Chapter 44 : Everything will be fine

244K 12.7K 2.3K
                                        

"Pergilah ke ruang inkubator, lihat apakah bayiku baik-baik saja." Perintahnya pada Keenan.

Nicholas melangkah dengan was-was saat memasuki ruangan yang penuh dengan bebauan obat. Matanya langsung mengarah pada sosok wanita yang tengah terbaring di ranjang pesakitan. Dia berhenti sejenak, takut untuk melangkah lebih dekat karena mimpi sialan yang begitu nyata itu. Dia takut mimpi itu menjadi kenyataan.

"Nicholas sampai kapan kau mau berdiri di sana?" Tanya Zoia dengan nada lemah.

Nicholas masih terpaku, tak bergerak. Dan terus memandangi dengan perasaan takut.

"Kemarilah... aku ingin di peluk..."

Kemarilah... aku ingin di peluk....

Adalah kata-kata yang ada dalam mimpinya. Entah sejak kapan Nicholas menjadi sosok laki-laki yang begitu penakut.

"Ada apa denganmu, Nicholas?" Tanya Zoia semakin heran. Wanita itu mencoba menegakkan tubuhnya lalu bergeser ke samping.

"Apakah kau akan mati?"

"Kenapa kau bertanya begitu? Apa aku terlihat seperti mau mati?"

Nicholas tak menjawab. Dia terlihat seperti pria tak masuk akal di mata Zoia. Hal itu membuat Zoia tertawa, kemudian meringis saat bahu dan perut bekas operasi terasa sakit.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Nicholas khawatir, langsung menghampiri Zoia untuk memeriksanya.

"Hanya perih." Ringis Zoia.

"Jangan banyak bergerak."

Zoia menatap bola mata Nicholas yang kini begitu dekat dengannya. Sebuah senyum terukir di wajah pucat itu.

"Apakah kau takut aku mati?"

Nicholas mengarahkan pandangannya pada manik mata Zoia kini.

"Aku baik-baik saja. Sudah kubilang kan aku tak akan mati? Kau hanya terlalu paranoid. Lagipula aku harus hidup karena kau akan membunuh bayi kembar kita andai aku mati."

Melihat tingkah Zoia, Nicholas langsung merasa lega. Wanita ini tak sama dengan wanita yang ada di dalam mimpinya.

"Bagaimana kau bisa terlihat begitu kuat?" Tanya Nicholas heran.

"Aku heran padamu. Sebenarnya kau memang berharap aku mati apa?"

"Tidak. Bukan begitu. Aku hanya..." Nicholas berdeham untuk membersihkan kerongkongannya."Kau hadir dalam mimpiku, dan disana kau mati. Beraninya!"

Zoia tertawa lucu.

"Astaga itu terjadi karena kau terlalu paranoid, Sayang. Aku baik-baik saja, sungguh." Zoia merentangkan kedua tangannya dengan hati-hati, agar Nicholas mau memeluknya.

Sebuah senyum terharu pun tergurat di wajah Nicholas sebelum dia naik ke ranjang untuk mendekap istrinya, lalu menciumi seluruh wajah cantik itu dengan hati-hati namun penuh cinta.

Ya tuhan. Dia tak dapat mengungkapkan seberapa bahagia dan terharunya dia saat ini.

"Kau sudah melihat bayi kita?"

"Kenapa kau asik bertanya tentang bayi. Di mimpi ku pun kau hanya bertanya tentang bayi, bayi dan bayi. Apakah aku memang tak ada artinya apa-apa bagimu? Kenapa kau tidak bertanya bagaimana keadaanku? Aku nyaris gila karena semua ini!"

"Tentu saja kau sangat berarti bagiku, Sayang."

"Bahkan setelah bangkit dari kematian kau hanya khawatir tentang bayi."

"Aku tidak bangkit dari kematian!" Zoia mencoba berteriak namun suara yang keluar malah cicitan parau akibat nyeri di perutnya.

"Sudahlah, jangan berteriak begitu. Istirahatlah yang tenang dalam pelukanku."

MILANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang