Hari demi hari berlalu.
Bulan pun berlalu. Semuanya baik-baik saja. Senyum cerah selalu terlukis di wajah sepasang insan yang saat ini baru saja bangun tidur. Alarm membangunkan mereka tapi sesungguhnya Zoia sudah bangun dari tadi. Saat dia kembali dari kamar mandi, dia mengusap mulutnya yang basah dengan tissue lalu kembali tidur di pelukan Nicholas yang baru saja mematikan alarm pengganggu.
Tak lama kemudian Zoia kembali bangun, pelan-pelan dia masuk ke walk in closet lalu berdiri di depan cermin. Kemudian dia menyibak bajunya, dan tersenyum. Sepertinya dia harus bergegas untuk pergi kesuatu tempat.
"Mau kemana, Sayang?"
"Eh?" Zoia segera berbalik dan melihat Nicholas sedang melipat tangannya di dada, memperhatikan istrinya yang tengah berpakaian."Aku... mau pergi membeli sesuatu..."
"Membeli apa pagi-pagi begini?"
"Membeli pembalut."
"Pembalut?"
"Ya, aku tiba-tiba menstruasi."
"Lagi?"
"Siklusku berubah-ubah. Apa kau tidak tidur lagi?"
"Tidak bisa tidur kalau istriku tidak ada di sebelahku."
"Huh dasar tukang gombal." Zoia tersipu sedikit."Yasudah aku mau berpakaian, keluarlah."
"Sejak kapan kau mengusir suamimu saat kau sedang berpakaian?"
"Eh... tidak... maksudku... yah..." entah kenapa wanita itu tergagap, hingga membuat Nicholas curiga.
"Apakah ada sesuatu yang tak ingin kulihat?"
"Menstruasiku... memang kau mau melihat darah mengucur dari celana dalamku?"
Nicholas memasang wajah jijik lalu seketika mundur dari sana. Zoia terkekeh pelan sambil memeriksa suaminya sudah pergi atau belum. Begitu yakin Nicholas sudah tak ada, dia segera melepaskan bajunya, lalu memakai dengan baju gombrong.
Tak lama dia selesai bersiap.
"Aku pergi dulu."
"Siapa bilang kau boleh pergi sendiri hm?"
Deg.
Zoia baru menyadari Nicholas kini juga sedang memakai baju kaos hitamnya. Jangan bilang dia akan ikut Zoia.
"Aku akan pergi menemanimu, setelah itu kita sarapan di restoran favoritmu."
"Kurasa aku bisa pergi sendiri. Tak akan lama. Hanya membeli pembalut setelah itu aku bisa memasak. Lasagna, kau suka kan?"
"Aku ingin sarapan diluar, Sayang."
Zoia ingin sekali menghentakkan kakinya kesal. Dia ingin menolak tapi kalau dia melakukan itu, Nicholas akan semakin curiga. Ah yasudahlah! Dia terpaksa harus membatalkan janji pagi ini.
"Ayo, aku sudah siap." Nicholas memakaikan jaketnya, lalu merangkul Zoia saat berjalan keluar kamar.
"Kenapa tumben sekali pagi-pagi kau ingin sarapan di luar?" Tanya Zoia heran. Dia takut itu hanyalah modus Nicholas agar bisa mengekorinya.
"Tujuan utamanya adalah menemanimu."
Yah harusnya Zoia tersentuh bukan? Tapi hei gara-gara Nicholas dia harus menunda segalanya.
"Kalian akan pergi?" Tanya Keenan.
"Hm."
"Kemana? Apa aku boleh ikut?"
Nicholas melotot kesal."Berhentilah mengekor. Selama ini kerjaanmu mengekor saja. Pergilah cari pacar, betah sekali kau itu jadi obat nyamuk."
Zoia tertawa lucu."Apa tidak ada wanita yang cukup cantik untuk Keenan di dunia ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MILAN
Romance[ 21+ ] CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA --------------- 📝 01/11/220
