Seminggu kemudian Zoia sudah diperbolehkan pulang. Selama dalam perjalanan, Nicholas tak berbicara apa-apa. Pikirannya masih kacau balau. Otaknya bekerja lebih banyak dari biasanya. Kata-kata dokter laknat itu masih terus terngiang di dalam otaknya.
Dokter dajjal.
Keparat.
Oh sebut saja semua makian yang ada di dunia ini untuk dokter itu.
Andai Nicholas punya kekuatan hari itu, dapat dipastikan rahang sang dokter sudah patah berkeping-keping. Apa dia bilang? Menyarankan untuk angkat rahim? Hah lambung usus dan buah zakarnya yang harus diangkat! Nicholas tidak mudah percaya. Jangankan dokter, pada Tuhan saja dia tak percaya.
Brengsek memang.
Sama seperti ayahnya, dia juga tak punya agama.
Tak lama kemudian mereka sampai di penthouse. Keenan dengan gesit turun dari bangku kemudi lalu membantu Zoia turun dari mobil hingga membuat Nicholas kembali bertanya-tanya lagi tentang sikap aneh pria itu terhadap istrinya.
Sejak kapan?
Brengsek.
Tak terasa tangannya terkepal begitu saja. Tapi kemudian dia kembali pada kesadarannya untuk merangkul bahu Zoia, memisahkan wanita itu dari tubuh Keenan. Sedangkan Keenan hanya dapat menghela napas dan berjalan di belakang. Yah dia tak paham kenapa ini masih saja berlanjut. Kenapa dia harus khawatir pada wanita yang tak pernah bisa dia miliki?
Kenapa?
Sialan.
Lebih baik dia membenci wanita itu seperti dulu. Keenan menendang kerikil dengan kuat sebelum dia kembali melanjutkan jalannya memasuki rumah. Di dalam kamar, Nicholas melepaskan jaketnya, meletakkan benda itu di gantungan hingga kini yang tersisa hanyalah kemeja hitam dengan lengan di gulung sampai siku dan dua kancing terbuka di atas. Matanya menatap dinding dengan tajam.
Otaknya masih saja berputar seperti air mendidih yang meletup-letup.
"Nicholas, apakah kau marah padaku?"
Pertanyaan Zoia membuyarkan lamunannya. Pria itu kini berbalik lalu menatap Zoia yang tengah duduk di tepi ranjang, tengah memelintir ujung bajunya.
"Apakah karena aku keguguran?"
"Tidak. Bukan, Sayang."
"Kau tidak bicara padaku dari tadi."
"Aku sedang memikirkan banyak hal. Maafkan aku." Nicholas berjongkok di depan Zoia, menggenggam tangannya kuat.
"Maafkan aku, Nicholas."
"Jangan minta maaf."
"Aku hanya takut kau menikah lagi kalau aku tak bisa hamil."
"Kau hanya terlalu paranoid." Nicholas membelai rambut Zoia naik turun."Siapa bilang kau tidak bisa hamil?"
"Ya aku memang terlalu paranoid."
Dada Zoia kembali dihujam rasa sesak. Jantungnya berdetak cukup cepat dan keringatnya mulai membasahi telapak tangannya.
"Tapi bagaimana kalau memang benar aku tak bisa hamil? Bukankah ada... wanita... yang memang tidak bisa... mengandung..."
"Dan itu bukan kau."
"Nicholas..."
"Kalau pun kau tidak bisa mengandung, masih banyak cara lain. Apa yang kau khawatirkan hm? Jangan berandai yang tidak-tidak. Kebahagiaan tak hanya di dapat dari anak. Mereka hanya bisa menyusahkan orang tua saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Romance[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
