Chapter 42 : Nicholas Junior

222K 15.2K 2.1K
                                        

Sudah satu minggu lamanya Nicholas dan Zoia saling mogok bicara. Keduanya tampak seperti musuh dalam selimut. Karena walaupun bermusuhan, mereka masih tidur di bawah selimut yang sama. Cih!

Tapi, semenjak tau Zoia hamil, Nicholas menambah penjagaan yang lebih ketat untuk mengawal kemanapun wanita itu pergi. Pelayan di rumah pun di tambah lebih banyak dari sebelumnya sehingga Zoia tak punya peluang untuk melakukan hal kecil apapun itu. Karena itu, Zoia hanya tiduran, menonton, makan, dan pergi ke dokter kandungan. Hanya itu saja kegiatan wanita itu.

Keegoisan keduanya benar-benar telah membuat suasana mencekam di dalam rumah itu. Bagaimana tidak, tak ada satu pun dari mereka yang mau memulai percakapan selama seminggu.

Perang dingin itu terus berlanjut, membuat Nicholas setiap harinya harus menenggak obat tidur sepulang dari kantor. Dia stress. Sangat. Di kantor pun kerjaannya marah-marah tak jelas sampai membuat karyawan tak bersalah pun kena damprat.

Pagi itu, Nicholas berdiri di depan jendela ruang kantornya, menatap pemandangan kota sambil menyesap wine yang ada di tangannya.

Sefrustasi itukah dia?

"Kenapa kau melakukan ini padaku, Margaret?" Nicholas berbicara lewat telepon. Rahangnya mengeras.

"Maafkan aku, Nic. Aku sudah melarangnya tapi dia memaksa. Dia bilang tak ingin mempercayaiku ataupun ilmu pengetahuan. Dia ingin percaya keajaiban Tuhan."

Nicholas tertawa mengejek."Keajaiban Tuhan huh?"

"Percaya saja, Nic."

"Dokter macam apa kau itu, Margaret?" Geram Nicholas."Katakan padaku bagaimana kondisinya. Yang sebenarnya. Kali ini tak perlu menyembunyikan apapun."

Keparat.

Bisa-bisanya seorang dokter bicara soal keajaiban?

Dokter Margaret diam beberapa saat sebelum dia kembali berbicara."Seperti yang kukatakan Nic. Kemungkinan bayinya lahir prematur."

"Apa akan baik-baik saja?"

"Jangan khawatir, bayi prematur juga bisa hidup normal seperti bayi lainnya."

"Bukan bayinya yang aku khawatirkan. Persetan dengan bayi itu. Tapi Zoia. Bagaimana dia?"

Lagi, dokter Margaret terdiam. Kali ini lebih lama dari sebelumnya, seolah tak berani menjawab. Atau tak punya jawaban?

"Jawab aku."

"Soal nyawa itu hanya Tuhan yang tau."

Lagi, Nicholas tertawa marah. Rasanya api terus berkobar membakar seluruh sarafnya. Orang seperti wanita ini tak cocok menjadi dokter. Tak sepantasnya dia bicara begitu bukan?

Sialan.

"Nic, sebaiknya kau mendukungnya agar dia tidak stress. Itu dapat memperburuk kondisinya."

Pria itu menajamkan penglihatannya, menahan emosi yang rasanya tak pernah padam. Mendukungnya? Nicholas tak sanggup membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Ini sama saja dengan lompat ke dalam api. Kau tau bahwa kau akan terbakar tapi kau tetap melakukannya.

Coba saja, jika kau selamat dari kobaran api, berarti keajaiban itu memang ada. Bagi seseorang yang sangat realistis seperti Nicholas, itu hanyalah omong kosong. Bagaimana bisa dia percaya pada keajaiban saat dirinya saja tak percaya dengan adanya Tuhan?

Kini, emosinya kembali meledak hingga membuat ponsel yang di pegangnya menghantam lantai dengan keras.

Nicholas duduk di kursi kebesarannya sambil menekan kepala dengan kedua tangannya di atas meja.

MILANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang