"hei, hildaa~ kalian berdua tadi sedang apa?"
hange membawa hilda ke ruangannya dan memberikan obat pada luka di wajah hilda.
saat erwin melihat luka yang dimiliki hilda, hange dan moblit sedang berjalan di koridor tersebut. tentu saja hange langsung heboh dan tidak bisa diam meskipun moblit mencoba untuk menenangkannya.
"eh? saya dan kapten tidak melakukan apa-apa, hange-san."
"oh yaa? aku yakin tadi aku melihat wajahmu memerah. hayo~ kalian ngapain? hahahaha."
"hange-san, saya tahu anda tahu bahwa tadi tidak terjadi apa-apa. tolong berhenti menggoda saya."
hange dapat melihat wajah hilda yang masih memerah. seperti perkataan hilda, dia tahu erwin tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh kepada bawahannya, terutama mereka baru kenal.
meskipun begitu, hange tetap saja menjahili hilda dan berkata akan berhenti menggodanya kalau hilda menjawab beberapa pertanyaan dari hange. hilda yang sudah tidak tahan terus-terusan digoda oleh hange langsung menyetujui persyaratan tersebut.
"aku tadi lihat aksimu saat latihan di dalam hutan, loh."
hilda hanya diam dan menunggu pertanyaan dari hange.
"bagaimana kamu bisa cepat menemukan boneka itu? kamu juga tiba-tiba muncul dari belakang erwin. hildaaa~ tolong ajari aku agar aku bisa pamer pada keith~"
hange memegang kedua tangan hilda dan membuat hilda tidak bisa menghindar.
"saya hanya mengikuti bau kapten erwin, hange-san."
"baunya?"
"iya. karena itu saya muncul dari belakang punggung kapten erwin."
"woaa~ kamu sama seperti mike!!"
"mike-san?"
"kamu belum pernah bertemu dengannya, ya? besok kalian harus berkenalan, mungkin ini bisa menjadi duo radar yang keren!"
"eh, ahahahaha." hilda tidak tahu harus menjawab apa dan hanya tertawa sambil memainkan rambutnya, kebiasaannya yang tidak dia sadari saat dia sedang merasa canggung.
"tapi gerakanmu bukan seperti orang yang baru belajar menggunakan 3d manuver."
"di kamp pelatihan semuanya bisa menggunakan itu, hange-san."
"heem heem~ tapi, kamu terlihat sangat lincah, mungkin sudah setingkatan dengan seniormu yang lama disini."
ini bukan kali pertamanya hilda mendengarkan pujian itu. dia ingat saat pelatihnya dulu bertanya hal yang serupa padanya. dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia sendiri tidak tahu apakah kemampuannya benar-benar hebat seperti yang orang lain katakan atau tidak.
sejak detik itu pula setiap pelatihnya menulis laporan, dia selalu menyebut hilda dengan panggilan 'anak bertalenta'.
"kamu sepertinya tidak mau menjawabku."
"tidak, saya... saya hanya tidak tahu harus menjawab seperti apa."
hange tiba-tiba tertawa, membuat hilda kaget dan hampir menjatuhkan cangkir berisi teh yang sedang ia pegang.
hange mengacak-acak rambut hilda dengan gemas meskipun tawanya daritadi belum selesai.
"datamu mengatakan kecerdasanmu di atas rata-rata, tapi kenapa daritadi kamu tidak bisa menebak arah pembicaraanku? aku yakin moblit pasti tahu aku hanya bercanda."
hilda menoleh ke moblit, seniornya sekaligus bawahan hange, yang sedang menenangkan hange.
"ada apa? masih salah tingkah karena erwin?"
"eh?! tidak, hange-san."
"tuh, kan!" hange lagi-lagi tertawa dengan sangat keras, sampai-sampai erwin yang daritadi mondar-mandir di depan pintu ruangan hange menghilangkan keraguannya.
"hange, ini sudah larut malam."
"are? erwin? sedang apa disini?"
"suaramu terlalu kencang, terdengar sampai luar."
"hmm~"
kali ini hange membaca situasi antara temannya dan bawahannya. meskipun sejak erwin membuka pintu dia hanya memanggil nama hange, namun mata temannya itu berkata lain, jelas sekali erwin sedang memperhatikan hilda.
sedangkan hilda membuang muka, tidak berani melihat kaptennya sendiri. walaupun wajahnya tertutup oleh rambutnya yang sepanjang bahu, hange masih dapat melihat wajah frustasi gadis manis dihadapannya.
"hee~" hange melihat dua orang itu dengan tatapan gemas.
"hange."
"hm? ada apa, erwin?"
"tidak apa-apa. hilda, kembalilah ke ruanganmu dan segera istirahat."
setelah mendapatkan perintah dari erwin untuk beristirahat yang ketiga kalinya, hilda pamit kepada hange, moblit, dan erwin. langkah kakinya saat ia berjalan di koridor tidak lepas dari pandangan erwin.
"yo, kapten erwin. ada kabar apa?" tanya hange dengan nada yang usil.
"aku hanya ingin mengajakmu berdiskusi tentang prajurit baru."
"prajurit baru? maksudnya si anak bangsawan tadi?"
erwin mendengus kesal saat hange menjahilinya.
"tumben sekali kamu seperti itu, erwin."
"eh? menurut saya kapten erwin selalu baik kepada bawahannya, kapten hange."
moblit memotong pembicaraan erwin dan hange tanpa sadar, dia pun segera meminta maaf kepada dua atasannya itu. namun hange membalasnya dengan raut wajah tidak setuju.
"aku tahu dia selalu memperhatikan rekannya, tapi yang tadi berbeda. moblit, kamu tidak lihat bagaimana udara di sekitar mereka berdua? udara itu seperti mengatakan 'dunia milik berdua, lainnya minggir' seperti itu."
"hange, kamu terlalu membesar-besarkan." erwin membantah pernyataan hange.
"ah, kalau diingat-ingat, sepertinya memang begitu." kali ini moblit terseret oleh kalimat hange, membuat erwin frustasi dan segera menghabiskan teh yang tersisa, meninggalkan hange dan pemikiran gilanya.
saat ingin keluar dari ruangan tersebut, hange ingat sebuah pertanyaan yang lupa dia tanyakan.
"jadwal regumu besok apa? aku ingin mengajak hilda jalan-jalan."
"hanya latihan, jalan-jalan untuk apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
sonder || erwinxoc
Fanficseorang gadis dengan nama keluarga bangsawan berumur 15 tahun bergabung dengan pasukan pengintai. ketika anak bangsawan lainnya telah menemukan kedamaian hidup mereka dibalik tembok besar, hilda freherr memilih untuk mencari jawaban dari semua pert...
