nineteen

988 138 3
                                        

tahap kedua rencananya berhasil. erwin dan regunya berjalan kembali ke kota atas. dibawah langit senja, hilda menunggu mereka disamping kudanya. erwin yang berjalan paling depan mempercepat langkah kakinya agar bisa melihat wajah hilda dengan jelas.

"bagaimana keadaan tuan gilbert?" tanyanya setelah hilda menyapanya dan teman satu regunya.

"baik-baik saja meskipun tidak sebaik ekspektasiku." erwin dapat melihat mata hilda yang masih sembab mencoba untuk tersenyum.

"jadi, mereka bertiga adalah orangnya?" hilda mengintip dari balik tubuh erwin yang besar. dia dapat melihat tiga orang yang sedang dijaga oleh temannya.

dua orang laki-laki yang lebih tua darinya dan seorang perempuan yang lebih muda darinya melihat hilda dengan tatapan was-was. pakaian mereka berantakan, namun, di wajah pria dengan tubuh paling kecil dan rambut berwarna hitam terdapat noda coklat seperti air lumpur.

"mike, kau apakan dia? ini. wajahmu masih kotor." hilda memberikan sapu tangan miliknya selagi dia dan mike berbincang sebentar.

"aku akan mencari kereta kuda untuk mereka." ucap erwin sebelum meninggalkan regunya.

pria yang ditawarkan sapu tangan olehnya masih belum menerimanya, mau tidak mau hilda mengelap noda pada wajah pria itu.

"jangan sentuh bos!" seorang gadis yang rambutnya diikat dua berusaha menjauhkan hilda dari pria yang hanya diam itu.

"eh? ahahaha. maaf-maaf." hilda melipat kembali sapu tangannya.

"siapa nama kalian?" tanya hilda dengan ramah. meskipun matanya masih sembab, dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya dan tetap tersenyum.

"levi." jawab pria bertubuh kecil dengan rambut hitam, sedangkan dua temannya yang lain terlihat terkejut saat levi menyebutkan namanya.

"farlan."

"isabel."

setelah mendengar nama-nama rekan barunya, hilda pun memperkenalkan dirinya dan sekali lagi memberikan sapu tangan miliknya kepada levi.

➖➖➖

hilda keluar dari ruang kerja keith setelah memberitahukan situasi yang akan datang dan saat ini dia sedang mempersiapkannya.

dia melihat erwin berdiri, sedang menunggunya. erwin sendiri masih belum berbicara banyak dengan hilda dan dia belum tahu apa yang akan hilda lakukan.

mereka berjalan bersama di koridor markas pasukan pengintai, tidak tahu akan kemana.

"mau minum bersamaku?" tanya erwin mencoba untuk menghibur hilda.

"hm? ah, maaf. besok fajar aku harus kembali ke hermiha."

"untuk apa?"

"mulai sekarang, dua hari seminggu aku akan pulang untuk mempersiapkan beberapa hal. mungkin ini pertama kalinya setelah sekian lama kepala keluarga bangsawan adalah seorang wanita." hilda menjawabnya dengan santai, seolah-olah semuanya berjalan baik-baik saja.

"kondisinya memburuk, hilda?" erwin menghentikan langkahnya. sejak lima tahun yang lalu, dia mempunyai hubungan pertemanan yang dekat dengan gilbert, entah itu perihal politik maupun pertemanan biasa.

hilda yang sadar erwin tertinggal di belakangnya, berhenti dan menoleh ke belakang. mereka berdua melihat mata satu sama lain, mata yang mengatakan bahwa hati mereka terluka mendengar orang yang dekat dengan mereka akan segera pergi.

"iya, sangat buruk. suatu keajaiban jika dia bertahan sampai tahun depan."

pandangannya kembali buram karena air mata. erwin melangkah mendekatinya, memeluk perempuan yang saat ini sedang rapuh.

erwin tahu betul bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang dia sayangi. namun, mungkin lebih menyakitkan saat tahu kapan kematian mereka daripada ditinggalkan secara tiba-tiba. dia membayangkan bagaimana perasaan hilda mulai malam ini. mungkin setiap malam dia tidak bisa berhenti membayangkan kepergian ayahnya yang tidak lama lagi.

"satu tahun terdengar lama, tapi sebenarnya hanya sebentar. yah, mungkin karena sibuk sehingga akan terasa sangat sebentar."

suaranya menjadi serak, hilda berusaha sebisanya untuk menahan air matanya.

erwin menarik hilda ke dalam pelukannya, membiarkan air mata perempuan yang sangat dia cintai membasahi seragamnya. mendengar isak tangisnya menyakitkan untuknya, namun yang lebih menyiksanya adalah saat dia harus melihat hilda menahan sakit di dalam hatinya.

erwin tetap memeluk hilda hingga hilda merasa lebih tenang. mereka tidak sadar ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.

➖➖➖

"oi, levi. apa-apaan tadi?" tanya farlan kepada sahabatnya itu. mereka sudah berada di kamar mereka setelah makan malam.

"apanya yang apa-apaan?"

"aku tidak pernah melihatmu memberikan namamu kepada sembarang orang."

"setuju!" isabel ikut menyauti dari sudut seberang. "tapi kakak tadi kelihatan seperti orang baik."

"kalau itu benar sih. tapi dia sepertinya sangat dekat dengan erwin smith." jawab farlan.

"lalu? ada apa?" isabel tidak paham arah percakapan farlan.

"bisa jadi dia bersikap seperti tadi karena mengawasi kita atas perintah erwin, kan?"

"ooohh! bisa jadi bisa jadi!"

"kalian sangat berisik. aku ingin jalan-jalan dulu. kalian tidurlah."

levi meninggalkan teman-temannya dan keluar dari kamar mereka, berjalan-jalan di markas pasukan pengintai.

markas tersebut sangat besar dan dia tidak tahu harus kemana, sampai langkah kakinya berhenti saat mendengar suara yang tidak asing baginya.

"kondisinya memburuk, hilda?" levi langsung mengenali suara bariton tersebut, erwin smith. sebenarnya levi tidak memiliki niatan untuk mendengarkan percakapan pribadi hilda, namun tubuhnya seolah-olah ingin mendengar suaranya lebih lama.

"satu tahun terdengar lama, tapi sebenarnya hanya sebentar. yah, mungkin karena sibuk sehingga akan terasa sangat sebentar."

levi dapat mendengar serak pada suara perempuan yang meminjamkannya sapu tangan tadi. dia tidak tahu apa yang sebenarnya dialami oleh hilda, namun mendengar tangisannya, entah kenapa mengingatkannya saat dia masih kecil. saat ibunya pergi meninggalkannya.

sonder || erwinxocTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang