Nicholas mengerang sambil memejamkan matanya. Berulang kali. Merasakan sakit kena laser di punggungnya.
Ah shit!
"Sudah bersih."
Nicholas meringis sedikit. Pedihnya bukan main. Pria itu pun menarik napasnya sebelum kembali tenang.
"Buat tato baru."
"Anda punya gambarnya?"
"Tidak. Aku ingin tulisan saja. Seperti yang sebelumnya."
"JR?"
"Untuk apa aku menulis JR lagi saat aku memintamu menghapusnya?"
"Tapi Anda bilang tulisan yang sebelumnya?"
"Tulisannya 'Zoia'"
"Zoia?" Si pembuat tato tertawa pelan."Nama apa itu? Terdengar aneh."
"Itu nama istriku." Geram Nicholas.
"Ups. Anda sudah beristri ternyata?" Pria pembuat tato itu pun mulai mengusap punggung Nicholas."Jadi yang sebelumnya adalah inisial mantan, begitu?"
Nicholas tak menanggapi. Apa urusan pria itu? Sialan. Beraninya dia mengajak Nicholas bicara tak sopan? Ya. JR adalah inisial untuk sang mantan pacar. Jessica Richards.
Sementara menahan rasa menggelitik di punggungnya, Nicholas kembali diingatkan pada bayang-bayang masa lalu. Tato itu terkesan seperti dirinya sangat tergila-gila pada sang mantan bukan? Hingga rela mengukir namanya disana. Tapi sesungguhnya, Nicholas tak senorak itu.
Nic, aku ingin kau membuat tato. Dengan namaku. Romantis bukan?
Norak sekali.
Oh jadi hal kecil begitu saja norak bagimu? Bagi wanita hal kecil begitu sangat berarti.
Nicholas tersenyum sendiri. Hal kecil seperti itu sangat berarti, karena kata-kata itulah dirinya sekarang membuat tato dengan nama istrinya.
Zoia, dia akan senang bukan melihat namanya terukir di tubuh Nicholas?
***
Zoia pulang setelah melakukan penerbangan dua jam yang lalu ke Napoli. Dia berjalan lelah memasuki penthouse dengan beberapa macam bahan makanan yang baru saja dia beli. Dia ingin melakukan percobaan kedua sekarang.
Memasak. Walaupun Nicholas tak mengizinkannya tapi itu konyol. Bahkan jarinya sekarang baik-baik saja dan akan segera pulih. Dia pernah mendengar bahwa istri yang pandai memasak akan disayangi oleh suaminya.
Wanita itu pun meletakkan bahan makanan di dapur lalu berjalan masuk ke kamar untuk mandi. Tapi dia terperanjat kaget ketika Keenan memasuki dapur.
Kenapa dia harus selalu bertemu Keenan di dapur!
"Bagaimana lukamu?"
Zoia tak menjawab dan langsung berjalan meninggalkan Keenan.
"Tak punya sopan santun memang."
"Memang kau punya?"
Keenan menelan ludah melihat emosi di wajah gadis itu. Lagipula kenapa dirinya selalu memancing? Tak punya kerjaan sekali.
"Kenapa kau ada di rumah di jam kantor? Mana suamiku? Dia pulang?"
Zoia melihat sekeliling. Keenan dan Nicholas kan bak sepasang kekasih yang tak bisa dipisahkan? Lagipula ini masih jam kantor. Kenapa pria satu ini malah bertengger di rumah?
"Aku tidak tau."
"Tidak tau? Kenapa kau bisa tidak tau?"
"Ada saatnya dia ingin sendiri. Aku tak akan selalu berada dengannya. Contohnya saat dia pergi menemuimu di apartemen sebelum kalian menikah, aku tak diizinkan ikut."
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Romans[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
