Zoia melemparkan sendok ke lantai, melepas celemeknya lalu berjalan cepat ke dalam kamar, membanting pintu dengan keras. Sementara Nicholas memandangi adegan itu dengan wajah terkejut, tapi seulas senyum licik tersungging di wajahnya yang tampan. Lalu dia terkekeh sendiri, merasa berhasil sudah membuat Zoia merajuk karena cemburu.
"Sangat kekanak-kanakan." Komentar Keenan.
"Benar."
"Bukan dia, tapi Anda."
"Aku? Maksudmu apa?" Kesal Nicholas.
"Berpura-pura menghubungi mantan pacar untuk membuatnya cemburu. Anda harus sadar umur."
"Aku masih 28."
"Dan dia 19. Tapi sifat kalian bertukar."
"Bertukar kau bilang?" Nicholas nyaris berteriak."Lihat siapa yang kekanak-kanakan. Aku hanya menempelkan ponsel di telinga tapi dia merajuk dan membanting pintu."
"Tapi itulah yang ingin Anda lihat bukan?"
"Sok tau sekali kau itu."
Cih.
Nicholas berdecak kesal sambil mengambil minuman dari dalam kulkas, meneguknya liar. Sialan memang Keenan. Setiap kata yang keluar dari mulut Keenan hanya menambah rasa pusing di kepalanya saja.
"Bersikaplah sesuai umur, Sir."
"Tak perlu mengguruiku, Keenan."
"Aku hanya menyarankan."
"Bersikaplah sebagai pria sejati. Masuki lubang kewanitaan. Jangan terlena dengan olahraga tangan."
Sialan.
Keenan ingin sekali mengumpat di depan wajah atasannya itu. Tapi dia harus sabar. Sesungguhnya dia sangat ingin memasuki lubang surgawi! Tapi belum menemukan yang cocok saja.
Huh.
Memang wanita seperti apa yang diinginkan oleh pria kurang ajar itu?
"Bagaimana kabar perusahaan? Ada berita baru?" Tanya Nicholas serius kini.
"Masih seperti sebelumnya."
"Sialan media."
"Lagipula mereka memberitakan hal yang benar. Dari awal Anda sudah tau apa akibatnya jika bermain dengan skandal. Skandal yang Anda ciptakan sendiri pula. Kupikir Anda sudah siap dengan semua ini."
"Aku tak menduga Ataric mengundurkan diri. Hanya itu yang membuatku kesal setengah mati."
"Wajar saja, kalau Anda ada di posisi dia mungkin Anda akan membunuh orang yang telah merebut kekasih Anda."
"Sudahlah aku pusing, komentarmu menjengkelkan."
Nicholas membanting gelasnya di meja lalu berjalan meninggalkan Keenan. Dia sudah tak sabar berjumpa dengan istrinya yang sedang merajuk di kamar.
"Sayang, buka pintunya." Kata Nicholas lembut sambil mengetuk pintu.
"Tidur diluar saja."
"Mana bisa begitu?"
"Bukannya kau akan makan malam dengan mantan terindahmu itu?"
"Sayang, ayolah, sudahi cemburu butamu itu."
Zoia tak menjawab sementara Nicholas hanya tersenyum bak orang gila. Oh apakah dia sangat bahagia melihat istrinya cemburu?
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Romansa[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
