thirty two

818 112 4
                                        

hari ini adalah hari yang telah direncanakan oleh komandannya, erwin. meskipun erwin melarangnya untuk ikut ekspedisi, hilda tetap memaksakan diri untuk ikut.

hilda kembali ke markas tanpa sepengetahuan erwin. dia tiba di markas saat matahari belum terbit, saat para pasukan pengintai mempersiapkan peralatan untuk ekspedisi nanti.

karena seragam militer yang memang sulit untuk digunakan secara instan dan karena luka diperutnya yang masih belum sembuh, hilda kesulitan untuk menggunakannya tanpa bantuan orang lain. dia melihat petra yang sedang berjalan sendiri dan memanggilnya.

"saya dengar dari kapten levi, anda tidak akan ikut ekspedisi, hilda-san."

"oh ya? cih, erwin sialan."

"eh? maaf?" petra tidak percaya bahwa dia baru saja mendengarkan hilda yang biasanya lemah lembut kini mengumpat.

"tidak apa-apa. bagaimana levi? dia tidak terlalu keras dengan kalian, kan?"

"tidak, kapten hanya disiplin berlebihan tentang kebersihan." jawab petra sambil membantu hilda mengenakan seragamnya.

"ahahaha, syukurlah."

"maaf jika saya lancang, tapi kenapa komandan erwin menempatkan saya di regu kapten levi?"

hilda dapat melihat wajah petra yang memerah saat bertanya. dia teringat saat levi pertama kali diangkat menjadi kapten dan dia yang memilihkan anggota regu levi atas perintah erwin.

"tentu saja karena kamu dan teman-temanmu hebat." hilda mengacak-acak rambut coklat petra dan berterimakasih padanya.

pintu ruang komandan diketuk oleh hilda dan erwin mempersilahkannya masuk. di ruangan tersebut, hilda melihat hange, levi, mike, dan nanaba yang sedang berdiskusi dengan erwin.

"biarkan aku ikut ekspedisi, erwin."

"tidak. kembalilah ke rumah sakit." erwin tidak membalas tatapan hilda dan tetap melihat kertas dihadapannya.

"tidak ada gunanya di sana, lukaku sudah sembuh."

"jalanmu saja masih pincang. jika kamu mengkhawatirkan 'anak itu', aku sudah menempatkan nanaba di dekatnya."

nanaba yang namanya disebut oleh erwin sebenarnya tidak tahu apa-apa. diantara mereka berempat, hanya dia yang ditempatkan di luar formasi tengah. nanaba yang baru sadar atas kejanggalan tersebut ingin bertanya kepada erwin, namun hilda yang sedang emosi menghantam meja kayu dengan keras, membuat nanaba mengurungkan niatnya.

"biasanya kamu tidak mencampurkan emosi dan pekerjaan seperti ini, hilda." intonasinya yang dingin membuat semua yang berada di ruangan itu bergidik.

"ahahaha. biasanya kamu tidak akan menghalangiku, erwin."

meskipun mereka tahu seharusnya mereka melerai hilda dan erwin, namun bayangan bahwa erwin dan hilda akan menghabisi mereka jika mereka ikut campur tiba-tiba datang.

erwin menghela nafas panjang, sedangkan hilda masih menunggu jawaban.

"baiklah, kamu boleh ikut ekspedisi kali ini. tapi formasinya seperti biasa, posisimu berada di tengah."

"ha?!"

"turuti atau tidak ikut sama sekali, hilda."

setelah membiarkan hilda berdecak kesal, erwin mengizinkan teman-temannya untuk keluar dari ruangannya, mengambil sarapan.

"hilda, kamu tetap disini."

hange dan lainnya terkejut saat erwin menyuruh hilda untuk menetap, tapi mereka tetap meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju kantin.

mike dan nanaba berpisah dari levi dan hange, membuat levi mau tidak mau sarapan berdua dengan hange yang selalu berisik.

"levi, apa terjadi sesuatu diantara mereka berdua?" tanya hange sambil mengunyah makanannya.

"tentu saja aku tidak tahu, bodoh."

"hmm~"

hange melihat sosok hilda yang berdiri di depan pintu kantin. dia tidak masuk dan mengambil sarapannya, tubuhnya berdiam disitu tapi matanya seperti sedang mencari seseorang. tidak lama kemudian hange melihat erwin berjalan dari belakang hilda yang langsung membalikkan badannya. meskipun mereka berpapasan, tidak satu pun dari mereka menatap mata masing-masing dan tersenyum.

"aku tidak pernah melihat mereka seperti itu selama 11 tahun."

"aku pernah."

"eh?! kapan?!"

"sering."

"serius?!!"

"ya. terutama kalau mereka sedang membahas tentang ekspedisi."

hange memasang raut wajah kecewa. dia sendiri sering melihat hilda dan erwin berdebat hebat tentang pekerjaan, tapi ini adalah pertama kalinya dia melihat mereka bertengkar seperti itu.

"kamu pasti tahu pertengkaran mereka tadi tidak seperti biasanya."

levi meneguk air di gelasnya sampai habis setelah makanan di piringnya telah dimasukkan ke dalam perutnya.

"tentu saja. tapi akhirnya mereka bertengkar seperti sepasang kekasih."

"aku tahu kamu tidak punya pasangan, tapi jangan malah senang dong kalau mereka bertengkar."

"bukan itu maksudku, bodoh." levi memukul kepala hange, membuat hange meringis kesakitan.

"akhirnya erwin menunjukkan kekhawatirannya kepada hilda. aku tahu mereka selalu mengkhawatirkan satu sama lain, tapi ini pertama kalinya erwin berterus terang, dan hilda sepertinya tidak menyadari maksud baik erwin."

"setuju, sih. mereka tidak pernah mengekang satu sama lain, selalu memberikan kebebasan. dua-duanya selalu memiliki rencana yang tidak kita ketahui, tapi yang jelas rencana itu mengancam nyawa mereka dan mereka tahu, dan selama 11 tahun, akhirnya erwin meledak."

"hmm, meledak. mungkin karena hilda yang sedang terluka dan hampir dibunuh. orang itu tidak bercerita apa pun padamu?"

"pernah, tapi ini sudah lama sekali. penasaran?"

"tidak."

hange langsung mengangkat nampannya untuk pergi dan levi menariknya, menyuruhnya kembali.

"tentu saja penasaran, bodoh."

hange menceritakan cerita masa lalu, saat dia hilda menjawab pertanyaannya di bawah sinar bulan dan bintang-bintang kecil.

"mungkin karena itu hilda menjadi emosi. dia tidak menyangka erwin melindunginya dengan cara yang sangat tidak dia inginkan."

levi dan hange langsung membereskan nampan mereka dan mengembalikannya ke dapur. setelah sarapan, anggota pasukan pengintai yang akan melakukan ekspedisi berkumpul untuk diberi pengarahan yang terakhir kalinya dan bersiap untuk berangkat.

sonder || erwinxocTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang