six

1.3K 182 30
                                        

hange menghampiri regu erwin yang sedang berlatih sendirian tanpa diawasi erwin karena kapten mereka harus membantu komandan keith untuk menyusun strategi.

seperti biasa, hange memasuki area latihan dengan heboh dan pastinya ditemani moblit. moblit sudah seperti pawangnya bagi hange.

hange meminta izin kepada teman satu regu hilda untuk membawanya karena 'urusan penting' yang hilda sendiri tidak tahu apa itu.

mereka berjalan menuju ruang rapat komandan keith dan menunggu seseorang di sana.

"maaf, hange-san, kita sedang menunggu siapa?" tanya hilda setelah 5 menit berdiri di depan pintu ruangan tersebut. hilda yang lebih pendek dari hange berdiri di sebelah hange, sedangkan moblit berdiri di sebelahnya.

"mike, tadi malam aku bilang padamu aku ingin kalian berkenalan, kan?"

"saya tidak tahu kalau anda akan melakukannya hari ini?"

"oh ya? maaf maaf jadi mendadak. hilda, jangan panggil aku terlalu formal seperti itu, hange saja cukup."

"eh? tapi itu tidak sopan, hange-san."

"hilda! pertama, usia kita tidak terpaut terlalu jauh, yang kedua, kita adalah teman. aku tidak mau temanku terlalu kaku saat bersamaku."

hilda hanya mengangguk, tanda bahwa ia akan menuruti permintaan hange.

beberapa menit kemudian, komandan keith, kapten erwin, dan mike keluar dari ruangan tersebut dengan membawa beberapa gulungan kertas di tangan mereka.

"hange? ada kepentingan apa?" keith bertanya kepada hange, mewakili erwin yang bertanya terlebih dahulu di dalam hatinya.

erwin memperhatikan seseorang di belakang hange yang sedang mengepalkan tangannya dan pandangannya lurus melihat keith. sedangkan orang yang diperhatikan oleh erwin, tahu bahwa ada erwin di situ dan tidak ingin menoleh sama sekali padanya.

"saya ingin-" belum lengkap kalimat hange diucapkan, mike sudah melangkah terlebih dahulu dan mendekatkan hidungnya ke wajah hilda, membuat gadis tersebut terkejut.

erwin tahu itu adalah kebiasaan yang dimiliki mike, yang tidak dia tahu adalah, kenapa hatinya sakit saat mike begitu dekat dengan hilda.

"saya hanya ingin memperkenalkan hilda freiherr kepada mike, komandan."

"ha? kamu ingin jadi mak comblang?" tanya keith dengan maksud bercanda. entah kenapa ada hawa dingin yang menusuk di balik punggungnya.

"mike...san?" mike yang daritadi belum selesai mengendus hilda akhirnya berhenti juga setelah hilda memanggil namanya.

"hmm, baumu seperti erwin."

"HAA?!!"

semua yang ada disitu, terutama yang namanya ikut-ikutan terseret pun kaget, tidak percaya dengan apa yang telah mereka dengar.

hidung mike yang tajam selalu akurat dan itu terbukti saat dia mencium bau titan dari jarak yang jauh dan menyelamatkan pasukan pengintaian, penciumannya tidak mungkin salah.

"erwin! kau apakan bawahanmu?!" tanya keith dengan histeris.

"Hilda? tadi malam kamu bohong padaku?" tanya hange kepada hilda yang membuat hilda frustasi dan wajahnya memerah.

"saya tidak melakukan apapun, komandan. mike, mungkin hari ini kamu sedang flu." bantah erwin, mencoba mengeluarkan dirinya dari situasi canggung ini.

"benar baunya sepertimu, erwin. bau yang susah dicium."

hilda masih tidak paham dengan ucapan mike, sedangkan erwin dan hange yang sudah kenal lama dengan pria itu paham betul maksud dari perkataan mike.

hange mengalihkan topik dan ingin membahasnya berdua saja dengan hilda.

👁👄👁

erwin turun dari kereta kuda yang membawanya ke salah satu rumah di kota yang berada di tembok sina.

rumah tersebut sangat besar. terdapat orang-orang di taman tersebut sedang memotong rumput dan menyiram bunga. rumah berwarna putih itu sangat terawat meskipun sudah didirikan sejak setengah abad yang lalu, masih terlihat baru.

seorang pelayan rumah tersebut menemaninya menuju tempat yang dituju, ruang tamu keluarga freiherr. di perjalanan, dia melihat banyak lukisan besar dan mewah yang tertata rapih di dinding rumah itu, ini pertama kalinya dia memasuki rumah sebesar dan semewah itu.

sang pelayan membukakan pintu ruang tamu untuk erwin, dan erwin melangkah memasuki ruangan tersebut.

seorang pria paruh baya dengan rambut coklat dan mata hitam, menggunakan setelan mahal, melihat pemandangan luar dibalik jendela kaca besar. pria tersebut menyuruh erwin untuk duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut.

di hadapannya, tersapat lukisan pria yang berada didepannya sedang duduk dan seorang gadis yang berdiri, memegang pundak pria tersebut. wajah gadis itu sangat dihafalnya, dan pernah satu kali dia melihat senyum hangat gadis tersebut.

"siapa yang kamu perhatikan di situ, kapten erwin? aku atau anakku?" ucap sang pemilik rumah. beberapa pelayan masuk membawa cemilan dan minuman untuk majikan mereka dan tamunya, menempatkannya diatas meja.

"maaf atas kelancangan saya."

"santai saja, kapten. aku bukan seperti bangsawan lain yang gila hormat."

erwin tersenyum mendengar kalimat tersebut. rupanya, rumor bahwa keluarga freiherr merupakan keluarga bangsawan paling ramah bukanlah omong kosong belaka.

"jadi, bagaimana keadaan anakku?"

"hilda freiherr melakukan tugasnya dengan sangat baik, tuan gilbert freiherr."

"baguslah. aku awalnya khawatir saat dia bilang dia ingin bergabung dengan pasukan pengintai, tapi sepertinya aku akan lebih tidak terima jika dia bergabung dengan brikade kepolisian. sudah kerjanya tidak becus, korupsi, mereka pasti akan menggoda anakku."

erwin hanya tersenyum, memikirkan apakah dia boleh bertanya pertanyaan yang dia miliki atau tidak. entah orang dihadapannya ini cenayang atau bukan, gilbert mempersilahkan erwin untuk bertanya tentang apapun dan pasti akan menjawab pertanyaannya, membuat erwin berani untuk bertanya pertanyaan yang lancang ini.

"apakah hilda freiherr adalah anak kandung anda?"

sonder || erwinxocTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang