forty six

787 96 9
                                        

malam itu, beberapa jam setelah mereka keluar dari tembok, pasukan pengintai melewati gunung karena itu adalah jalan tercepat menuju shiganshina.

hilda berjalan di samping erwin yang memimpin pasukan pengintai di depan. meskipun malam itu sangat gelap karena bulan sedang memasuki fase pertamanya, mereka masih mendapatkan penerangan karena dibantu oleh serpihan batu yang ditemukan di gereja milik keluarga reiss.

"ada apa?" hilda bertanya setelah erwin mendapatkan laporan dari salah satu pasukannya.

"mereka menemukan raksasa. beruntung sekali karena raksasa tersebut tidak aktif."

"sayang sekali."

erwin melihat hilda yang sedang berjalan di sampingnya dengan tatapan pasrah.

"kamu dan hange sama saja saat membahas tentang raksasa."

erwin tersenyum melihat cahaya di mata hilda telah kembali. wajahnya terlihat lebih cerah setelah melimpahkan semua urusan politiknya kepada val, pemuda yang telah di didiknya sejak kecil.

sejak ia membiarkan hilda kembali ke pasukan pengintai, erwin sudah mempersiapkan perpisahan mereka, setidaknya dia tidak akan menyesal karena ia masih bisa melihat cahayanya saat perpisahan mereka nanti.

"hilda," erwin melihat tangannya yang bergetar, dan hilda tahu, kini pria di sampingnya sedang dipenuhi dengan keraguan.

"apa menurutmu nanti aku bisa mengesampingkan egoku?"

hilda tahu apa yang sedang dibicarakan oleh erwin, dia juga tahu apa yang sedang ditakutkan erwin.

hilda memukul pundak erwin dengan keras, mencoba untuk menyemangati pria yang kini sedang dipenuhi oleh keraguan.

"tidak biasanya kamu seperti ini. percaya dirilah. erwin smith adalah seorang komandan yang kuat dan pintar, aku yakin kamu akan selalu memilih pilihan yang bijaksana."

erwin mendengarkan kalimat yang diucapkan oleh hilda. meskipun saat ini orang yang paling mengetahui dirinyalah yang sedang menyemangatinya, rasa ragu dalam hatinya masih ada.

"aku tidak tahu pilihan apa yang akan menghadapimu nanti. aku juga tidak tahu apakah aku masih ada disisimu untuk membantumu atau tidak. hanya ini yang bisa kuucapkan sekarang, jangan memilih pilihan yang akan kamu sesali keesokannya, erwin."

merasa kalimat yang baru saja ia dengar menusuk tepat ke hatinya, erwin pun mematung, menghentikan langkah kakinya.

"lagipula, kalau aku tidak ada, aku yakin seseorang akan membantumu."

hilda yang tersenyum dengan santai menarik tangan erwin, mengajaknya untuk berjalan di sisinya lagi. erwin menghela nafas lega saat melihat mataharinya kini kembali bersinar.

〰️〰️〰️

dengan mengenakan sayap kebebasan di punggung mereka, pasukan pengintai tiba di shiganshina saat matahari mulai menampakkan dirinya.

hilda berpisah dengan erwin yang sedang mengawasi dari gerbang dalam, sedangkan dirinya pergi menuju gerbang luar bersama pasukan regu levi dan regu hange.

"hange."

hilda memanggil hange. meskipun awalnya ia ingin membahas tentang kejanggalan yang ada, tapi hilda mengurungkan niatnya dan hanya meminta hange untuk berhati-hati.

setelah melihat suar sinyal berwarna merah yang ditembakkan oleh erwin, hilda segera mengenakan 3d manuvernya untuk menemui sang komandan.

"mencari musuh di dalam tembok, ya? ide siapa?"

hilda bertanya kepada erwin tepat setelah ia tiba dihadapan erwin.

"arlert, armin arlert."

"hee, pintar juga."

hilda mengingat sosok armin arlert, seorang remaja berumur 15 tahun. meskipun hilda jarang bertemu dengan armin dan tidak pernah melihat dia memimpin pasukan secara langsung, tapi armin arlert mengingatkannya kepada seseorang.

"dia mengingatkanku padamu, tapi versi lebih ceria." hilda terkekeh-kekeh membayangkan jika erwin memiliki sifat ceria seperti armin.

"bisa-bisanya kamu masih sempat bercanda."

setelah erwin memarahinya, hilda kembali fokus pada misi mereka.

tidak lama setelah kemunculan reiner sebagai titan zirah, musuh mereka yang lainnya muncul. hilda tidak bergidik sedikit pun saat melihat sebuah batu dilemparkan oleh raksasa dengan rambut yang lebat seperti monyet karena ia memperkirakan kemana batu tersebut akan jatuh.

meskipun titan zirah telah bangkit dan bersiap untuk memanjat tembok, erwin tetap berpikir dengan tenang, memperkirakan kemungkinan apa saja yang akan terjadi dan bagaimana mereka akan mengatasinya.

sebagai komandan, erwin akhirnya mengambil sebuah pilihan dan menjelaskan rencananya kepada pasukannya.

ia membagi kedua pasukannya menjadi dua, pasukan pertama akan melindungi kuda mereka dari raksasa dan pasukan yang kedua akan menghadapi titan berzirah.

setelah semuanya bergerak dan akan melaksanakan misi mereka, hilda masih berada di atas tembok bersama erwin, mengamati situasi.

"hilda, kamu akan mengikuti yang mana? atau kamu memilih untuk tetap disini?"

ini adalah syarat yang diberikan oleh erwin saat dia mengizinkan hilda mengikuti misi perebutan tembok maria. hilda tidak terikat oleh perintahnya, hilda harus memilih sendiri jalan yang ia inginkan meskipun sebenarnya ini hanyalah cara erwin agar ia tidak akan menyesal saat kehilangan perempuan tersebut.

"tentu saja menjaga kuda-kuda itu."

hilda melepaskan tudung yang menutupi wajahnya dan bersiap untuk turun dari tembok karena dia memilih untuk melindungi kuda mereka.

tiba-tiba erwin menarik jubahnya. hilda tahu ada sesuatu yang ingin di ucapkan oleh erwin, namun sang komandan mengurungkan niatnya dan memalingkan wajahnya, tidak sanggup untuk melihat wanita dihadapannya.

hilda menghela nafasnya dan berjalan mendekati erwin.

"dasar."

kedua tangannya menarik jubah milik pria yang lebih tinggi itu dan memberikan kecupan sederhana, membuat erwin terkejut dan hanya bisa mematung.

"kamu tidak pernah pandai mengucapkan selamat tinggal, erwin."








to be continued...







last chapter up bsk jam 14.10
hehehe:3

sonder || erwinxocTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang