eight

1.2K 163 10
                                        

CW! death

sudah tiga bulan sejak anggota baru bergabung ke pasukan pengintai, dan pagi itu adalah hari dimana pasukan pengintai melakukan ekspedisi sesuai yang direncanakan sejak tiga bulan yang lalu.

komandan memberikan arahan dan bagaimana mereka nanti bisa mati saat melawan titan. para anggota baru yang belum pernah melihat titan terlihat memasang raut wajah ketakutan. tentu saja mereka takut mati.

saat kapten regu mempersiapkan anggota, erwin dapat merasakan ketegangan diantara anggota barunya. dia pernah berada diposisi mereka, takut akan suatu hal yang belum pernah ia temui.

hanya ada satu anggota baru yang tidak memasang wajah ketakutan. entah dia pura-pura untuk kuat atau memang tidak takut, erwin tidak bisa membaca ekspresinya.

"hilda, kamu tidak takut?"

hubungan mereka selama tiga bulan sudah tidak canggung, tidak seperti awal pertemuan mereka. dan ada rahasia hilda yang diketahui oleh erwin, sejak saat itu hubungan mereka tidak dekat tapi juga tidak jauh.

"takut apa, kapten?"

"mati."

hilda hanya diam, melihat langit biru dimana para burung terbang dengan bebas.

"lagi-lagi, wajah itu." batin erwin.

regu erwin mulai menjalankan kuda mereka. erwin memimpin regunya didepan dan hilda ditempatkan tepat dibelakangnya.

"pada akhirnya semua akan mati, kapten."

erwin terkejut mendengar jawaban dari hilda. ia melambatkan jalan kudanya agar bisa mendengar lebih jelas suara dari gadis tersebut.

"punya bakat dan kekuatan yang mengalur di darahku, pun, mati pasti akan menghampiri. tidak ada gunanya untuk takut mati."

hilda sadar dia sedang memasang wajah serius yang sebenarnya tidak ingin dia tunjukkan. dengan segera hilda langsung mengganti ekspresinya dan tersenyum.

"daripada menghabisi waktu untuk memikirkan kematian, bukankah lebih baik menghabisi waktu untuk menikmati hidup, ya kan kapten?"

sang kapten lagi-lagi dibuat kaget oleh perkataan hilda. erwin salah menganggap dirinya sudah tahu tentang hilda saat dia hanya tahu satu rahasia darinya. hilda tidak hanya kuat dalam fisik dan kemampuan bertarung, kalimat yang diucapkannya pun sangat kuat.

erwin mengacak rambut hitam hilda sebelum kembali ke posisinya. ada senyum yang sudah lama tidak terlihat dari wajah dingin erwin.

"cih, selalu saja." gumam hilda.

"hm?" erwin ternyata mendengar ucapan hilda dan membuat hilda malu.

erwin sendiri tidak tahu kenapa tangannya bergerak sendiri tanpa izin darinya. sejak awal pertemuan mereka, dia merasa ada yang aneh dari dirinya.

gerbang tembok maria dibuka. mereka akan melakukan ekspedisi yang berbahaya bagi nyawa mereka. ekspedisi itu bertujuan untuk mencari tahu, apakah diluar sana masih ada kehidupan atau tidak.

👁👄👁

sudah dua jam sejak mereka meninggalkan tembok maria. banyak regu yang sudah gugur, namun regu erwin masih bertahan.

regunya berada ditengah formasi, posisi itu awalnya adalah posisi teraman karena tidak langsung berhadapan dengan titan. tapi, karena sebagian regu telah dihancurkan habis oleh lawan mereka, kapanpun dan dimanapun mereka akan bertemu titan tidak lama lagi.

seperti perkiraan hilda, seekor titan abnormal mengejar mereka dengan kecepatan penuh. mau tidak mau erwin memerintahkan regunya untuk membunuh titan itu.

saat hilda ingin ikut menghabiskan lawan dihadapan mereka, finn, salah satu teman satu regunya menghalanginya.

"hilda! carilah komandan!"

"apa?"

belum sempat mendapatkan penjelasan dari finn, temannya itu sudah menggunakan 3d manuvernya dan maju melawan titan.

titan abnormal tersebut melihat dengan jelas pergerakan finn dan menangkapnya, memakannya hidup-hidup temannya.

perasaan marah dan sedih saat melihat temannya menjadi santapan titan mulai muncul dalam dirinya. hilda menarik pedang dari tempatnya dan bersiap untuk membunuh titan tersebut. namun, seorang temannya menariknya kebelakang.

"pergilah bersama kapten erwin!"

"jangan ikut menyerang, hilda!"

hilda tidak bisa berpikir dengan lancar, tubuhnya tidak bisa bergerak. hilda mencoba untuk berpikir kenapa teman-temannya berusaha menghalanginya.

pemandangan dihadapannya adalah pemandangan temannya yang satu persatu mati, dimakan oleh monster tersebut. darah temannya bercucuran kemana-mana, mengenai jubah hijaunya.

"hilda, segera kembali ke kudamu. kita harus menemui komandan."

erwin memerintahkan hilda untuk mengikutinya. tapi yang dilihatnya bukanlah hilda yang menaiki kuda, melainkan wajah hilda yang dipenuhi perasaan marah.

hilda menepis tangan erwin dari pundaknya dan mengabaikan perintah dari kaptennya. hilda maju menghadapi titan itu, menghabisinya. dia tidak langsung membunuh titan itu. tidak ada suara amarah dan suara tangisan yang terdengar dari hilda, namun, baik erwin maupun sang titan dapat merasakan kemarahan hilda.

setelah merasa cukup banyak memberikan rasa sakit kepada titan itu, hilda membunuhnya. darah yang keluar dari titan itu seperti hujan. jubah hilda yang telah kembali ke erwin yang menjaga kudanya masih terkena darah tersebut.

erwin turun dari kudanya dan menghampiri hilda yang terlihat kelelahan.

"hilda-"

tangannya menggapai kerah pria yang lebih tinggi darinya. hilda menarik erwin, memperlihatkan wajahnya yang memerah karena marah dan matanya yang berair.

erwin tidak melawan. dia tahu dia telah melakukan kesalahan besar.

"apa yang anda perintahkan kepada mereka? APA?!"

hilda tidak mendapatkan jawaban dari erwin, dan erwin tidak berniat untuk menjawabnya karena meskipun dia tidak menjawab pertanyaan tersebut, hilda sudah tahu apa jawabannya.

"lindungi anak itu? jangan biarkan anak pemasok makanan itu mati? biarkan diri kalian yang mati? yang mana, kapten?"

hilda tidak meninggikan suaranya. tubuhnya bergetar, begitu pula suaranya.

erwin merasakannya. dia melepaskan tangan hilda yang menggenggam kerahnya dan menariknya kedalam pelukannya.

"tolong, jangan," suara hilda semakin lemah, "jangan lindungi saya lagi, jangan ragu dengan kemampuan saya."

erwin tidak menjawab. dia masih ingin membiarkan hilda tenang tanpa mendengar suara darinya.

"tolong, percayalan pada saya."

hanya terdengar suara tangisan hilda. rasa bersalah kali ini tidak hanya menyelimuti hilda, tapi erwin juga.

dia sudah terbiasa melihat rekannya mati dan mengorbankan mereka setelah bekerja sebagai pasukan pengintai selama 6 tahun demi rencananya. tapi, mendengar tangis gadis kecil yang dia peluk merobek hatinya.

sonder || erwinxocTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang