Cahaya lampu masuk menerobos ke balik kelopak mata Zoia. Namun semuanya masih terlihat samar-samar. Tangan dinginnya terasa di genggam oleh tangan lain. Dan dengan reflek dia menggenggam balik walaupun tenaganya tak ada. Perlahan mata itu terbuka, buram pada awalnya sebelum akhirnya dia bisa melihat dengan jelas sosok pria tampan yang tengah tersenyum tipis padanya, duduk di tepi ranjang.
Ini bukan kali pertama Zoia terbangun dari pingsannya. Namun, kali ini, tubuhnya benar-benar terasa cukup lemah, tapi dirinya masih sanggup mengucapkan kata-kata.
"Kau bangun, Sayang?"
"Y-Ya..."
"Apa yang kau rasakan?"
"Pusing."
Nicholas terkekeh."Kau mau minum?"
Zoia mengangguk pelan sambil berusaha menegakkan tubuhnya, dibantu oleh Nicholas. Wanita itu kini bersandar di kepala ranjang dan minum air putih yang baru saja disodorkan oleh Nicholas.
"Berapa lama aku pingsan?"
"Tidak lama." Jawab Nicholas sembari mengelus tangan Zoia.
"Kau sudah makan, Sayang? Wajahmu terlihat pucat."
"Aku sudah makan."
"Tapi kenapa wajahmu pucat?"
"Bagaimana aku tidak pucat melihat istriku terbaring diranjang sialan ini, hm?"
Keduanya saling bertatapan kini. Wajah pucat Zoia kembali menghantarkan rasa sedih dalam diri Nicholas. Dadanya terasa sesak.
"Bagaimana perutmu? Masih sakit?"
Zoia menggeleng."Tidak. Apa yang terjadi padaku, Nicholas?"
"Seperti kemarin, kau hanya pingsan."
"Huh kenapa aku sering pingsan akhir-akhir ini. Aku menjadi sangat aneh bukan? Kemarin aku mendandanimu. Sebelumnya aku menyuruhmu tidur di sofa. Kau pasti sangat kesal."
"Kau senang kan melihatku kesal? Kau senang melihatku seperti Lucinta Luna?"
"Aku suka Lucinta Luna. Dia sedang di penjara kan sekarang. Padahal dia artis Indonesia favoritku."
"Seleramu sangat aneh."
Zoia terkekeh melihat Nicholas berdecak heran sambil menggelengkan kepalanya.
"Kehamilan memang memusingkan bukan? Aku baru tau hamil itu artinya kau harus siap dengan segala macam idam mengidam yang menyebalkan. Termasuk kau juga harus siap dengan segala keinginan anehku, Sayang."
Nicholas hanya bisa merespon kalimat demi kalimat itu dengan sebuah senyum getir.
"Omong-omong kapan aku boleh pulang?"
"Segera. Kita akan segera pulang."
"Kupikir aku sudah baik-baik saja sekarang." Kata Zoia sambil memandangi ruangan sekitar.
Ruang tempat dia di rawat terbilang cukup mewah dan nyaman. Serta jauh dari kebisingan. Tapi tetap saja, rumah adalah tempat paling nyaman.
"Bagaimana kalau kita tidur disini beberapa hari lagi? Setelah itu kita pulang?"
Nicholas kini naik ke ranjang, menggeser Zoia ke samping lalu dirinya tidur di sebelah Zoia sambil memeluk pinggang wanita itu dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Zoia.
Rasanya... nyaman sekali.
Pria itu menghela napasnya, mencoba menetralisir emosi yang berkecamuk di dalam dirinya sambil memejamkan mata. Dia tidak tau apakah dia harus memberitahu Zoia tentang kondisinya atau cukup menyembunyikannya agar dia tak stress, lalu hidup bahagia seperti semula?
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Romance[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
