esoknya, erwin dan keith dipanggil lagi oleh darius. tadi pagi, keith memarahi erwin dan hilda habis-habisan karena mereka sembarangan mengajukan proposal kepada divisi militer yang lain tanpa persetujuan darinya.
sebenarnya keith sadar mereka berdua memiliki rencana sendiri. meskipun rencana mereka tidak pernah merugikan pasukan pengintai, tetap saja keith merasa kesal jika mereka bergerak tanpa sepengetahuan dan persetujuan darinya.
"lobov mengubah pikirannya." ucap darius setelah keith dan erwin memasuki ruangannya.
"maaf, pak?" keith tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"kalian menang. aku tidak pernah menyangka bahwa pria seperti lobov akan mengubah pikirannya. keith, apa kau tahu kenapa?"
"tidak, pak. saya tidak tahu apa-apa."
"begitu..." tanpa bertanya kepada keith pun sebenarnya darius tahu siapa yang dapat mengubah pikiran lobov. matanya tertuju pada erwin yang memasang wajah datar, tidak seperti atasan disampingnya.
darius menjelaskan bahwa meskipun mereka lolos dari pembubaran, mereka harus tetap menghasilkan sesuatu yang signifikan. para pemilik kekuasaan masih tidak membiarkan pasukan pengintai bergerak bebas.
"jenderal darius, bagaimana dengan masalah yang saya tanyakan di lain hari?" tanya erwin kepada darius.
"hm? oh. maksudmu perekrutan orang bawah tanah? brikade kepolisian menyetujuinya."
"terimakasih, jenderal."
"tapi, tidak peduli betapa hebatnya mereka, apa kau yakin penjahat seperti mereka akan berguna saat berada di luar tembok?"
"saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, pak. terutama pemimpin mereka yang mungkin sudah setingkatan atau melebihi kemampuan para veteran. saya ingin menggunakan siapa pun itu meskipun orang yang memiliki potensial kecil selama ekspedisi ini."
kalimat erwin membuat darius dan keith hanya diam. mereka tahu pria muda itu memiliki potensial yang besar. kalimat yang keluar dari mulutnya dapat meyakinkan hati orang yang mendengarnya. bahkan keith sendiri sadar, tidak hanya sekali dua kali erwin mencoba memanfaatkannya dengan otak dan ucapannya.
"bagaimana hasilnya?"
hilda sedang merapikan dokumen yang berada diatas meja kerja erwin saat sang pria berambut pirang itu kembali ke ruang kerjanya. merasa lelah karena di sepanjang perjalanan kembali ke markas keith memarahinya, erwin memeluk hilda dan bersandar pada sang gadis.
"sesuai rencana. besok lusa, rencana kota bawah tanah kemungkinan akan berjalan lancar."
"begitu, ya? istirahatlah, aku sudah membereskan dokumen-dokumenmu."
erwin berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut, mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya yang pegal.
"hilda, kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, katakan. raut wajahmu mudah sekali untuk ditebak."
"ahahaha, bukan hal besar, kok."
tidak butuh waktu lama hingga erwin benar-benar tertidur dengan lelap. hilda yang telah menyelesaikan laporannya melihat erwin tertidur dengan tangan yang menutupi wajahnya.
cuaca hari ini dingin meskipun matahari bersinar terang, angin musim semi masih enggan untuk berganti dengan musim panas.
hilda melepaskan seragam jaketnya, mencoba untuk menyelimuti tubuh besar erwin. tangannya yang kecil mengelus pelan rambut pirang milik erwin.
perkataan erwin sebelum dia tidur tidak salah. ada yang mengganggu pikirannya.
rencana kota bawah tanah besok lusa memiliki resiko erwin akan terbunuh oleh target mereka. kemungkinan sekecil apapun telah dibahas oleh erwin dan hilda, mereka harus siap, entah apa pun itu yang terjadi.
sejak awal hubungan mereka, hilda dan erwin sudah mempersiapkan diri jika suatu saat mereka akan kehilangan satu sama lain. namun hilda tidak bisa. entah sudah berapa kali dia berusaha mempersiapkan dirinya, membayangkan saat erwin pergi dari sisinya selalu membuat hatinya terluka.
"dunia ini tidak adil, tapi adil. aku bertemu denganmu, aku mencintaimu, aku bahagia bersamamu, tapi kamu akan tetap pergi, menghilang dari sisiku." hilda tertawa pelan, seolah menertawakan kehidupan yang tidak tahu apa maunya. "aku ingin selalu seperti ini, erwin."
hilda mencium kening pria yang tertidur sebelum dia ke lapangan, menemui salah satu sahabatnya
➖➖➖
dua hari kemudian. hari dimana rencana yang telah mereka susun sejak satu bulan yang lalu dilaksanakan.
regu yang dipimpin oleh erwin menyiapkan kuda mereka setelah erwin memberikan pengarahan.
saat hilda bersiap untuk menaiki kudanya, seseorang menghampirinya dari arah tembok sina. dia menaiki kuda yang tidak asing bagi hilda dengan terburu-buru.
"hilda-san!" laki-laki berusia sekitar 18 tahun tersebut meneriakkan namanya dan turun dari kudanya. hilda langsung menghampiri laki-laki tersebut.
"kenapa terburu-buru, val? ini minumlah air." hilda mengeluarkan tempat minumnya dari balik jubahnya.
"tidak ada waktu, nona." jawab laki-laki yang bernama val tersebut. nafasnya masih berat, tapi dia harus segera memberitahukan hilda. "tuan besar tiba-tiba pingsan. kami sudah memanggil dokter pribadi tuan gilbert dan kata beliau penyakit tuan semakin parah."
erwin yang tidak terlalu jauh dari tempat dimana hilda dan val berdiri dapat mendengar semuanya. dia juga bisa menebak bagaimana ekspresi hilda dari balik punggungnya.
hilda menjatuhkan tempat minumnya. dia tahu ayahnya memiliki penyakit mematikan, namun ia tidak menyangka penyakit itu akan berkembang secepat ini.
dihadapi oleh posisi yang sulit. hilda harus memilih antara melanjutkan misi dan memastikan erwin baik-baik saja atau menemani ayahnya yang entah kapan akan terbangun.
hilda membalikkan badannya dan melihat erwin, dia tidak tahu harus memilih yang mana, misi penting ini atau melihat pamannya.
erwin dapat melihat sisi hilda yang rapuh. gadis dihadapannya itu selalu tersenyum seolah-olah dia memiliki hati yang kuat, tidak merasakan sakit di hatinya, namun kenyataannya tidak. hatinya selalu merasakan sakit. di saat hilda mendatanginya dan memberitahu kabar bahwa ayahnya mengidap penyakit mematikan, hilda hanya memasang senyum di wajahnya. di saat hilda kehilangan rekan dan teman-temannya saat ekspedisi, dia tersenyum seolah-olah itu adalah hal yang biasa.
senyum terukir di wajahnya, namun cahaya matanya berkata lain. seiring bergantinya hari, erwin dapat melihat bahwa cahaya tersebut semakin redup.
"pergi dan temui tuan gilbert, biar kami yang mengurus kota bawah tanah." erwin menepuk kepala hilda.
hilda dengan air mata yang menggenang di matanya menaiki kuda jenis roan yang berwarna biru miliknya, menuju distrik hermiha.
KAMU SEDANG MEMBACA
sonder || erwinxoc
أدب الهواةseorang gadis dengan nama keluarga bangsawan berumur 15 tahun bergabung dengan pasukan pengintai. ketika anak bangsawan lainnya telah menemukan kedamaian hidup mereka dibalik tembok besar, hilda freherr memilih untuk mencari jawaban dari semua pert...
