thirty three

792 109 2
                                        

meskipun mereka berdua tidak mengucapkan sepatah kata kepada satu sama lain, pikiran mereka tetap berfokus pada ekspedisi.

seperti ekspedisi sebelum-sebelumnya, erwin fokus menembakkan suar sinyal berwarna untuk mengarahkan pasukannya. sedangkan hilda yang berada di belakangnya mulai merasakan sakit pada luka di perutnya. beruntung baginya karena tidak ada yang menyadari kondisinya yang mulai memburuk lagi.

formasi tengah yang dipimpin langsung oleh erwin memasuki hutan. setelah menemukan tempat yang sekiranya pas untuk menangkap targetnya, erwin memberhentikan pasukannya dan memerintahkan untuk menyiapkan perangkap sesuai dengan rencananya.

dengan luka yang masih menimbulkan rasa sakit, hilda masih membantu rekan-rekannya dan erwin menyadari kondisi hilda. dia berjalan mendekati hilda yang sibuk menyiapkan jebakan.

"apa? ini tidak melanggar kesepakatan kita, kan?"

belum sempat erwin mengutarakan isi pikirannya, hilda sudah memotongnya dengan dingin. anggota pasukan pengintai yang berada di sekitar mereka mendengar kalimat hilda. mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada komandan mereka dan hilda, tapi mereka menyadari suasana dingin diantara mereka berdua sejak ekspedisi di mulai.

setelah persiapan selesai, erwin langsung memberi perintah kepada pasukannya untuk bersiap di posisi yang telah ditentukan.

meskipun jaraknya tidak dekat dengan hilda yang berada di pohon seberang, erwin dapat melihat hilda bersender pada pohon sambil memegangi lukanya. wajah hilda yang semakin pucat pun dapat terlihat dengan jelas olehnya.

karena kesepakatannya dengan erwin sebelum mereka memulai ekspedisi, hilda tidak diperbolehkan untuk ikut menyerang para titan yang mulai memakan target mereka meskipun dia ingin sekali membantu rekan-rekannya. hilda menyadari ada yang aneh pada kejadian yang baru pertama kali dilihatnya. keinginannya untuk langsung memberitahukan erwin pun diurungkan karena dia yakin komandan cerdas itu pasti menyadarinya terlebih dahulu.

setelah erwin memerintahkan pasukannya untuk mundur karena misi mereka gagal, pasukan pengintai berkumpul untuk mengumpulkan tubuh rekan mereka yang telah gugur.

"hilda, kamu tidak apa-apa? wajahmu pucat sekali." tanya hange yang khawatir dengan kondisi hilda. hilda hanya mengangguk dengan pelan karena tubuhnya mulai terasa lemas. hilda diam-diam berharap agar erwin segera memberikan perintah untuk kembali.

"kalian berdua, memangnya tidak berperikemanusiaan, ya?!" teriakan dieter terdengar oleh hilda yang jaraknya tidak terlalu jauh oleh hilda. dari arah suara rekannya, hilda melihat erwin dan levi yang berjalan ke arahnya.

"hilda, kalau tidak kuat, istirahatlah di kereta kuda."

"aku baik-baik saja. segera beri perintah untuk kembali sebelum titan-titan itu mengejar kita."

pasukan pengintai langsung bergegas kembali ke dalam tembok setelah erwin memberikan perintah.

"cih, jahitannya..."

setelah sampai di markas pasukan pengintai, hilda langsung kembali ke ruangannya untuk memeriksa lukanya yang ternyata terbuka lagi.

seseorang tiba-tiba mengetuk pintunya dan hilda pun segera merapikan kemejanya yang tadi diangkatnya.

"hilda, aku masuk ya."

hilda mendengar suara hange dari balik pintu, membiarkan hange masuk ke ruangannya yang berantakan karena tadi dia sibuk mencari alat kesehatan.

"kenapa tidak ke ruang kesehatan saja?"

hilda tidak terkejut saat hange mengetahui kondisinya tanpa diberitahu olehnya. meskipun hange sangat berisik, dia merupakan orang yang tanggap.

"sedang tidak ingin bertemu dengan yang lain. ada apa kemari?"

"sesuai dugaanku! tunjukkan lukamu, akan kubantu."

hilda membiarkan hange menjahit lukanya yang terbuka dan mengeluarkan darah. dengan telaten hange menjahit luka tersebut.

"kamu belum cerita tentang luka ini, hilda. siapa yang menyerangmu?"

"manusia, kok."

"ughh, rahasia ya."

hange tidak melanjutkan pertanyaannya karena dia tahu berapa banyak dia bertanya kepada hilda, jika jawabannya adalah rahasia, maka hilda tidak akan menjawabnya.

setelah hange selesai mengobatinya, hilda langsung berdiri, berniat untuk langsung mengerjakan laporannya namun dilarang oleh hange dan menyuruhnya untuk segera beristirahat karena besok mereka akan ada rapat.

➖➖➖

seperti biasa, rapat dilaksanakan setelah jam sarapan. kali ini tidak ada perdebatan hebat antara erwin dan hilda lagi setelah kejadian kemarin.

hilda menyerahkan data para kadet ke-104 yang sudah dikelompokkan olehnya kepada erwin.

"female titan itu datang dari kanan, dan ini regu yang diberi informasi bahwa eren berada di kanan formasi."

erwin melihat beberapa lembaran kertas yang ditunjukkan oleh hilda. di ruangan tersebut hanya ada erwin, hilda, dan hange. mike dan nanaba ada urusan lain sedangkan levi ditugaskan oleh erwin untuk menjaga eren.

"hm, ini masih terlalu umum. kita harus mencari informasi lain." ucap hange yang sedang menggaruk kepalanya karena bingung.

"meskipun kita mencurigai para anggota baru, tetap saja kita harus bertanya langsung kepada mereka."

"sepertinya kita bisa memercayai teman dekat eren." usul erwin, membuat hilda dan hange terkejut.

"armin dan mikasa?"

"iya. kemarin, mereka berdua berhadapan langsung dengan target."

"tapi mereka terlalu lelah untuk ditanyai hal berat seperti ini."

"tidak perlu buru-buru, hange. aku akan memastikan brikade kepolisian tidak akan menangkap eren dalam waktu yang dekat."

"kamu akan ke markas mereka?"

hilda mengangguk. hange dan hilda langsung keluar dari ruang kerja erwin setelah dia mengakhiri rapat.

"ng? kamu mau kemana, hilda?"

"menyelesaikan laporan."

"dimana? mau kutemani?" hange tahu hilda dan erwin masih belum baikan dan karena itu hilda tidak mengerjakan laporannya di ruang kerja erwin, tidak seperti biasanya.

"perpustakaan. tidak usah, katamu kamu ingin bertemu dengan eren dan levi, kan?"

hilda akhirnya mengerjakan laporannya sendirian di perpustakaan. perpustakaan hari ini sepi karena sebagian besar pasukan pengintai sedang beristirahat dari ekspedisi kemarin.

saat matahari mulai terbenam, erwin menemukan hilda yang sedang tertidur diatas kertas-kertas yang berserakan. hilda masih memegang pena di tangan kirinya karena dia kidal, erwin pun mengambil pena tersebut dan menaruhnya di atas meja.

wajah hilda yang tertutupi oleh rambutnya pun dirapikan sedikit oleh erwin. seragam yang diletakkan oleh hilda di kursi sebelahnya diambil oleh erwin untuk menyelimuti hilda.

erwin tidak bisa lama-lama di perpustakaan itu karena masih ada urusan yang harus diselesaikannya. sebelum berjalan keluar meninggalkan hilda, erwin mengecup kening hilda dengan pelan, meninggalkan hilda bersama matahari yang mulai menghilang.

sonder || erwinxocTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang