"Sayang, aku harus melakukan perjalanan bisnis ke Roma."
Zoia mengerjapkan matanya, mencoba kembali ke alam sadarnya. Saat dia membuka mata, Nicholas duduk di tepi ranjang, sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Perjalanan bisnis?"
"Hm."
"Kenapa mendadak sekali?"
"Memang sering mendadak seperti ini."
Zoia menegakkan kepalanya lalu mengusap matanya agar dia bisa memandangi suaminya lebih jelas.
"Berapa hari?"
"Hanya dua hari."
"Bolehkah aku ikut?"
"Tidak boleh."
"Umm baiklah."
Nicholas menarik tengkuk Zoia, mengecup bibirnya lama. Lalu wajahnya turun ke perut istrinya, dan mengecup perut yang masih rata itu.
"Saat Daddy kembali, kau harus sudah besar."
Zoia terkekeh."Kau konyol sekali, Sayang."
"Kalau begitu aku berangkat. Jangan terlambat makan, jangan banyak bergerak. Tidak boleh memasak. Aku sudah mendatangkan pelayan untuk urusan dapur. Kau mengerti?"
"Pelayan?"
"Hm."
Zoia mengangguk sambil turun dari ranjang dan berjalan menyusul suaminya di belakang.
"Sebentar." Nicholas berhenti lalu berjalan menuju kulkas, mengeluarkan sebuah gelas berisi susu."Aku membuatnya tadi. Sekarang minum."
"Apa ini?"
"Susu hamil."
Zoia tersipu malu, mengambil gelas itu dan meminumnya sambil menatap Nicholas. Ya ampun, Nicholas... dia sangat manis.
"Ingat, jangan banyak bergerak, hm?" Nicholas membelai rambut Zoia lalu kembali berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Zoia.
Sedangkan di dapur ternyata bertengger sesosok pria yang tengah menggoreng telur sedari tadi. Keenan menatap Zoia lama, menilai penampilan gila wanita itu.
Dan anehnya, dia malah menyukai rambut berantakan dan muka bantal Zoia. Bukannya menambah kejelekan wanita itu, dia terlihat sangat menggoda saat bangun tidur.
Keenan dapat membayangkan dirinya memeluk tubuh mungil itu... lalu... lalu...
Ah sial.
Dia harus segera keluar dari imajinasi liarnya itu!
Brengsek memang.
"Nicholas? Kau tak membawa Keenan?" Tanya Zoia saat menyadari bahwa Keenan tak memakai baju kantornya, melainkan hanya celana pendek dan baju kaos hitam.
"Tidak." Kata Nicholas.
"Kenapa tidak? Ini perjalanan bisnis bukan? Kau pasti membutuhkan Keenan."
"Aku membutuhkannya?" Nicholas berdecih. Begitu pula Keenan.
Dua pria itu sama-sama meremehkan.
Zoia memutar mata."Jadi apa yang dilakukan Keenan di rumah ini kalau bukan menjadi asistenmu?"
"Dia sedang dalam masa percobaan."
Zoia hanya geleng-geleng kepala melihat ego suaminya yang begitu tinggi.
"Aku pergi." Kata Nicholas lalu mencium kening Zoia di depan pintu."Aku mencintaimu."
"Cepat pulang." Rengek Zoia manja.
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Romance[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
