Ini taman bermainmu saat kecil bukan? Taman dimana kau sering mengintaiku."
Zoia memutar mata."Aku tidak pernah mengintaimu."
"Jangan malu begitu. Aku ingat semua kelakuan centilmu dulu."
Zoia bergeser lebih jauh dari Nicholas karena dia merasakan wajahnya mulai merah padam akibat malu. Jika diingat-ingat memang di taman inilah dia sering duduk sepulang sekolah, mengintai aktivitas Nicholas saat pria itu bermain basket tak jauh dari sana.
Gadis itu mendadak tertawa sendiri mengingat masa lalunya yang bodoh itu. Apakah dia dulu memang setergila-gila itu pada Nicholas?
Astaga.
Tentu saja. Sebenarnya bukan dia saja yang terpesona pada Nicholas Rayan. Beberapa temannya juga begitu!
"Kenapa kau tertawa hm?"
Dulu, saat Nicholas bermain basket, dia sering melihat Zoia duduk di sini, makan coklat atau apa. Dan itu menggemaskan karena dia tau kalau gadis kecil itu sedang mencuri-curi pandang padanya.
Dan saat dia selesai bermain, Zoia akan berlari kecil menghampirinya lalu menawarkan coklat pada Nicholas.
Nicholas, aku membelikan ini untukmu karena kau sangat sangat sangat tampan.
Pergilah gadis kecil, aku bawa pisau untuk mencincang jari-jari kecilmu itu.
Dan wajah gadis itu langsung cemberut, berlari pulang sambil menangis. Ya, seperti itulah Nicholas selalu menakut-nakuti Zoia kecil.
"Apakah itu sakit?" Pertanyaan Zoia memecah lamunan Nicholas.
"Apa?"
"Lukamu. Itu terlihat mengerikan."
"Tidak, bukan apa-apa."
"Harusnya Daddy memukulmu lebih keras kalau itu bukan apa-apa."
Zoia melayangkan pandangan kesalnya pada Nicholas lalu dia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan pria itu.
Sedangkan Nicholas hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadisnya. Dia pun segera bangun dari duduknya, mengikuti Zoia di belakang. Entah kemana gadis itu akan pergi malam-malam begini... dengan piyama pula.
Tampilannya seperti gelandangan, sungguh!
"Zoia, kemana kau pergi, Sayang?" Tanya Nicholas dengan nada dingin khasnya.
"Jangan ikuti aku, Nicholas."
"Ini sudah malam."
Zoia tak menjawab, dia terus berjalan. Menghela napas berkali-kali dan memeluk tubuhnya yang kedinginan. Pikirannya sungguh kacau. Dirinya bagai di tarik oleh dua pilihan yang membingungkan.
Aku mencintaimu.
Kedua pria itu mengucapkan kata cinta. Haruskah dia memilih? Kenapa dia harus merasakan bimbang? Hubungannya dengan Ataric sungguh baik-baik saja sebelum Nicholas muncul.
Dan kini... dia meragu.
Ditambah kenyataan bahwa andai saja dia hamil, entah akan menjadi anak siapa. Zoia memejamkan matanya lalu berbalik arah untuk pulang.
"Haruskah aku mengemis dan berlutut?" Nicholas menghadang jalan gadis itu.
"Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu."
Deg.
Ucapan Nicholas kini terdengar sangat tulus dan serius. Zoia bisa melihat dari mata pria itu, dan dari nadanya yang tak pernah dia dengar sebelumnya. Nada tulus. Nada bersungguh-sungguh.
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Cinta[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
